Pemerintah Sementara Suriah Bantah Bergabung dengan Perang Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i198172-pemerintah_sementara_suriah_bantah_bergabung_dengan_perang_yaman
Pars Today - Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah membantah berita yang diterbitkan tentang keikutsertaan negara ini dalam perang terhadap Yaman dan menambahkan bahwa kebijakan Suriah di kawasan bertumpu pada stabilitas, perdamaian, dan kerja sama, bukan pada membuka front baru.
(last modified 2026-10-08T04:33:57+00:00 )
Okt 08, 2026 11:31 Asia/Jakarta
  • Pasukan Suriah
    Pasukan Suriah

Pars Today - Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah membantah berita yang diterbitkan tentang keikutsertaan negara ini dalam perang terhadap Yaman dan menambahkan bahwa kebijakan Suriah di kawasan bertumpu pada stabilitas, perdamaian, dan kerja sama, bukan pada membuka front baru.

Melansir IRNA dari jaringan Al-Mayadeen, Kamis, 08 Oktober 2026, Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah dengan menerbitkan pernyataan menambahkan bahwa segala kerja sama militer dengan negara-negara mitra, hanya akan dilakukan melalui saluran resmi dan kerangka bilateral yang ada.

Berdasarkan laporan ini, Direktorat Media Asing di Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah dengan menerbitkan pernyataan sebagai respons terhadap rumor yang diajukan tentang keikutsertaan negara ini dalam perang terhadap Yaman mengumumkan bahwa posisi Damaskus dalam berdiri di samping Arab Saudi untuk menghadapi ancaman yang menargetkan keamanan negara itu, jelas.

Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah menambahkan, "Prioritas Damaskus adalah Suriah, di mana melalui rekonstruksi negara, penguatan lembaga, dan kerja sama dengan mitra kami, kami mewujudkan upaya rekonstruksi."

Pernyataan ini menambahkan bahwa kebijakan Suriah di kawasan bertumpu pada stabilitas, perdamaian, dan kerja sama, bukan pada membuka front baru.

Sebelumnya beberapa media Arab memberitakan kajian keikutsertaan Suriah dalam perang melawan Yaman oleh pejabat pemerintah sementara negara ini.

Arab Saudi pada tahun 2015 setelah serangan militernya ke Yaman melakukan blokade darat, udara, dan laut terhadap negara miskin ini dan Amerika pada Oktober 2016 bergabung dengan blokade ini dan kemudian mengklaim telah mundur dari keputusan tersebut.

Sanaa pada 5 Juli 2026 memutuskan untuk mematahkan blokade ini dan selanjutnya Arab Saudi membombardir Bandara Sanaa yang mendapat respons tegas dari angkatan bersenjata dan selanjutnya dengan melakukan operasi-operasi, dengan memukul mundur milisi Yaman yang didukung Arab Saudi, berhasil meraih kemenangan besar termasuk menguasai kota pelabuhan dan bersejarah "Mokha" serta wilayah penting, strategis, dan pesisir Kahbub di selatan negara ini.

Hal ini sangat meningkatkan kendali tentara Yaman atas Selat Bab al-Mandab yang strategis sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Pasukan tentara Yaman juga merebut kembali sejumlah pulau strategis dari milisi yang didukung Amerika, yang melengkapi penguasaan atas jalur pelayaran ini.

"Kementerian Informasi pemerintah sementara Suriah membantah berita tentang keikutsertaan Suriah dalam perang melawan Yaman. Pernyataan: kebijakan Suriah di kawasan bertumpu pada stabilitas, perdamaian, dan kerja sama, bukan membuka front baru; segala kerja sama militer dengan negara mitra hanya melalui saluran resmi dan kerangka bilateral yang ada."(Sail)