Persatuan Front Perlawanan Palestina Tangkal Plot Rezim Zionis
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i128170-persatuan_front_perlawanan_palestina_tangkal_plot_rezim_zionis
Ketika rezim Zionis melancarkan perang psikologis masif terhadap hubungan antara Hamas dan Jihad Islam dalam beberapa hari terakhir, para pemimpin kedua gerakan Palestina ini menekankan persatuan dalam perang melawan rezim agresor Israel.
(last modified 2026-08-16T09:51:33+00:00 )
Aug 29, 2022 07:20 Asia/Jakarta

Ketika rezim Zionis melancarkan perang psikologis masif terhadap hubungan antara Hamas dan Jihad Islam dalam beberapa hari terakhir, para pemimpin kedua gerakan Palestina ini menekankan persatuan dalam perang melawan rezim agresor Israel.

Rezim Zionis baru-baru ini melancarkan perang tiga hari di Jalur Gaza, yang menyebabkan 44 warga Palestina, termasuk beberapa komandan perlawanan gugur. Strategi utama Israel dalam perang ini menargetkan para komandan dan anggota Jihad Islam Palestina.

Dengan strategi ini, rezim Zionis bertindak untuk menciptakan keretakan antara kelompok Palestina, dan strategi ini terus berlanjut. Dalam beberapa hari terakhir, media Zionis mencoba dengan segala kapasitasnya untuk menciptakan konflik antara gerakan Hamas dan Jihad Islam dengan menargetkan ruang bersama faksi-faksi perlawanan melalui penyebaran pernyataan palsu dan infaktual. Dengan cara ini, Israel menjalankan politik perpecahan antara Hamas dan Jihad Islam demi melemahkan perlawanan Palestina dan mewujudkan tujuan destruktifnya.

Menghadapi strategi rezim Zionis ini, kelompok perlawanan dan rakyat Palestina berusaha menunjukkan persatuan mereka melebihi sebelumnya. Hamas dan Jihad Islam mengadakan pertemuan bersama di Beirut, ibu kota Lebanon. Delegasi Hamas termasuk: Saleh al-Arouri, Wakil Kepala Kantor Hamas di Lebanon, bersama Khalil al-Hayya dan Zaher Jabarin selaku anggota biro politik Hamas, bertemu dengan Ziyad al-Nakhalah, Sekretaris Jenderal gerakan Jihad Islam Palestina di Beirut.

Pada pertemuan ini, gerakan Hamas dan Jihad Islam, selain menekankan persatuan di lapangan, menekankan pada kerjasama keamanan dan militer untuk mencegah agresi dan serangan rasis dan brutal rezim Zionis. Hasil pertemuan ini adalah pertemuan dua gerakan, Hamas dan Jihad Islam, memadamkan rencana jahat rezim agresor Quds untuk menciptakan perpecahan internal di Jalur Gaza.

Dalam hal ini, Khalil Al-Hayya, Kepala Kantor Hubungan Arab dan Islam Hamas, menunjukkan bahwa "musuh kita adalah satu dan kita semua bersatu melawannya", Ia menegaskan, "Pertemuan Jihad Islam dan Hamas di Beirut, memiliki arti penting. Sebab, perlawanan adalah kepentingan bersama, dan kami tekankan pada penguatan ruang operasi bersama dalam pertemuan ini,".

 

 

Mustafa al-Sawaf, penulis dan analis politik dalam hal ini mengungkapkan, "Pertemuan yang mempertemukan Hamas dan Jihad Islam diperlukan sebagai tanggapan terhadap kebohongan rezim Zionis. Pertemuan ini menegaskan persatuan langkah antara Hamas dan Jihad Islam,".

Analis politik lain, Ibrahim al-Madhoun menjelaskan, "Pertemuan Hamas dan Jihad Islam bukanlah pertemuan biasa. Tetapi mempertemukan para pemimpin politik, militer dan keamanan, serta membawa kabar baik kepada rakyat Palestina bahwa perlawanan bersatu, dan untuk tujuan ini rencana aksi bersama dan langkah-langkah politik sedang dirumuskan oleh kedua gerakan,".

Bersamaan dengan pertemuan para pemimpin Hamas dan Jihad Islam, ribuan warga Palestina juga menggelar rapat umum dan menekankan persatuan dalam menghadapi rezim Zionis. Pertemuan publik serentak Palestina dan kelompok perlawanan diadakan di lima alun-alun Gaza, Jenin, Rafah, Damaskus dan Beirut. Ratusan pemimpin Palestina dan kelompok politik dan militer serta keluarga Syuhada menghadiri upacara ini, dan menekankan perlunya komitmen dan kesetiaan semua warga Palestina terhadap jalan perlawanan yang telah ditempuh syuhada Palestina.

Berbagai pertemuan politik dan publik ini menunjukkan bahwa warga Palestina memiliki keyakinan yang mendalam mengenai persatuan sebagai kunci keberhasilan Palestina melawan rezim Zionis. Persatuan ini juga menjadi penyebab ketakutan Israel terhadap bangsa Palestina.(PH)