Krisis Suriah dan Pendekatan PBB
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i35008-krisis_suriah_dan_pendekatan_pbb
Utusan sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Staffan de Mistura seraya mendukung upaya Rusia, Turki dan Republik Islam Iran untuk menyelesaikan krisis Suriah menuntut upaya ini dilanjutkan hingga krisis Damaskus terselesaikan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 25, 2017 13:50 Asia/Jakarta
  • de Mistura
    de Mistura

Utusan sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Staffan de Mistura seraya mendukung upaya Rusia, Turki dan Republik Islam Iran untuk menyelesaikan krisis Suriah menuntut upaya ini dilanjutkan hingga krisis Damaskus terselesaikan.

De Mistura mengungkapkan penyesalannya bahwa perundingan Jenewa masih dibarengi dengan konfrontasi lapangan di Suriah dan secara tersirat mengakui kondisi tak menentu membayangi perundingan tersebut.

 

Konferensi Jenewa 5 terkait Suriah digelar sejak Kamis (23/3) di Jenewa, Swiss.

 

Statemen de Mistura dirilis di saat perundingan Jenewa 5 masih terus berlanjut dan hal ini mengindikasikan sikap pesimis PBB mereaksi perundingan tersebut. Kondisi perundingan Jenewa 5 dengan eskalasi pergerakan teorris di Suriah membawa pesan bahwa proses perundingan Jenewa gagal mempersiapkan atmosfer yang diperlukan untuk memajukan dialog politik terkait krisis Damaskus.

 

Eskalasi bentrokan di Suriah bersamaan dengan perundingan Jenewa 5 secara praktis mempengaruhi hasil yang dicapai di dialog Astana Kazakhstan terkait penerapan gencatan senjata dan upaya mempersiapkan kondisi untuk memperkokoh gencatan tersebut. Padahal aksi kubu anti pemerintah Suriah yang mensabotase upaya internasional untuk menyelesaikan krisis Damaskus termasuk absen di perundingan Astana 3 yang digelar beberapa waktu lalu tak diragukan lagi upaya internasional untuk mengakhiri krisis Suriah tidak dipandang serius oleh kubu anti Suriah.

 

Kubu anti Suriah melalui permainan perundingan internasional terkait krisis Damaskus berusaha meraih konsesi dan menutupi berlanjutnya kejahatan mereka di Suriah. Di kondisi seperti ini, iklim perundingan digelar di ibukota pemerintah Barat yang tercatat sebagai sponsor terorisme secara praktis memberi peluang kepada fenomena buruk beserta pendukungnya untuk memajukan tujuan mereka serta kerakusan teroris.

 

Pendekatan seperti ini membuat perundingan yang ada secara praktis tidak membuahkan hasil nyata untuk menyelesaikan krisis Suriah dan berubah menjadi dialog mandul dan sia-sia terkait krisis Damaskus.

 

Oleh karena itu, ketika dialog Jenewa 5 berlangsung dan pemerintah Barat menebar propaganda besar-besaran terkait perundingan ini, utusan khusus sekjen PBB untuk Suriah menuntut dilanjutkannya upaya menyelesaikan krisis Suriah dalam koridor perundingan Astana. Upaya yang ada dalam koridor perundingan Astana dengan prakarsa Iran, Rusia dan Turki serta disambut oleh PBB mengindikasikan sambutan luas masyarakat internasional atas upaya seperti ini.

 

Dialog Astana yang akan digelar dalam waktu dekat untuk menstabilkan gencatan senjata yang diumumkan di Suriah dan mempersiapkan peluang perundingan serius bagi perdamaian permanen antara pemerintah Damaskus dan kubu anti pemerintah sama halnya dengan pondasi bagi penyelesaian politik krisis Suriah.

 

Pemahaman akan realita Suriah, penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan nasional negara ini, penghormatan terhadap tuntutan rakyat Suriah untuk menentukan nasibnya sendiri termasuk menentukan masa depan politik Bashar al-Assad dan pemusnahan terorisme di negara ini merupakan rencana rasional dan luar biasa untuk menyelesaikan krisis di negara ini.

 

Oleh karena itu, dialog terkait mekanisme implementasi dalam koridor prakarsa di atas mendorong prospek solusi krisis Suriah semakin besar. Kini perhatian dunia tertuju pada dialog Astana sehingga mereka menyadari pada akhirnya bagaimana nasib krisis enam tahun Suriah dan tuntutan de Mistura juga dapat dicermati dalam koridor ini. (MF)