Peran AS di Balik Serangan Daesh Duduki Palmyra
Kementerian pertahanan Rusia mengeluarkan statemen yang menyatakan bahwa AS sengaja menghentikan operasi militer di provinsi Raqqa demi membuka jalan bagi kelompok teroris untuk menguasai kembali kota Palmyra.
Menteri pertahanan Rusia, Sergei Lavrov mengungkapkan bahwa perundingan dengan AS mengenai masalah Suriah mengalami kebuntuan. Lavrov mengatakan, kemungkinan serangan Daesh ke Palmyra dilakukan dengan bantuan AS, dan bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap oposisi di Aleppo.
Tampaknya, statemen terbaru Rusia mengenai lampu hijau AS terhadap Daesh untuk menguasai kembali kota bersejarah Palmyra, di daerah gurun yang terletak di provinsi Homs, berkaitan dengan aksi mendadak dan tak terduga Daesh.
AS dan sekutunya yang menghentikan aksi militer terhadap Daesh di provinsi Raqqa memberikan kesempatan kepada kelompok teroris itu untuk mengirimkan pasukannya dari Raqqa ke Palmyra. Dengan bertumpu pada aksi bom bunuh diri, Daesh kembali melancarkan aksi serangan teror ke kota Palmyra untuk menduduki kota kuno itu.
Washington secara tidak langsung menyampaikan dukungannya terhadap serangan Daesh tersebut. Langkah ini diambil setelah AS dan sekutu Arab serta Barat gagal mencegah kekalahan fatal kelompok teroris di wilayah timur Aleppo. AS dan mitranya yang selama ini mendukung kelompok posisi bersenjata Suriah berupaya untuk melunturkan kemenangan militer Suriah dalam perang menumpas teroris di Aleppo.
Serangan Daesh terhadap kota Palmyra bertujuan supaya militer Suriah dan sekutunya kembali memusatkan perhatian untuk merebut kota bersejarah itu. Dengan cara itu, perhatian Damaskus akan terpecah dua, dan tekanan terhadap kelompok teroris, terutama di Aleppo berkurang. Strategi ini dilakukan AS untuk menunjukkan bahwa Washington memegang kartu yang bisa mempengaruhi perimbangan militer dalam krisis Suriah.
Meskipun demikian, Barat tahu persis nilai dikuasainya kembali Palmyra tidak bisa disejajarkan dengan kemenangan militer Suriah dalam perang dengan kelompok teroris di timur Aleppo, dan pembebasan kota strategis itu dari cengkeraman kelompok teroris, terutama Front Al-Nusra. Sementara itu, militer Suriah dan pendukungnya kini tengah mempersiapkan serangan besar untuk merebut kembali Palmyra, dan diprediksi Daesh tidak akan berdaya menghadapi serangan udara dan darat pasukan pasukan Suriah.
Serangan Daesh ke Palmyra menunjukkan adanya koordinasi yang terjalin erat antara kelompok teroris ini dengan AS. Masalah ini, sekali lagi mengindikasikan kebenaran fakta bahwa Daesh dikendalikan oleh Washington. Masalah tersebut berulangkali telah disampaikan berbagai negara, terutama Rusia. Sejatinya, AS memainkan peran vital dalam membidani kelahiran dan meluasnya Daesh di Suriah. Bahkan setelah terbentuknya koalisi internasional anti-Daesh yang dipimpin Washington, tujuan dibentuknya aliansi ini bukan untuk menumpas kelompok teroris yang bertentangan dengan klaim gedung Putih selama ini.
Tujuan AS membentuk koalisi internasional anti-Daesh, bukan untuk menumpas kelompok teroris itu, tapi menggunakannya sebagai alat untuk meraih tujuan politik Gedung Putih. AS terus melanjutkan dukungannya terhadap kelompok teroris di Suriah. Bahkan, baru-baru ini presiden AS, Barack Obama mengeluarkan instruksi pengiriman senjata dan alutsista seperti roket anti-udara untuk mempersenjatai kelompok teroris moderat versi Washington.(PH)