Media Israel Akui Perang Gaza Memperlemah Militer dan Memperdalam Krisis Internal
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i192466-media_israel_akui_perang_gaza_memperlemah_militer_dan_memperdalam_krisis_internal
Sejumlah jurnalis dan analis Israel mengakui bahwa perang yang berkepanjangan telah menyebabkan melemahnya kemampuan militer, meningkatnya isolasi internasional, memperdalam perpecahan sosial, mengurangi daya tangkal, serta memicu krisis legitimasi di dalam negeri. Mereka menilai Israel pasca Operasi Badai Al-Aqsa tidak lagi sama seperti sebelumnya.
(last modified 2026-07-03T09:04:03+00:00 )
Jul 03, 2026 15:12 Asia/Jakarta
  • Media Israel Akui Perang Gaza Memperlemah Militer dan Memperdalam Krisis Internal

Sejumlah jurnalis dan analis Israel mengakui bahwa perang yang berkepanjangan telah menyebabkan melemahnya kemampuan militer, meningkatnya isolasi internasional, memperdalam perpecahan sosial, mengurangi daya tangkal, serta memicu krisis legitimasi di dalam negeri. Mereka menilai Israel pasca Operasi Badai Al-Aqsa tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Kanal 12 Israel melaporkan bahwa bertepatan dengan hari ke-1.000 perang dan operasi militer Israel di Gaza, sejumlah jurnalis dan analis senior stasiun televisi tersebut menerbitkan sebuah catatan khusus berjudul "Israel Is No Longer the Israel It Once Was".

Dalam laporan tersebut, mereka menggambarkan dampak perang berkepanjangan di kawasan yang dinilai telah mengikis berbagai aspek kekuatan Israel, mulai dari menurunnya legitimasi internasional, memburuknya krisis sosial dan politik, hingga terbatasnya kemampuan militer negara tersebut.

Analis senior Channel 12, Dana Weiss, menyinggung perkembangan sejak 7 Oktober 2023 atau setelah Operasi Badai Al-Aqsa.

"Dalam sekejap, seluruh dunia kami runtuh. Sejak saat itu, Israel bukan lagi Israel yang dulu," ujarnya.

Menurut Weiss, doktrin keamanan Israel yang selama ini bertumpu pada perang singkat, tidak terhindarkan, dan mendapat dukungan internasional, kini berubah menjadi perang yang telah berlangsung selama 1.000 hari di tujuh front tanpa strategi yang jelas untuk mengakhirinya.

Ia juga menyebut perang di Gaza telah membawa dampak lain, seperti menurunnya penghargaan terhadap nilai kehidupan manusia, meningkatnya jumlah korban jiwa di kalangan militer, bertambahnya kasus penghindaran wajib militer, serta bergesernya nilai-nilai dasar masyarakat Israel. Selain itu, menurutnya, Israel kini semakin terisolasi di panggung internasional dan hanya mengandalkan dukungan sebagian kalangan di Amerika Serikat.

Sementara itu, koresponden militer Channel 12, Nir Dvori, mengakui keterbatasan kemampuan militer Israel. Menurutnya, perang selama 1.000 hari di Gaza menunjukkan bahwa Israel tidak memiliki kapasitas untuk mempertahankan perang yang bersifat berkepanjangan atau menguras sumber daya.

Analis lainnya, Ohad Hemo, memperingatkan bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Israel saat ini bukan hanya berasal dari luar, melainkan juga dari perpecahan internal dan polarisasi yang terus berlanjut di wilayah pendudukan.

Di sisi lain, koresponden politik Channel 12, Dafna Liel, mengkritik pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan bahwa meskipun terdapat tuntutan luas dari masyarakat agar dibentuk komisi penyelidikan independen, Netanyahu hingga kini dinilai masih menghalangi dimulainya penyelidikan atas kegagalan yang terjadi pada 7 Oktober 2023.

Liel juga memperingatkan bahwa ketika militer Israel sendiri telah menyuarakan kekhawatiran mengenai kelelahan personel dan potensi melemahnya struktur organisasi, Netanyahu dinilai masih enggan mengambil tanggung jawab maupun melakukan reformasi. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat risiko terulangnya krisis serupa dengan peristiwa 7 Oktober tetap terbuka.