Bagaimana Sanksi Mengancam Kehidupan Akademis Israel?
-
Boikot Israel
Pars Today - Media Zionis mengatakan bahwa boikot terhadap universitas-universitas Israel telah menandai "tahun yang sangat buruk" bagi lembaga-lembaga pendidikan ini dan bahwa masa depan tetap suram.
Meskipun gencatan senjata di Gaza telah terjadi, sanksi akademis terhadap universitas-universitas Israel terus berlanjut.
Surat kabar Times of Israel mengakui bahwa berbagai universitas di seluruh dunia telah menemukan cara-cara kreatif untuk menghindari hukum yang ada sehingga mereka dapat memboikot universitas-universitas Israel tanpa membayar denda.
Pada awal November, Universitas Federico II, universitas negeri tertua di dunia dan salah satu yang terbesar di Eropa, menandatangani resolusi untuk memboikot kerja sama dengan lembaga-lembaga Israel. Boikot itu terjadi beberapa minggu setelah gencatan senjata dalam perang dua tahun antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza ditetapkan.
Resolusi ini menyatakan bahwa universitas "berharap bahwa gencatan senjata akan mengarah pada titik balik nyata di jalan menuju perdamaian yang langgeng dan stabil". Berdasarkan keputusan ini, universitas Federico II mengumumkan bahwa mulai sekarang mereka akan “menangguhkan penandatanganan perjanjian baru apa pun untuk kerja sama ilmiah dan pendidikan dengan universitas, lembaga, dan perusahaan publik dan swasta Israel”.
Pernyataan itu dikeluarkan setelah permintaan dari lebih dari 230 profesor dan anggota fakultas di universitas ini. Menurut Times of Israel, tindakan ini merupakan kelanjutan dari langkah yang telah diambil universitas lain di seluruh dunia selama perang Gaza melawan Israel selama dua tahun.
Boikot akademik meningkat setelah 7 Oktober
Boikot akademik terhadap lembaga dan profesor Israel telah meningkat tajam sejak 7 Oktober 2023. Boikot semacam itu telah dilarang di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi universitas di seluruh dunia telah menemukan cara baru untuk meminimalkan hubungan mereka dengan lembaga pendidikan dan universitas Israel. Para pejabat Israel telah memperingatkan bahwa situasi akan memburuk pada tahun 2025.
“Tahun lalu sudah merupakan tahun yang sangat buruk dalam hal sanksi, dan pada awal tahun 2025 keadaan menjadi lebih buruk lagi,” kata Emmanuel Nahshon, kepala Kelompok Kerja Anti-Sanksi Asosiasi Universitas Israel. Organisasi ini mencatat 300 sanksi pada tahun 2023, setelah serangan 7 Oktober, dan jumlah itu meningkat menjadi 700 pada tahun berikutnya.
Sanksi itu telah menargetkan ratusan peneliti Israel dan telah memberlakukan pembatasan pada kerja sama dengan lembaga dan program internasional. Nahshon mengatakan bahwa meskipun gencatan senjata di Gaza pada akhirnya dapat meringankan sanksi global terhadap Israel, sedikit perbaikan yang dapat diharapkan dalam jangka pendek.
Ia menambahkan bahwa ini hanyalah sanksi yang terang-terangan, dan ada juga sanksi diam-diam, seperti ketika makalah para peneliti Israel tidak ditanggapi di jurnal dan konferensi internasional, atau ketika para peneliti Israel tidak diundang ke konferensi di bidang mereka.
Puluhan universitas Eropa memboikot Israel. Bahkan kebutuhan finansial universitas-universitas Eropa akan dana Israel pun tidak mencegah universitas-universitas itu untuk melakukan sanksi.
Israel telah mencoba memperingatkan banyak universitas Eropa terhadap sanksi yang lebih luas dengan ancaman finansial. Namun, sanksi itu belum dikurangi hingga nol, hanya cakupannya yang dipersempit. Menurut Kementerian Inovasi, Sains, dan Teknologi Israel, sekitar 38 persen penelitian Israel dilakukan bekerja sama dengan akademisi Eropa.
Banyak perusahaan teknologi Israel, termasuk perusahaan industri militer rezim, memiliki kontrak yang menguntungkan dengan universitas. Sebagian besar kolaborasi ini dilakukan dalam kerangka program Uni Eropa seperti Horizon Europe dan Erasmus, yang memberikan dukungan finansial yang luas untuk penelitian dan pendidikan. Boikot formal terhadap Israel berarti kehilangan miliaran euro dalam pendanaan penelitian dan pengembangan.
Di sisi lain, di Eropa, langkah-langkah untuk memutus akses Israel ke dana penelitian Uni Eropa dimulai pada awal tahun 2025, tetapi meskipun telah dilakukan banyak konsultasi dengan lobi Israel, upaya itu tetap tidak membuahkan hasil.
Ketua kelompok kerja penanggulangan boikot akademik di "Asosiasi Universitas Israel" mengakui bahwa terlepas dari ketergantungan finansial universitas-universitas Eropa, beberapa universitas itu, termasuk Universitas Ghent di Belgia, telah mengumumkan bahwa komitmen mereka untuk memboikot Israel lebih penting daripada menerima dana Uni Eropa. Menurut pejabat Zionis ini, lebih dari 30 universitas Eropa - terutama di Belgia, Belanda, Italia, dan Spanyol - telah memilih untuk memboikot Israel di tingkat institusional.
Sanksi terselubung terhadap Israel
Para pejabat Israel mengakui bahwa universitas-universitas di seluruh dunia mengambil alih tanggung jawab boikot terhadap Israel dari pundak para administrator universitas dengan menciptakan cara-cara baru, termasuk pembentukan "komite etik," sementara pada saat yang sama mencapai tujuan mereka untuk memutuskan hubungan dengan Israel.
Menurut Nahshon, universitas-universitas di seluruh dunia mengabaikan para peneliti Israel atau menghindari kerja sama bersama dengan mereka tanpa memberikan alasan. Ia menekankan bahwa tindakan-tindakan ini dilakukan secara "terorganisir" di berbagai universitas di seluruh dunia.
Universitas-universitas AS menghindari aturan. Hukum yang ada dan tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap universitas-universitas Amerika telah mempersulit banyak universitas AS. Namun, menurut para pejabat Israel, universitas-universitas ini memboikot para peneliti dan profesor rezim Zionis dengan cara lain. Jajak pendapat menunjukkan bahwa banyak profesor Zionis telah dikucilkan atau diberhentikan.
Terlepas dari upaya hukum dan pembuatan berbagai program untuk memperkuat kerja sama antara universitas-universitas Amerika dan Israel, sebagian besar ahli percaya bahwa sanksi itu tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Nahshon percaya bahwa Israel “kemungkinan akan menghadapi isolasi selama bertahun-tahun”. Ia menekankan bahwa rezim Zionis tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan kondisi ini dan mengembangkan pasar tandingan. “Yang harus kita lakukan adalah beradaptasi dengan situasi ini dan mengembangkan alat yang lebih baik untuk menghadapinya.”(sl)