Alasan Rusia-Cina Memveto Resolusi Gencatan Senjata Suriah
Rusia dan Cina memveto resolusi Dewan Keamanan PBB terkait pelaksanaan gencatan senjata di Aleppo, Suriah selama satu pekan.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin mengatakan bahwa anasir-anasir teroris Suriah selalu memanfaatkan gencatan senjata untuk menyusun kembali kekuatan mereka.
"Jeda seperti ini telah digunakan oleh teroris untuk memperbarui amunisi mereka dan memperkuat posisinya. Ini hanya akan memperburuk penderitaan warga sipil," tegasnya.
Pemerintah Rusia percaya bahwa militer Suriah sekarang telah mengontrol sebagian besar daerah di Aleppo dan gencatan senjata saat ini tidak memiliki banyak arti dan tidak dapat diperpanjang, karena teroris akan menggunakan itu untuk memperbaiki kekuatan.
Negara-negara Barat sengaja menyerahkan rancangan tentang penghentian operasi kontra-teroris di Aleppo dengan tujuan untuk melindungi teroris. Dengan adanya dukungan dari Barat, teroris juga terus menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dan tetap menyerang infrastruktur sipil di Suriah dan juga koridor-koridor kemanusiaan.
Dalam kondisi seperti ini, opini publik menekankan agar negara-negara Barat mengesampingkan pendekatan politis soal Suriah dan bergabung dalam upaya melawan ancaman terorisme di negara itu serta mencari solusi politik untuk mengakhiri konflik.
Transformasi Suriah dan manuver-manuver AS menunjukkan bahwa Washington tidak memiliki tujuan lain selain memperlemah militer dan pemerintah Damaskus serta memperkuat teroris.
Proposal gencatan senjata bertujuan untuk menghentikan operasi kontra-teroris oleh militer Suriah dan mewujudkan peluang untuk pengiriman bantuan militer tambahan kepada teroris. Selama ini, AS mempersenjatai teroris dengan berbagai jenis senjata dengan kedok menyalurkan bantuan kepada rakyat Suriah.
Jelas bahwa tindakan dan skenario AS hanya akan menguntungkan teroris dan memperkuat mereka di berbagai daerah Suriah. Pada prinsipnya, ada keraguan serius tentang kejujuran Washington dalam menegakkan gencatan senjata dan meredam konflik di Suriah.
Manuver AS di Suriah menunjukkan bahwa perilaku Washington selama jeda perang tidak sejalan dengan tujuan sesungguhnya dari gencatan senjata, dan masalah ini memberikan ruang kepada teroris untuk melanjutkan kejahatannya di Suriah.
Sebelum ini, gencatan senjata dimanfaatkan oleh teroris dukungan AS untuk menduduki wilayah Khan Touman di barat daya Aleppo. Perkara ini semakin mempertegas bahwa kesepakatan gencatan senjata yang melibatkan AS, tidak bisa dipercaya.
Oposisi Suriah dan pendukung mereka sebenarnya memandang gencatan senjata sebagai taktik untuk menyusun kembali kekuatan dan meningkatkan nilai tawar di hadapan pemerintah Damaskus. Sejalan dengan taktik itu, teroris akan mengintensifkan serangannya selama pengumuman gencatan senjata.
Selama Barat masih memberikan dukungan kepada teroris di Suriah, maka mereka tidak akan pernah berkomitmen dengan kesepakatan gencatan senjata. Oleh karena itu, Rusia dan Cina memutuskan memveto draft resolusi Barat untuk gencatan senjata di Aleppo. (RM)