Senjata Inggris dan Kejahatan Saudi di Yaman
Partai Liberal Demokrat Inggris menilai kerja sama yang terjalin antara pemerintah konservatif London dengan rezim Al Saud sebagai tindakan yang memalukan.
Tom Brake, juru bicara partai liberal demokrat Inggris hari Sabtu (22/10) menyerukan supaya kementerian pertahanan negaranya menghentikan pelatihan pilot Saudi, dan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap penjualan senjata kepada Riyadh.
Selama ini, Inggris tidak hanya menjual jet tempur kepada rezim Al Saud, tapi juga melatih pilot Arab Saudi. Padahal menurut pengakuan Brake, banyak fakta menunjukkan agresi militer Saudi di Yaman menyasar warga sipil. Oleh karena itu, pemerintah Inggris harus menghentikan peran sertanya dalam kejahatan yang dilakukan Arab Saudi di Yaman.
Statemen juru bicara partai liberal demokrat Inggris ini bukan pernyataan pertama yang disampaikan politisi London dalam mereaksi sepak terjang pemerintah Inggris yang mendukung Riyadh di perang Yaman.
Sebelumnya, awal Mei 2016, komisi pembangunan internasional Majelis Rendah Inggris dalam surat yang dilayangkan kepada Philip Hammond yang menjabat sebagai menteri luar negeri Inggris, mengkritik dukungan London terhadap Riyadh di Yaman, dan menyerukan peninjauan ulang penjualan senjata kepada rezim Al Saud.
Sejak Maret 2015 hingga kini, koalisi Arab yang dipimpin Saudi, dengan lampu hijau AS melancarkan agresi militer di negara tetangganya sendiri. Serangan militer tersebut menewaskan lebih dari 10.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Ironisnya, negara-negara Barat semacam Inggris yang mengklaim sebagai pengusung bendera penegakkan hak asasi manusia menutup mata atas segala bentuk kejahatan yang dilakukan rezim Al Saud di Yaman. Pemerintah konservatif Inggris menjalin hubungan militer sangat erat dengan Riyadh melalui pamasokan persenjataan dan alutsista disertai pelatihan personilnya.
Data yang dipublikasikan gerakan kampanye menentang penjualan senjata menunjukkan Arab Saudi menjadi pembeli senjata dan alutsista Inggris yang terbesar. Sejak tahun 2010, nilai penjualan senjata dan alutsista Inggris ke Arab Saudi menembus 6,7 miliar pounds. Selain jet tempur canggih, London juga menjual roket dan bom kepada Riyadh. Penjualan senjata dan alutsista Inggris kepada Arab Saudi meningkat signifikan setelah meletus perang Yaman.
Selama ini pemerintah konservatif London dikritik berbagai kalangan, terutama organisasi HAM internasional, karena menutup mata atas berbagai laporan kejahatan Arab Saudi di Yaman yang menggunakan senjata pasokan negara-negara Barat, termasuk Inggris. London hingga kini terus melanjutkan penjualan senjata dan alutsista yang dipergunakan rezim Al Saud untuk membantai warga negara tetangganya sendiri.
Selama ini, deretan fakta yang tidak bisa dibantah mengenai jatuhnya korban jiwa dari warga sipil dalam jumlah yang sangat besar akibat agresi militer Arab Saudi yang menggunakan senjata Inggris, tidak membuat pemerintah London membuka mata. Pasalnya, penjualan senjata dan alutsista tersebut menghasilkan keuntungan yang melimpah ruah bagi pemerintah Inggris.
Gelombang kritik dan kecaman terus mengalir deras dari berbagai kalangan terhadap pemerintah Inggris. Dari organisasi HAM internasional hingga Majelis Rendah Inggris dan politisinya, sudah menghujani pemerintah konservatif London dengan kritik, dan desakan untuk mengakhiri dukungannya terhadap kejahatan rezim Al Saud. Lalu, mengapa hingga kini tidak pernah didengar London, dan dijalankan seruannya. Inilah salah satu bentuk standar ganda Inggris tentang penegakkan HAM.(PH)