Menyoroti Kerusakan Parah Gaza, dan Tantangan-Tantangan Rekonstruksi
Feb 09, 2025 15:43 Asia/Jakarta
Parstoday – Saat Presiden Amerika Serikat, bersikeras melakukan pembersihan etnis atas rakyat Palestina, di Gaza, dengan dalih rekonstruksi, masalah mekanisme dan waktu rekonstruksi Gaza, menjadi semakin jelas dengan memperhatikan tingkat kerusakannya.
Usulan Presiden AS Donald Trump, yang memicu protes luas rakyat Palestina, bahkan para pejabat Eropa, meliputi pemindahan paksa lebih dari dua juta warga Palestina, dengan janji akan ditempatkan sementara di negara lain.
Riyad Mansour, Duta Besar Palestina, di PBB mengatakan, “Jalur Gaza, adalah milik rakyat Palestina, dan bukan sebidang tanah terbengkalai yang bisa dimiliki siapa pun. Hari-hari itu terjadi dalam sejarah masa lalu.”
Sehubungan dengan ini, surat kabar Wall Street Journal menulis, “Berhasil ataupun tidak proyek Presiden AS bagi Gaza, skala dan biaya rekonstruksi Gaza, yang seluas Philadelphia, tetaplah sangat besar. Perkiraan-perkiraan yang ada masing-masing berbeda.”
Sementara PBB mengumumkan, “Sekitar 70 persen bangunan di Gaza, hancur atau rusak, dan lebih dari 245.000 unit rumah hancur. Perang di Jalur Gaza, telah menciptakan kerusakan yang setara dengan kerusakan-kerusakan akibat perang kota dalam sejarah modern. Orang-orang Palestina, mengatakan lokasi tempat tinggal mereka sudah tidak jelas, jalan-jalan retak dan terbelah dan bom-bom yang tidak meledak tercecer di semua tempat. Diperkirakan pembersihan sekitar 50 juta ton sampah perang selama berbulan-bulan pemboman, akan memakan waktu lebih dari satu dekade.”
70 Persen Lahan Pertanian di Gaza Rusak
Sekitar 40 persen wilayah Jalur Gaza, adalah lahan pertanian. Sebelum perang, para petani beternak, dan menanam buah-buahan serta sayur-sayuran termasuk stroberi, zaitun, dan terung. Menurut laporan PBB, hingga bulan September 2024, sekitar 70 persen lahan pertanian di Gaza, rusak.
Pusat-pusat kebudayaan, dan pelabuhan Gaza, dihancurkan padahal sebelum perang, Gaza, adalah salah satu kota budaya dan perdagangan yang ramai. Saat ini dari 37.000 bangunan yang ada di Gaza, sebagian besarnya rusak.
Menurut keterangan UNESCO, jumlah ini mencakup 70 pusat kebudayaan penting seperti Masjid Besar Omari dan Gereja Porphyrius, yang merupakan gereja tertua di dunia. Di sekitar pelabuhan Gaza, pernah berdiri hotel-hotel yang menjadi tempat menginap sejumlah kecil wartawan asing, dan tim penyelamat yang diperbolehkan masuk ke Gaza. Foto-foto satelit memperlihatkan kerusakan parah pelabuhan, dan pesisir pantai Gaza, termasuk hotel-hotel yang hancur akibat pemboman Israel.
Perusakan Sistem Pengelolaan Limbah Rumah Tangga
Rusaknya sistem pengelolaan limbah rumah tangga di Gaza, berujung dengan menumpuknya sampah. Diperkirakan hingga 70 persen fasilitas air, limbah, dan kebersihan di utara Gaza, rusak.
Di kota Gaza, kerusakan yang dialami oleh fasilitas-fasilitas ini menembus angka 90 persen, termasuk pabrik desalinasi di pesisir pantai dimana penduduk mengandalkan pompa listrik untuk memenuhi penampungan air, dan sistem listrik yang juga rusak parah.
Para ahli mengatakan untuk merekonstruksi Gaza, diperlukan dana puluhan miliar dolar. Perkiraan PBB menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi wilayah ini ke level sebelum perang, membutuhkan waktu 350 tahun.
Pelarangan Masuk Bahan Bangunan ke Gaza
Pelarangan masuk bahan bangunan ke Jalur Gaza, merupakan salah satu kekhusunan blokade Israel, sejak pertama kali blokade ini diterapkan pada tahun 2007. Pada tahap pertama yang muncul adalah masalah puing-puing reruntuhan.
Berdasarkan prediksi UN-Habitat, dan Program Lingkungan PBB, UNEP, pada bulan Desember 2024, terdapat 50 juta ton puing dan sampah di Gaza, 17 kali lebih banyak dari seluruh sampah yang dihasilkan dari seluruh perang di kawasan Asia Barat sejak tahun 2008.
PBB memperkirakan diperlukan waktu 20 tahun untuk membersihkan sampah-sampah tersebut, dan membutuhkan dana 909 juta dolar. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merekonstruksi Gaza, adalah masalah yang sepenuhnya tergantung pada kondisi politik. (HS)