Dampak Praktek Luas Korupsi Petinggi Israel
-
Benyamin Netanyahu
Polisi rezim Zionis Israel untuk ketiga kalinya menginterogasi Perdan Menteri Benyamin Netanyahu terkait berkas korupsi dan suap. Netanyahu sebelumnya telah diinterogasi dua kali.
Mantan perdana menteri Ehud Olmert beberapa waktu lalu diadili dengan dakwaan korupsi dan dijatuhi vonis kurungan dua tahun. Sementara mantan menteri peperangan Ehud Barak juga dililit sejumlah kasus korupsi. Mantan presiden Moshe Kastav juga diganjar tujuh tahun penjara karena sejumlah kasus pelecehan seksual dan dakwaan lain. Hampir seluruh petinggi Israel terlibat berbagai skandal dan penyidikan berkas ini mengindikasikan betapa dalamnya kerusakan di tubuh rezim ilegal ini.
Menyusul proses penyidikan berkas praktek korupsi dan pencucian uang oleh perdana menteri Israel dan luasnya domain protes di Palestina pendudukan terhadap Netanyahu, potensi tumbangnya kabinet Netanyahu dan penyelenggaraan pemilu dini parlemen semakin kuat.
Sejumlah partai parlemen di Israel menggulirkan potensi kuat pemilu dini sebelum waktunya. Di raport perdana menteri Israel cenderung menunjukkan kegagalannya ketimbang kesuksesan, mulai dari tingginya inflasi dan penangguran, tingkat kemiskinan tinggi, maraknya aksi bunuh diri dan tindakan amoral di kehidupan masyarakat termasuk dampak dari kegagalan ini.
Selain itu, posisi Israel yang terus goyah di dunia mendorong berbagai faksi di parlemen khususnya rival Netanyahu berpikir membubarkan parlemen dan menggelar pemilu dini. Di kondisi seperti ini, penyidikan skandal Netanyahu menjadi sebuah agenda kerja. Pengguliran skandal dan berkas korupsi di Israel serta penyidikan sandiwara biasanya terjadi di saat friksi politik dan perang kekuasaan semakin intens.
Transformasi di Israel menunjukkan posisi Benyamin Netanyahu semakin buruk, khususnya dengan diselenggarakannya pemilu dini parlemen pada Maret 2015 yang ditujukan untuk memulihkan posisinya ditingkat politik yang semakin goyah.
Sepertinya dengan kian banyaknya kasus, skandal dan protes atas kegagalan Netanyahu menyelesaikan kendala rezim ini, sepertinya ia tidak memiliki pilihan kecuali menyelenggarakan pemilu dini. Hal ini menunjukkan posisi Netanyahu di pentas politik semakin memburuk. Padahal instabilitas di Israel dan berbagai skandal para pemimpin Tel Aviv semakin mempercepat keruntuhan rezim penjajah al-Quds. (MF)