5. Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Kedua Ayah Dan Ibu (3)
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32629-5._kisah_kisah_penuh_pelajaran_tentang_kedua_ayah_dan_ibu_(3)
Kutukan Ayah Pada akhir malam, Imam Ali as bersama anaknya; Hasan as datang di dekat kabah untuk bermunajat dan beribadah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 09, 2017 12:05 Asia/Jakarta
  • Kasih sayang
    Kasih sayang

Kutukan Ayah Pada akhir malam, Imam Ali as bersama anaknya; Hasan as datang di dekat kabah untuk bermunajat dan beribadah.

Tiba-tiba Imam Ali as mendengar suara menyedihkan. Beliau melihat seseorang sedang berdoa sambil menangis di sisi kabah meminta hajatnya kepada Allah. Imam Ali berkata kepada Imam Hasan, pergi dan dekatilah orang yang berdoa ini, lihatlah siapa dia dan bawalah kepadaku!.

Imam Hasan as pergi mendekatinya. Beliau melihat seorang pemuda sedang bermunajat dengan suara menyedihkan. Beliau berkata, “Hai pemuda! Amriul Mukminin, anak paman Rasulullah Saw ingin melihatmu. Penuhilah undangannya!”

Pemuda itu dengan semangat mendatangi Imam Ali as. Imam Ali berkata kepadanya, “Apa hajatmu?”

Pemuda itu berkata, “Pada hakikatnya saya telah menyakiti ayahku. Dia telah mengutukku dan saat ini separuh dari badanku lumpuh.”

Imam Ali as berkata, “Apa yang kau lakukan terhadap ayahmu?”

Pemuda itu berkata, “Saya adalah seorang pemuda yang suka foya-foya dan suka berbuat dosa, ayahku telah melarangku dari berbuat dosa. Sementara saya tidak mau mendengarkan kata-katanya, bahkan lebih banyak berbuat dosa. Sampai ketika beliau melihatku sedang berbuat dosa dan melarangku. Akhirnya saya marah dan saya ambil kayu dan saya pukul dia sampai jatuh. Dengan hati yang hancur dia bangkit seraya berkata, “Sekarang aku mau pergi ke sisi kabah dan mengutukmu. Kemudian dia pergi ke kabah dan mengutukku dan kutukannya membuat separuh tubuhku lumpuh.”

Imam Ali as berkata, “Karena ayahmu mau datang bersamamu ke kabah untuk berdoa, itu berarti ayahmu meridhaimu. Sekarang aku yang akan mendoakanmu.”

Imam Ali as mendoakannya kemudian mengusap tubuh pemuda itu dengan tangannya yang penuh berkah. Pada saat itu juga pemuda itu mendapatkan kembali kesehatannya. Kemudian Imam Ali pergi menemui putra-putranya dan kepada mereka berkat, “Alaikum Bi Biril Walidaini” [wajib bagi kalian untuk berbuat baik kepada kedua ayah dan ibu]. (Dastan-e Doustan, jilid 5, hal 177)

Perbuatan Baik Anak Menyebabkan Diampuninya Seorang Ayah

Suatu hari Nabi Isa as melewati sebuah kuburan. Beliau melihat orang yang ada di dalamnya sedang mengalami siksaan Allah. Setelah beberapa lama beliau melewati kembali kuburan itu. Beliau melihat siksaannya telah dijauhkan.

Beliau bertanya kepada Allah, “Ya Allah, apa sebabnya siksaannya jauh darinya?

Wahyu ilahi sampai pada beliau bahwa sebabnya adalah putranya orang ini telah melapisi jalan dengan batu kerikil dengan tujuan bisa dipergunakan dan memberi pakaian anak yatim. (Rah-e Takamol, jilid 6, hal 144)

Sebuah Kisah Dari Ustad Ahmad Amin

Ustad Fikih berkata:

Di hari Arafah saya pergi menziarahi Imam Husein as. Saya bergumam, betapa baiknya bila sekali-sekali saya membaca ziarah Arafah dengan niat sebagai pengganti kakek saya. Kemudian saya membacanya dengan niat sebagai penggantinya. Begitu saya masuk ke kota Najaf, ayah saya berkata, “Hari yang lalu, pekerjaan baik apa yang engkau lakukan?”

Saya menjawab, “Kemarin saya membaca ziarah Arafah berniat sebagai pengganti kakek.”

Ayah saya berkata, “Yadi malam aku bermimpi kakekmu turun dari kudanya dan berkata, sekarang aku baru kembali dari ziarah ke kabah.”

Dari mimpi ini aku tahu bahwa ziarah Arafah sama dengan menunaikan ibadah haji. (Rah-e Takamol, jilid 6, hal 150)

Pesan Imam Khomeini Untuk Menghormati Ayah

Hujjatul Islam Jammi; imam salat Jumat kota Abadan mengatakan:

Sekali saya menemui Imam Khomeini di Jamaran. Salah seorang pejabat negara datang menemui Imam Khomeini terkait urusan yang ada. Ayahnya yang sudah tua juga ikut bersamanya. Ketika ingin menemui Imam Khomeini dia terlebih dahulu bergerak di depan ayahnya. Setelah bertemu Imam, dia mengenalkan ayahnya. Imam memandang pejabat itu dan berkata, “Bapak ini, ayah Anda?”

Dia menjawab, “Iya.”

Imam Khomeini berkata, “Lalu mengapa Anda lebih dahulu berjalan di depan dia dan masuk?”

Dengan cara ini Imam Khomeini ingin mengingatkan tentang kedudukan seorang ayah dan menyampaikan pelajaran besar tentang menghormati ayah.  (Dastan-e Doustan, jilid 1, hal 161) (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak