5. Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Ayah Dan Ibu (2)
-
Ibu dan anak
Kutukan Ibu Zamakhsyari salah seorang ulama besar. Kakinya patah. Suatu waktu ada yang bertanya mengenai sebab kakinya yang patah.
Zamakhsyari menjawab, “Ketika aku masih kecil, aku menangkap burung gereja, aku cabuti bulu sayapnya dan aku ikat kakinya dengan benang. Suatu hari burung itu melarikan diri dan masuk ke dalam sebuah lubang. Aku mengejarnya dan sebagian benang yang terikat di kakinya tertinggal di luar lubang. Aku menariknya sampai satu kakinya patah. Melihat kejadian ini, ibuku sangat marah dan berkata, ‘Semoga Allah mematahkan kakimu, sebagaimana engkau mematahkan kakinya binatang yang tidak bisa berbicara dan tak berdosa ini!’ Ketika usiaku mencapai remaja, dalam perjalanan ke Bukhara aku terjatuh dari kuda dan kakiku patah. Meski sudah berobat berkali-kali tetap tidak ada gunanya. Akhirnya harus diamputasi.” (Keifar Kerdar wa Padashe A’mal, jilid1, hal 13)
Pengaruh Doa Ayah
Dinukil dari Mulla Muhammad Taqi Majlisi yang mengatakan, “Di sebagian malam, setelah selesai mengerjakan salat tahajud, saya mengalami sebuah kondisi dan saya tahu, bila saya berdoa dalam kondisi ini pasti terkabulkan. Saya berpikir, doa apa yang harus saya ucapkan dan apa yang harus saya minta dari Allah, ternyata tiba-tiba muncul suara tangisan Muhammad Baqir dari ayunannya. Saya mengucapkan, “Ya Allah! Bihaqqi Muhammad wa Ali Muhammad Saw, jadikan anak ini sebagai penyebar agama dan penyebar hukum Khairul Mursalin dan sukseskanlah dia pada taufik-Mu yang tak terbatas.”
Tidak diragukan bahwa pengaruh doa itulah sehingga keluarlah semua hasil karya yang penuh berkah dan sumbangsih dari ulama besar ini. Meski beliau mengurusi semua urusan, namun tidak pernah meninggalkan sama sekali kewajiban dari sisi penghambaan dan akhlak; seperti ikut serta dalam menyalati jenazah, pergi bertamu dan menyelesaikan urusan orang-orang Mukmin. Pengabdiannya kepada ajaran Ahlul Bait Rasulullah Saw sedemikan rupa sehingga Abdul Aziz Dehlavi dalam buknya Tuhfah mengatakan, “Bila ajaran Ahlul Bait Rasulullah Saw disebut sebagai ajaran Majlisi, tidak salah, karena kemajuannya bersumber darinya.” (Mardan-e Elm Dar Meidan-e Amal, hal 117)
Akrab Dengan Ayah dan Ibu Lebih Baik Dari Jihad
Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw, “Aku sangat menyukai jihad di jalan Allah.”
Rasulullah Saw berkata, “Untuk itu, maka berjihadlah di jalan Allah. Karena sesungguhnya bila engkau terbunuh, maka engkau hidup di sisi Allah dan akan mendapatkan rezeki. Bila engkau mati, maka pahalamu ada pada Allah dan bila engkau kembali dengan selamat, maka akan terhapus dosa-dosamu seperti hari ketika engkau dilahirkan dari ibumu.
Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Saya punya ayah dan ibu yang sudah tua. Mereka sangat akrab dengan saya dan tidak suka saya pergi dari mereka.”
Rasulullah Saw bersabda, “Kalau begitu tinggallah bersama mereka. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Keakraban ayah dan ibumu dalam sehari semalam, lebih baik dari jihad selama satu tahun.” (Gonahan-e Kabireh, jilid 1, hal 131)
Jerih Payah Ibu Tidak Bisa Ditebus
Sayid Qutb dalam tafsir Fi Zhilal al-Quran menukil dari Rasulullah Saw bahwa ada seorang lelaki sedang melakukan thawaf sambil memanggul dan mentawafkan ibunya. Dia saat itu melihat Rasullah Saw. Kepada Rasulullah Saw dia berkata, “Apakah dengan pekerjaan ini aku telah memenuhi hak ibuku?”
Rasulullah Saw bersabda, “Tidak. Bahkan tidak bisa menebus salah satu jeritannya saat melahirkanmu. (Tafsir Namuneh, jilid 12, hal 80)
Pesan Imam Zaman af Terkait Ayah
Agha Sayid Mousavi Najafi yang terkenal dengan nama “Hindi” salah seorang ulama yang bertakwa dan dia sebagai imam salat jamaah di makam Amirul Mukminin as menukil dari Syeikh Baqir putra Syeikh Hadi Kazhimaini tetangga Najaf Asyraf dimana dia ini adalah orang yang dipercaya dan bekerja sebagai pembersih di kamar mandi umum.
Tukang pembersih di kamar mandi ini punya ayah yang sudah tua. Dia benar-benar mengabdi kepada ayahnya. bahkan dia yang menyiapkan air untuk bersuci dan menunggunya sampai ayahnya kembali dan mengantarkan kembali ke tempatnya. Dia senantiasa merawat ayahnya kecuali ketika malam Rabu. Karena pada malam rabu dia harus pergi ke masjid Sahlah dan tinggal di sana sampai pagi. Oleh karena itu dia pada malam itu tidak mengabdi kepada ayahnya. Namun setelah beberapa lama dia tidak lagi ke masjid Sahlah. Dia ditanya, mengapa engkau tidak lagi pergi ke masjid Sahlah?
Dia berkata, “Ketika Rabu keempat puluh waktu tenggelamnya matahari aku tidak bisa pergi. Pada waktu itu aku hanya keluar dari kota dan bergerak tanpa teman. jaraknya tidak sampai sepertiga perjalanan lagi, bulan mulai menampakkan cahayanya. Pada saat itu juga aku melihat seorang Arab menunggangi kuda datang ke arahku. Aku bergumam, mungkin ini seorang perampok akan menelanjangiku. Ketika dia sampai kepadaku, dia berbicara dengan bahasa Arab badui dan bertanya, “Engkau mau pergi ke mana? Aku menjawab, “Masjid Sahlah.” Dia berkata, “Apakah engkau punya makanan?” Aku menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Engkau punya. Masukkan tanganmu ke dalam sakumu, engkau akan tahu.” Aku berkata, “Tidak ada apa-apa.” Dia berkata, “Ada.”
Aku memasukkan tanganku ke dalam saku, ternyata ada sedikit kismis dan aku baru ingat bahwa kismis itu aku beli untuk anaku yang masih kecil dan aku lupa.”
Kemudian dia mengatakan tiga kali “Ushika Bil ‘Aud”. ‘Aud dalam bahasa Arab Badui bermakna ayah yang tua. Yakni aku berpesan kepadamu untuk mengabdi kepada ayahmu yang sudah tua.
Setelah mengatakan itu, dia hilang dari pandanganku. Aku tahu bahwa dia adalah Imam Zaman af dan begitu pentingnya menghormati ayah. Oleh karena itu aku tidak meneruskan perjalanan ke masjid Sahlah dan aku meninggalkannya. (Shiftegan-e Hazrat-e Mahdi ad, jilid 3, hal 153) (Emi Nur Hayati)
Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak