UNESCO Respon Penghancuran Monumen Bersejarah Tadmor
Organisasi Pendidikan, Ilmu pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyebut penghancuran peninggalan bersejarah kota Tadmor (Palmyra) Suriah oleh kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) sebagai sebuah kejahatan perang.
Seperti dilansir Alalam, Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO dalam pernyataannya pada Jumat (20/1/2017) menilai kelanjutan perusakan terhadap monumen bersejarah kota Tadmor oleh teroris Daesh sebagai kerugian besar bagi rakyat Suriah dan umat manusia.
Ia mengatakan, pukulan baru terhadap warisan budaya –di mana merupakan kelanjutan tindakan anti-budaya oleh para ekstremis yang menarget kehidupan manusia dan monumen bersejarah– telah merampas masa lalu dan masa depan rakyat Suriah.
Bokova menegaskan, perlindungan terhadap warisan budaya dan monumen bersejarah merupakan perlindungan terhadap kehidupan umat manusia.
Sebelumnya, Maamoun Abdul Karim, Direktur Jenderal Urusan Barang Antik dan Museum Suriah pada Jumat mengatakan, teroris Daesh telah menghancurkan bangunan segi empat (Tetrapylon), bangunan bujur sangkar dengan 16 tiang dan roman amphitheater di kota Tadmor.
Foto satelit yang diambil pada Jumat juga menunjukkan adanya penghancuran terhadap beberapa bangunan dan monumen bersejarah di kota Tadmor.
Teroris Daesh menduduki kota Tadmor dari Mei 2015-Maret 2016. Militer Suriah membebaskan kota tersebut dari pendudukan Daesh pada Maret 2016, namun teroris Takfiri ini menduduki kembali kota bersejarah ini pada Desember 2016.
Monumen-monumen bersejarah Tadmor yang telah berusia 2000 tahun ini merupakan salah satu pusat budaya terpenting dunia dan tercatat dalam Daftar Warisan Dunia. (RA)