Hak Sah Rakyat Yaman Membela Diri
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32517-hak_sah_rakyat_yaman_membela_diri
Para pejabat Arab Saudi benar-benar syok setelah militer Yaman pada Ahad (5/2/2017) malam menembakkan sebuah rudal balistik berpresisi ke pangkalan militer Saudi di daerah al-Muzahimiyah, 40 kilometer sebelah barat Riyadh.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 07, 2017 12:43 Asia/Jakarta
  • Hak Sah Rakyat Yaman Membela Diri

Para pejabat Arab Saudi benar-benar syok setelah militer Yaman pada Ahad (5/2/2017) malam menembakkan sebuah rudal balistik berpresisi ke pangkalan militer Saudi di daerah al-Muzahimiyah, 40 kilometer sebelah barat Riyadh.

Serangan itu membuat rezim Al Saud benar-benar terkejut, di mana situs berita al-Najm al-Thaqib menulis, Wakil Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan Arab Saudi Mohammed bin Salman, menggelar sebuah pertemuan darurat dengan Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Serangan Arab Saudi di Yaman sudah memasuki bulan ke-23. Meski perang ini sudah menewaskan sekitar 12 ribu rakyat Yaman dan melukai puluhan ribu lainnya, namun situasi medan perang Yaman tampaknya telah berubah. Salah satu sinyal dari perubahan ini adalah serangan rudal militer Yaman ke pangkalan militer Saudi di sekitar Riyadh.

Serangan rudal ini membawa pesan-pesan penting. Rudal yang ditembakkan ke pangkalan militer al-Muzahimiyah memiliki jangkauan lebih dari 800 kilometer dan daya rusaknya juga melebihi kekuatan rudal Burkan-1. Jangkauan ini menunjukkan militer Yaman punya kemampuan untuk menargetkan Riyadh, ibukota Arab Saudi.

Unit rudal militer Yaman dan komite rakyat dalam sebuah statemen mengatakan, rudal balistik ini adalah respon terhadap berlanjutnya agresi dan kejahatan rezim Al Saud di Yaman. Pernyataan itu juga menjanjikan serangan yang lebih besar di masa depan. Dengan kata lain, Saudi tidak akan lagi hanya menjadi penyerang, tapi juga harus memikirkan cara menangkis aksi balasan; bahkan jika rudal-rudal Yaman tidak diluncurkan dalam waktu yang berdekatan.

Militer Yaman dan komite rakyat juga menegaskan hak sahnya untuk membela diri dari serangan asing.

Tindakan Saudi terhadap Yaman termasuk membunuh lebih dari 12 ribu orang, melukai lebih dari 35 ribu orang, menghancurkan 80 persen dari infrastruktur dan membuat jutaan rakyat Yaman terlantar, merupakan bukti nyata kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun, balasan militer Yaman dan komite rakyat termasuk penembakan rudal ke Riyadh sepenuhnya untuk membela diri. Pasal 51 Piagam PBB mengizinkan semua negara melakukan pembelaan diri bila terjadi serangan bersenjata.

Isu lain yang patut dicermati adalah bahwa Mansur Hadi kembali berkhianat terhadap rakyat dan negara Yaman. Militer Saudi langsung menggempur sejumlah daerah di Yaman sebagai respon terhadap serangan rudal ke Riyadh. Namun, Mansur Hadi justru berterimakasih kepada rezim Saudi atas bantuan yang diberikan kepada pemerintahannya yang sudah bubar. Anehnya lagi dengan pengkhianatan seperti ini, ia masih menganggap dirinya sebagai presiden sah Yaman.

Dalam laporannya pada 27 Januari lalu, PBB menyatakan serangan udara Arab Saudi ke Yaman merupakan kejahatan perang, dan mendesak sekutu Riyadh agresi itu termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional.

Menurut laporan PBB, pasukan yang setia kepada Mansur Hadi termasuk para pejabat dan aparat keamanan, telah melakukan pelanggaran luas dan sistematis terhadap hukum humaniter internasional, hukum hak asasi manusia internasional dan norma-norma HAM di Yaman.

Pemimpin Gerakan Ansarullah Yaman, Abdul-Malik Badreddin al-Houthi mengatakan, serangan Al Saud bertujuan untuk menegaskan pengabdian mereka kepada AS. Ia menambahkan, Washington menyediakan dukungan diplomatik kepada Riyadh atas agresinya terhadap Yaman, dan bahkan memantau serangan itu. (RM)