Warga Sipil Suriah, Korban Serangan Koalisi Pimpinan AS
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i26629-warga_sipil_suriah_korban_serangan_koalisi_pimpinan_as
Kelompok-kelompok teroris yang memperoleh dukungan finansial dan senjata dari Barat dan sekutunya melancarkan serangan mortir ke perumahan penduduk Suriah dan menyebabkan beberapa warga sipil tewas dan sejumlah lainnya terluka.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 25, 2016 16:33 Asia/Jakarta
  • Warga Sipil Suriah, Korban Serangan Koalisi Pimpinan AS

Kelompok-kelompok teroris yang memperoleh dukungan finansial dan senjata dari Barat dan sekutunya melancarkan serangan mortir ke perumahan penduduk Suriah dan menyebabkan beberapa warga sipil tewas dan sejumlah lainnya terluka.

Di sisi lain, serangan jet-jet tempur Amerika Serikat ke tempat penampungan pengungsi Suriah di utara Raqqa juga merenggut nyawa 10 orang dan melukai puluhan lainnya.

 

Serangan mortir kelompok teroris yang menamakan diri sebagai Jaishul Islam ke beberapa wilayah sekitar timur Damaskus, ibukota Suriah pada Kamis (24/11/2016) telah merenggut nyawa tujuh warga sipil dan melukai beberapa lainnya.

 

Suriah menjadi arena utama unjuk kekuatan kelompok-kelompok teroris Takfiri. Negara ini juga berubah menjadi gelanggang utama perang kekuatan AS dengan Rusia di tingkat internasional dan medan penting Arab Saudi dan sekutunya untuk memerangi poros Muqawama di kawasan Timur Tengah.

 

Banyak kelompok teroris yang saat ini aktif di Suriah, di mana sebagian dari mereka datang dari berbagai negara dunia untuk membuat keonaran di negara Arab ini atas dukungan Barat dan sekutunya.

 

Kesamaan dari semua kelompok teroris di Suriah adalah tindakan kekerasan mereka meskipun tingkat kekerasannya berbeda. Namun yang pasti, warga tak berdosa di negara ini adalah korban utama dari kekerasan tersebut.

 

Satu hal yang perlu diketahui bahwa salah satu penyebab meningkatnya kekerasan kelompok-kelompok teroris terhadap warga Suriah adalah mereka tidak memiliki ikatan emosi dan kebangsaan dengan warga negara ini, sehingga mereka tidak ragu untuk membunuh warga Suriah dan menghancurkan infrastrukturnya.

 

Contoh mengenai hal itu adalah serangan mortir kelompok teroris Jaishul Islam pada hari Kamis di sekitar kota Damaskus, di mana kelompok ini terbentuk dari 55 kelompok teroris yang berafiliasi dengan FSA (Free Syrian Army) yang anggota-anggotanya berasal dari berbagai negara asing.

 

Melihat transformasi di Suriah, maka bisa dipastikan bahwa kekerasan teroris akan terus melanda negara ini jika mereka tidak segera diusir atau diberantas. Kekalahan kelompok-kelompok teroris di berbagai medan tempur di Aleppo membuat mereka melampiaskan kekalahannya itu terhadap warga sipil dan mengkambinghitamkan pemerintah Suriah.

 

Di sisi lain, keberhasilan militer Irak dalam operasi pembebasan kota Mosul dari pendudukan kelompok teroris Daesh (ISIS) telah mendorong para anggota kelompok teroris Takfiri ini untuk melarikan diri ke berbagai wilayah Suriah.

 

Poin penting di sini adalah rakyat Suriah tidak hanya menjadi korban kejahatan kelompok-kelompok teroris, namun juga menjadi korban kebijakan kekuatan-kekuatan dunia yang anti-pemerintah Damaskus.

 

Kekuatan-kekuatan yang mengklaim diri sebagai pemberantas terorisme ini membentuk apa yang disebut sebagai Koalisi Internasional Anti-Daesh sejak Agustus 2014. Namun faktanya, mereka justru bertindak sewenang-wenang dalam krisis Suriah dan tidak serius untuk memberantas teroris.

 

Pemberantasan terorisme oleh kekuatan-kekuatan itu akan masuk akal jika dilakukan melalui koordinasi pemerintah Suriah. Namun kenyataannya, koalisi pimpinan AS ini mengabaikan pemerintah Damaskus dan tentunya koalisi ini akan menemui kegagalan dalam pemberantasan terorisme.

 

Warga Suriah telah berulang kali menjadi korban serangan koalisi pimpinan AS dengan dalih salah sasaran, dan kasus terbaru adalah serangan jet-jet tempur AS di tempat penampungan pengungsi di utara Raqqa yang menewaskan 10 orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini terjadi ketika tujuan pembentukan koalisi tersebut adalah untuk memberantas teroris, bukan untuk menarget warga sipil.

 

Suriah memerlukan model seperti Irak untuk memberantas terorisme. Pemerintah Damaskus harus dijadikan sebagai pelaksana pemberantasan terorisme dan negara-negara yang mengklaim diri sebagai pemberantas teroris harus bertindak melalui kanal-kanal pemerintah Suriah. Jika hal ini dilakukan, maka kelompok-kelompok teroris akan bisa diberantas.

 

Jika pemberantasan terorisme di Suriah dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah negara ini maka kemungkinan untuk pemanfaatan lebih dari potensi rakyat Suriah sendiri akan lebih besar seperti yang dilakukan di Irak. Melalui cara ini, maka pemberantasan terorisme akan dilakukan serius dan kemungkinan untuk sukses pun akan lebih besar. (RA)