5. Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Kedua Ayah Dan Ibu (4)
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32942-5._kisah_kisah_penuh_pelajaran_tentang_kedua_ayah_dan_ibu_(4)
Berbuat Baik Kepada Kedua Ayah dan Ibu; Kaffarah atau Tebusan Dosa
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 15, 2017 13:04 Asia/Jakarta
  • Anak dan Ayah
    Anak dan Ayah

Berbuat Baik Kepada Kedua Ayah dan Ibu; Kaffarah atau Tebusan Dosa

Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw, “Tidak ada perbuatan buruk melainkan sudah aku kerjakan semuanya, apakah masih terbuka pintu taubat untukku?”

Rasulullah Saw berkata, “Ayah dan ibumu masih hidup?

Dia berkata, “Ibu saya sudah meninggal dunia, tapi ayah saya masih hidup.”

Rasulullah Saw berkata, “Bila engkau ingin semua dosa-dosamu diampuni, maka berbuat baiklah kepada ayahmu.”

Ketika lelaki itu sudah keluar dari masjid, Rasulullah Saw berkata, “Bila ibunya masih hidup, dengan berbuat baik padanya, ia akan lebih dekat pada ampunan Allah.” (Bihar al-Anwar, jilid 74, hal 82)

Keridhaan Ayah dan Ibu dan Syahid

Rasulullah Saw berkata bahwa Nabi Musa as berkata, “Ya Allah! Bagaimana kabar temanku yang sudah syahid?”

Jawaban sampai kepadanya, “Dia berada di Jahannam.”

Nabi Musa as berkata, “Ya Allah! Apakah Engkau tidak menjanjikan surga untuk para syuhada?

Dikatakan kepadanya, “Tentu saja. Tapi dia selalu menyakiti ayah dan ibunya dan aku tidak menerima amalan orang yang menyakiti ayah dan ibunya.” (Pand-e Tarikh, jilid 1, hal 94)

Sejarah Menulis

Fadhl bin Yahya Barmaki sangat perhatian dan penuh kasih sayang pada ayahnya. Sementara ayahnya tidak bisa menggunakan air dingin di musim dingin.

Begitu Harun memenjarakan keduanya, memanaskan air bagi mereka sangat sulit. Oleh karena itu, Fadhl menempelkan kendi tembaga ke perutnya supaya airnya agak hangat karena suhu hangat perutnya. Kemudian memberikan kepada ayahnya untuk digunakan. (Seleye Rahem)

Satu Poin Menarik

Begitu Musa as diangkat sebagai rasul, dia mendapatkan perintah untuk bersikap dan berbicara dengan bahasa yang lembut pada Firaun.

Dia bertanya apa sebabnya, dan mendengar jawabannya, “Dia mengalami kerepotan selama lima belas tahun dan menahan jerih payah untuk membesarkanmu dari sejak masa menyusu sampai masa remaja. Oleh karena itu dia punya hak sebagai ayah dan engkau tidak boleh berbicara keras padanya dan bersikap kasar.” (Nezam-e Khanevade Dar Eslam, hal 478)

Lebih Mulia Orang Yang Lebih Menghormati Ayah dan Ibunya

Rasulullah Saw punya saudara perempuan sesusuan. Dia datang menemui Rasulullah Saw. Begitu Rasulullah Saw melihatnya, beliau sangat gembira dan menghamparkan alas untuknya dan mempersilahkan duduk. Kemudian dengan ramah beliau berbincang-bincang dengannya sampai ketika dia pamitan pulang.

Kemudian saudara lelaki sesusuan Rasulullah Saw juga datang menemui beliau. Rasulullah Saw tidak memperlakukannya sebagaimana yang dilakukannya untuk saudara perempuannya. Seorang bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah! Mengapa Anda tidak seramah dengan saudara lelaki Anda sebagaimana yang Anda lakukan untuk saudara perempuan Anda?

Rasulullah Saw menjawab, “Liannaha Kanat Abarra Biwalidaiha Minhu.” Karena dia [saudara perempuan] lebih baik perilakunya kepada ayah dan ibunya.” Dastan-e Doustan, jilid 4, hal 116)

Kedudukan Ibu

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Bimbinglah saya, kepada siapa saya harus berbuat baik sehingga saya mendapatkan hasilnya dengan baik?”

Rasulullah Saw berkata, “Berbuat baiklah kepada ibumu.”

Dia bertanya, “Setelah dia?”

Rasulullah Saw berkata, “Kepada ibumu.”

Lelaki itu bertanya, “Setelah ibu, kepada siapa lagi saya harus berbuat baik?”

Rasulullah Saw kembali mengulangi, “Berbuat baiklah kepada ibumu.”

Kemudian lelaki itu bertanya lagi, “Kepada siapa lagi saya harus berbuat baik?

Rasulullah Saw berkata, “Kepada ayahmu.” (Safinah al-Bihar, jilid 2, hal 686)

Orang Yang Berbuat Baik Kepada Ayah dan Ibu Berada di Bawah Naungan Arasy

Saat Musa bin Imran bermunajat kepada Allah, tiba-tiba dia melihat seorang lelaki berada di bawah naungan Arasy Ilahi.

Dia berkata, “Ya Allah siapakah lelaki ini sehingga Arasy menaunginya?

Datang jawaban untuknya, “Lelaki ini punya dua sifat yang baik; berbuat baik kepada ayah dan ibunya, dan tidak melangkah untuk mengadu domba.” (Bihar al-Anwar, jilid 74, hal 65)

Tangisan Syeikh Anshari Karena Kematian Ibunya

Syeikh Anshari banyak menangis karena kematian ibunya, sampai sebagian orang tertentu menyampaikan protes dan mencela Syeikh Anshari karena hal ini.

Syeikh Anshari menjawab, “Tangisanku bukan karena aku kehilangan ibuku, tapi alasannya adalah betapa banyak musibah yang tertahan dari wujudnya dan betapa banyak berkah yang diberikan Allah kepada kita karena wujudnya. Karena hilangnya nikmat yang besar ini aku menangis.” (Zendegi-ye Syeikh Anshari, hal 60) (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak