Saudi Tolak Solusi Krisis Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i25900-saudi_tolak_solusi_krisis_yaman
Riyadh dan pemerintah boneka Abd Rabbuh Mansur Hadi yang telah dibubarkan rakyat Yaman, menentang prakarsa gencatan senjata yang disampaikan menteri luar negeri AS mengenai solusi krisis di Yaman.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 16, 2016 12:01 Asia/Jakarta
  • Saudi Tolak Solusi Krisis Yaman

Riyadh dan pemerintah boneka Abd Rabbuh Mansur Hadi yang telah dibubarkan rakyat Yaman, menentang prakarsa gencatan senjata yang disampaikan menteri luar negeri AS mengenai solusi krisis di Yaman.

Abdul Malik Al-Mekhlafi, wakil perdana menteri kabinet terguling Yaman mengabarkan penolakan presiden buron pro-Riyadh, Abd Rabbuh Mansur Hadi, terhadap prakarsa gencatan senjata dari menteri luar negeri AS.

Padahal sebelumnya, John Kerry hari Senin (14/11) mengabarkan tercapainya kesepakatan antara pihak Ansarullah dan partai Kongres Yaman dengan pihak Abd rabbuh Mansur Hadi bersama delegasi Riyadh mengenai gencatan senjata sejak 17 November dan dimulainya pembentukan pemerintahan persatuan nasional Yaman hingga akhir tahun 2016.

Sementara itu, pejabat kementerian luar negeri Oman menyatakan, dalam pertemuan dengan raja Oman, Sultan Qabus tercapai kesepakatan mengenai komitmen terhadap 10 poin kesepakatan 10 April 2016, dan kesepakatan penghentian perang sejak 17 November sebagai syarat yang harus dipatuhi kedua belah pihak.

Sultan Oman menyambut kesepakatan tersebut dan menyampaikan optimismenya bahwa langkah ini akan mengawali dimulainya perundingan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Pada 10 April lalu digelar perundingan damai di Kuwait yang menegaskan komitmen selua pihak Yaman untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata. Tapi kesepakatan tersebut bernasib seperti perundingan sebelumnya di Swiss yang tidak membuahkan hasil akibat pelanggaran yang dilakukan Arab Saudi.

Sejak 20 bulan lalu hingga kini, koalisi Arab pimpinan Saudi melancarkan agresi militer terhadap Yaman yang menewaskan setidaknya 10.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Selain itu, agresi militer tersebut memporak-porandakan infrastruktur Yaman.