Dua Tahun Tanpa Nasrallah: "Jalan Perlawanan Terus Berlanjut"
-
Syahid Sayid Hassan Nasrallah, mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon
Pars Today - Bersamaan dengan peringatan dua tahun syahidnya Sayid Hassan Nasrallah, mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, banyak pengagumnya dengan hadir di lokasi syahidnya di Dhahiyah Selatan Beirut, menegaskan bahwa kenangannya semakin hidup di hati dan pikiran mereka dan jalan jihadnya terus berlanjut dengan kuat.
Melansir Pars Today yang mengutip IRNA, Minggu, 27 September 2026, Syahid Sayid Hassan Nasrallah, mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, pada tanggal 27 September 2024 dalam serangan agresif Israel ke Dhahiyah Selatan Beirut, gugur syahid. Israel membayangkan dengan mensyahidkan Sekjen Hizbullah, perlawanan Lebanon akan sangat melemah, tetapi apa yang terlihat dari hari-hari setelah syahidnya Sayid Hassan Nasrallah hingga hari ini dari perjuangan dan keteguhan perlawanan, merupakan bukti jelas bahwa jalan jihad Sekretaris Jenderal Syahid perlawanan Lebanon berlanjut dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.
Setelah syahidnya Sayid Hassan Nasrallah, Hizbullah segera memasuki proses pemilihan pemimpin baru dan Hasyim Shafieddin dari tokoh-tokoh yang sangat dekat dengan Syahid Nasrallah, diajukan sebagai kandidat utama dan pilihan terkuat untuk menggantikannya. Namun ia juga pada 26 Oktober 2024 (5 Aban 1403) dalam serangan Israel ke Lebanon selatan syahid, akibatnya Syekh Naim Qassem, wakil Syahid Hassan Nasrallah, terpilih sebagai Sekretaris Jenderal.
Kehidupan Syahid Nasrallah yang Penuh Berkah
Sayid Hassan Nasrallah lahir pada tahun 1960 di kota Al-Bazauriyeh dari wilayah Tirus di Lebanon selatan. Ia menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya dan pendidikan menengah pertama di lingkungan bernama Sin al-Fil di Beirut timur. Ia menyelesaikan tingkat SMA di desa Al-Bazauriyeh di Lebanon selatan dan pada tahun 1976, pada usia 16 tahun pergi ke kota Najaf Asyraf di Irak untuk pendidikan hauzah, dan setelah dua tahun tinggal dan belajar di kota ini, kembali ke Lebanon dan mulai mempelajari ilmu hauzah di Madrasah Al-Imam Muntazhar di Baalbek. Pendorong utamanya untuk pergi ke Najaf dan mempelajari ilmu-ilmu Islam adalah Sayid Muhammad Gharawi, Imam Jumat kota Tirus.
Sayid Hassan Nasrallah pada tahun 1989 pergi ke Qom untuk menyelesaikan pelajaran hauzah, tetapi setelah satu tahun, karena intensitas ketegangan di Lebanon, atas permintaan Dewan Hizbullah kembali ke Beirut.
Syahid Nasrallah dengan menyelesaikan masa SMA dan bersamaan dengan dimulainya perang saudara Lebanon masuk ke Gerakan Amal dan beraktivitas sebagai penanggung jawab organisasi Gerakan Syiah Amal di desa Al-Bazauriyeh. Ia saat belajar di Hauzah Imam Muntazhar juga beraktivitas organisasi di Gerakan Amal yang pada saat itu, terpilih sebagai anggota kantor politiknya.
Dalam pertemuan Sayid Hassan Nasrallah pada tahun 1360 [1981] dengan Imam Khomeini (ra) di Tehran, Imam Khomeini (ra) menunjuknya sebagai wakilnya dalam urusan hisbah dan penerimaan urusan syar'i di Lebanon. Sayid Hassan Nasrallah saat menerima surat keputusan ini berusia 21 tahun dan merupakan orang pertama dari para pemimpin Hizbullah Lebanon yang menerima keputusan semacam itu dari Imam Khomeini (ra).
Sayid Hassan Nasrallah sejak awal pembentukan Hizbullah beraktivitas di dalamnya. Pada tahun 1985 dengan pindah ke Beirut memikul tanggung jawab yang lebih berat. Tanggung jawab serius pertama Nasrallah adalah mempersiapkan pasukan perlawanan dan mendirikan inti-inti militer serta sekaligus wakil Ibrahim Amin dari perwakilan Hizbullah di parlemen Lebanon. Pada tahun 1987 bersamaan dengan pembentukan komite eksekutif Hizbullah, Nasrallah terpilih sebagai ketua komite. Pada saat yang sama ia juga masuk ke dewan pengambilan keputusan Hizbullah dan merupakan pelaksana tanggung jawabnya.
Sekjen Hizbullah dan Kelanjutan Aktivitas Perjuangan Melawan Israel
Setelah diterornya Sayid Abbas Mousavi oleh helikopter Israel pada 16 Februari 1992 (27 Bahman 1370), dengan konsensus dewan pengambilan keputusan Hizbullah, Hassan Nasrallah terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Hizbullah.
Sayid Hassan Nasrallah sejak awal memimpin Hizbullah Lebanon mengambil sikap serius dalam menghadapi Israel. Satu tahun setelah kepemimpinannya pada tahun 1993, 26 tentara Israel tewas dalam konflik kedua pihak oleh Hizbullah. Perang Hizbullah melawan Israel untuk memukul mundur Israel dari Lebanon selatan berlanjut. Jumlah tentara Israel yang tewas pada tahun 1997 mencapai 40 orang. Dengan memburuknya kondisi Israel, ia terpaksa meninggalkan tanah Lebanon pada tahun 2000.
Kemenangan Hizbullah dalam mengeluarkan Israel dari Lebanon selatan dan syahidnya putra Sayid Hassan Nasrallah dalam perang pada tahun 1997, menyebabkan popularitas Sayid Hassan Nasrallah di Lebanon selatan.
Syahid Nasrallah sepanjang tahun-tahun kepemimpinannya di Hizbullah, dengan mengambil posisi yang jelas dan tegas berdiri melawan Israel dan menekankan penolakan terhadap dominasi asing atas kawasan, dan akhirnya dalam kelanjutan jalan jihad yang ia mulai, dalam serangan agresif Israel ke Dhahiyah Selatan Beirut mencapai derajat syahid.
Jiwa sebagai Tebusan untuk Nasrallah
Jaringan Al-Manar dalam sebuah laporan tentang peringatan dua tahun syahidnya Sayid Hassan Nasrallah mengumumkan: Pengagum Syahid Nasrallah hadir di lokasi syahidnya untuk mengatakan jika mungkin menghadiahkan umur, kami semua akan mempersembahkan umur kami untukmu.
Salah satu yang hadir dalam acara ini kepada reporter Al-Manar mengatakan, "Kami datang ke lokasi syahidnya Sayid Nasrallah untuk menyatakan bahwa perlawanan tetap berdiri dan jalan yang dimulai Nasrallah tidak berakhir dengan syahidnya dan berlanjut dengan keteguhan."
Dalam kaitan ini Yahya Ghadar, Sekretaris Jenderal Majelis Global Dukungan Perlawanan pada peringatan dua tahun syahidnya Sayid Hassan Nasrallah dan Hasyim Shafieddin mengatakan, "Syahid Nasrallah mengakhiri jalan jihadnya sebagai pemimpin yang inspiratif dan luar biasa dengan syahid. Ia dengan meneladani Imam Ali (as) dan Imam Husain (as) serta Nabi dan Ahlulbait hidup sebagai pejuang yang teguh."
Situs berita Al-Ahd juga menulis, Emile Lahoud, Presiden sebelumnya Lebanon, pada peringatan syahidnya Sayid Hassan Nasrallah dengan merujuk pada kehidupan dan aktivitas politiknya mengatakan, "Pada peringatan syahidnya saudara tercinta kami, Sayid Hassan Nasrallah, tidak ada pilihan selain mengingat kehidupannya yang penuh berkah dan tahap-tahap historis serta menentukan itu. Ia selalu dan masih menjadi sumber kehormatan dan kebanggaan. Nasrallah meskipun memiliki jalan-jalan untuk hidup dan menjauh dari tanahnya, memilih syahid di samping pasukan perlawanan.
Ia dengan menyatakan bahwa dua tahun setelah syahidnya Nasrallah, keteguhan pasukan perlawanan dan solidaritas pendukungnya masih berlanjut, menambahkan, "Rakyat bahkan untuk sesaat pun tidak kehilangan iman mereka pada cita-cita yang Nasrallah dan banyak orang lain syahid di jalannya; cita-cita yang menjadi sasaran para penjahat Zionis, di bawah keheningan global dan persekongkolan sebagian arus domestik."(Sail)