Akhirnya Netanyahu dalam Pidatonya Ungkap Rencana “Israel Raya”
-
PM Israel, Benjamin Netanyahu
Pars Today – Perdana Menteri rezim Zionis, dalam sebuah konferensi pers, secara terbuka memaparkan strategi baru Tel Aviv untuk membentuk “sabuk keamanan” di Jalur Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah selatan—sebuah strategi yang menurut para analis merupakan bagian dari upaya rezim tersebut untuk mewujudkan rencana lama “Israel Raya” dan memperluas pendudukan di kawasan.
Menurut laporan IRNA pada Rabu (1/4/2026) yang mengutip harian Maariv, Benjamin Netanyahu dalam konferensi tersebut menyatakan bahwa “operasi militer masih berlanjut” dan bahwa tentara Israel akan “terus memperkuat zona keamanan” di sekitar perbatasannya—meliputi Jalur Gaza, Lebanon selatan, dan sebagian Suriah selatan.
Ia menegaskan bahwa tentara Israel kini “menguasai lebih dari 50 persen Jalur Gaza” dan telah “mencapai kemajuan penting” di Lebanon selatan dan Suriah. Netanyahu berkata: “Kami telah menciptakan zona keamanan yang mendalam melampaui perbatasan kami. Di Gaza, kami menguasai lebih dari setengah wilayah Jalur Gaza; di Suriah, dari puncak Gunung Hermon (Jabal al‑Sheikh) hingga Yarmouk; dan di Lebanon, zona penyangga luas yang menetralkan ancaman Hizbullah dan mengurangi risiko serangan rudal antitank ke Israel.”
Perdana Menteri rezim Zionis itu, dengan mengabaikan hukum internasional dan tindakan pendudukan, menyebut pembentukan sabuk-sabuk keamanan tersebut sebagai “pencapaian di medan perang” dan secara tersirat menyinggung rencana yang bertujuan memperluas pendudukan serta mewujudkan gagasan “Israel Raya”—konsep lama yang telah lama dibahas dalam lingkaran keamanan dan politik rezim tersebut, dan kini diwujudkan melalui operasi militer di tiga front.
Kebijakan ekspansionis ini juga ditekankan dalam pernyataan terbaru Yisrael Katz, Menteri Pertahanan rezim Zionis, yang mengatakan bahwa tentara Israel “tidak akan mengizinkan sekitar 600 ribu warga Lebanon yang dievakuasi dari wilayah perbatasan untuk kembali” hingga “keamanan penduduk Israel utara terjamin.” Katz menambahkan bahwa Tel Aviv bermaksud mempertahankan kendali penuh atas zona keamanan hingga Sungai Litani.
Dalam bagian lain pidatonya, Netanyahu menyinggung “aliansi baru dengan negara-negara penting di kawasan,” dan menyatakan bahwa beberapa pemerintah Arab sedang berdiskusi tentang kemungkinan “berperang di sisi Israel melawan Iran.”
Harian Maariv mengutip bahwa Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan “pembicaraan rahasia” dengan para pemimpin Arab dan memperingatkan mereka bahwa “Iran berusaha menggulingkan pemerintahan mereka.”
Sejalan dengan itu, Yechiel Leiter, Duta Besar Israel di Washington, menyatakan bahwa negara-negara Teluk dalam beberapa bulan terakhir “semakin mendekat” ke Israel. Ia menyebut Uni Emirat Arab dan Bahrain sebagai “mitra yang lebih kuat,” serta mengatakan bahwa hubungan dengan Arab Saudi, Oman, dan Kuwait juga “sedang menguat,” seraya menambahkan bahwa “mereka telah meminta bantuan Israel.”
Dalam kelanjutan pidatonya, Netanyahu kembali menyebut Iran sebagai poros utama ancaman kawasan dan mengatakan bahwa perang AS dan Israel melawan Iran “belum berakhir.” Ia mengklaim bahwa Tel Aviv dan Washington selama sebulan terakhir telah “melancarkan serangan besar” terhadap Iran, menekan sistem politiknya, dan memperoleh “pencapaian strategis besar.”
Netanyahu, yang menurut sejumlah pengamat menimbulkan krisis demi mempertahankan kekuasaan dan menghindari proses hukum, dalam fantasi politiknya kembali mengklaim bahwa Israel telah “menjadi kekuatan regional bahkan global,” serta “mengubah realitas Asia Barat.”
Namun, dalam bagian penting pidatonya, untuk pertama kalinya Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa Israel “menanggung kerugian besar” dalam operasi bersama dengan Amerika Serikat melawan Iran, meskipun ia juga mengklaim bahwa Tel Aviv telah meraih “keberhasilan strategis penting.” Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan Zionis, dan beberapa media menuduhnya “berbohong.”
Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, dengan tajam mengkritik pernyataan Netanyahu dan mengatakan bahwa Perdana Menteri “mengabaikan kenyataan.” Ia menambahkan: “Saat Israel berduka atas kematian tentaranya di Lebanon dan kota-kota utara berada di bawah serangan terus-menerus, dia masih berbicara tentang ‘pencapaian besar’ dan ‘mengubah Asia Barat.’”
Lapid menegaskan: “Satu-satunya hal yang berubah adalah masyarakat Israel sendiri – Anda telah memecah-belah kami dari dalam.”
Harian Maariv menulis bahwa Netanyahu “menyadari Trump sedang mendekati akhir perang,” dan hal itu memengaruhi perilaku serta retorikanya.
Dalam analisis rinci mengenai pidato tersebut, Maariv menyebut bahwa ketika Netanyahu membahas isu Iran, “tampak jelas tanda-tanda ketegangan dan tekanan fisik,” sementara upayanya menampilkan ketenangan tampak “artifisial dan gagal.” Surat kabar itu menambahkan: “Bahasa tubuh Netanyahu lebih dari apa pun memperlihatkan tekanan berat, stres mendalam, dan perasaan kalah.”
Menurut laporan itu, ketika membicarakan “ancaman Iran terhadap dunia,” Netanyahu tampak gagap—yang menurut para analis adalah “tanda pertentangan batin antara apa yang diucapkan dan apa yang sebenarnya ia yakini.” Selain itu, ketika berbicara tentang “keberhasilan di Gaza,” ia tampak gelisah dan bergerak dari satu sisi ke sisi lain—menunjukkan bahwa “tubuhnya tahu ancaman belum benar-benar tersingkir.”
Menurut laporan IRNA, Netanyahu berusaha menutupi kegagalan militer dan politiknya melalui pertunjukan kekuasaan, namun bahasa tubuhnya—dari kegugupan hingga gerakan gelisah—menyuguhkan citra yang sangat berbeda: seorang pemimpin di bawah tekanan domestik besar, dilanda kekalahan militer berat dalam agresinya terhadap Iran, serta tampak sangat tegang dan marah. (MF)