Mengapa Pengungsi Suriah Kecewa setelah Kembali ke Negara Mereka?
Feb 08, 2025 17:43 Asia/Jakarta
Parstoday – Kantor berita Inggris, Reuters, melaporkan memburuknya kondisi kehidupan di Suriah, bagi para pengungsi negara ini yang baru saja kembali ke negaranya setelah Bashar Assad jatuh.
Reuters menulis, “Kondisi mengenaskan kehidupan di Suriah, setelah pengalaman perang selama 13 tahun, bagi orang-orang yang kembali, telah berubah menjadi sebuah kekecewaan yang pahit.”
Bukti-bukti di lapangan dari seorang pengungsi Suriah, bernama Ahmed Al Sheikh, menunjukkan banyak orang semacam dirinya yang kecewa setelah menyaksikan kenyataan hidup di sebuah negara korban perang.
Ahmed Al Sheikh, 35 tahun, delapan tahun lalu meninggalkan rumahnya di kota Aleppo, menuju ke wilayah Turki, dan sekarang sudah kembali ke rumahnya.
“Saya terkejut menyaksikan kondisi mengenaskan yang di luar bayangan saya ini. Sekarang hampir tidak ada koneksi internet, dan air serta listrik terus menerus mati,” ujarnya.
Menurut Reuters, Turki sebagai anggota NATO, dalam krisis terbaru di Suriah, dan setelah para pemberontak bersenjata pimpinan Abu Muhammad Al Julani, menduduki Damaskus, berperan sebagai makelar kekuasaan yang memiliki pengaruh ekonomi dan diplomatik terhadap para penguasa di pemerintahan baru Suriah.
Reuters menambahkan, “Kehadiran sekitar tiga juta warga Suriah, di wilayah Turki, telah berubah menjadi sebuah masalah sensitif. Banyak dari mereka berhadapan dengan gelombang anti-imigran di Turki, dan mereka merasa sebagai tamu tak diundang. Beberapa dari mereka segera kembali ke Suriah, setelah pemberontak menggulingkan Assad.”
Direktur Asosiasi Pengungsi di Turki, Kadri Gungorur, menyinggung keluhan terkait minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan mengatakan, “Banyak pengungsi Suriah, yang bersemangat untuk kembali ke negaranya setelah Assad jatuh, tapi semangat itu memudar seiring berjalannya waktu.”
Ahmed Al Sheikh, adalah salah satu warga Suriah, yang gembira mendengar kabar berkuasanya pemberontak bersenjata atas Suriah, dan bersemangat untuk kembali ke negaranya. Ia bahkan sempat bermimpi memperbaiki rumahnya di Aleppo.
Akan tetapi sekarang ia menyaksikan kondisi buruk kehidupan di Suriah, tidak adanya lapangan kerja, tidak adanya kesempatan pendidikan, dan akhirnya ia kecewa serta berputus asa.
Menurut sumber-sumber media Suriah, setelah pemberontak bersenjata berkuasa di Suriah, selain kondisi yang semakin memburuk, tingkat kejahatan termasuk pembunuhan, dan perampokan di Suriah, juga mengalami peningkatan tajam.
Belum lama ini, media-media Suriah, mengumumkan 90 persen dari realitas yang terjadi di Suriah, tidak dipublikasikan di media, dan serangan terhadap kelompok minoritas di Suriah, terutama di wilayah-wilayah pesisir pantai, oleh anasir-anasir teroris, meningkat.
Sehubungan dengan ini, beberapa waktu lalu situs berita Al Maloomah menulis, “Setiap 10 menit terjadi sebuah penculikan, teror atau perampokan di Suriah.” (HS)