Bouthaina Shaaban: Media Barat Tutupi Fakta di Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i36432-bouthaina_shaaban_media_barat_tutupi_fakta_di_suriah
Penasihat Presiden Suriah untuk Urusan Politik dan Media mengatakan, masalah utamanya adalah media-media Barat menyesatkan dan menjadi tembok penghalang antara bangsa-bangsa Barat dan fakta di Suriah.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 22, 2017 11:33 Asia/Jakarta
  • Bouthaina Shaaban: Media Barat Tutupi Fakta di Suriah

Penasihat Presiden Suriah untuk Urusan Politik dan Media mengatakan, masalah utamanya adalah media-media Barat menyesatkan dan menjadi tembok penghalang antara bangsa-bangsa Barat dan fakta di Suriah.

Bouthaina Shaaban mengatakan hal itu dalam pertemuan dengan para cendekiawan, peneliti dan aktiviis dari Amerika, Inggris, Norwegia, Jerman dan Australia di Damaskus, ibukota Suriah, Jumat (21/4/2017). Demikian dilansir Syria Now.

 

Ia menambahkan, Barat telah memulai perang media berskala penuh dan menghalangi publikasi fakta-fakta di Suriah.

 

"Apa yang terjadi di Irak dan Libya adalah contoh terbaik untuk memahami konspirasi yang telah disiapkan untuk negara-negara Arab, "ujarnya.

 

Di bagian lain pernyataannya, Penasihat Presiden Suriah untuk Urusan Politik dan Media ini mengatakan, kerjasama dan koordinasi rezim Zionis Israel dengan kelompok-kelompok teroris di Suriah sepenuhya jelas dan nyata.

 

Shaaban juga menyinggung klaim serangan kimia militer Suriah ke distrik Khan Shaykhun, Idlib, dan mengatakan, kebanyakan laporan dan penyelidikan membantah klaim dan tudingan AS terhadap pemerintah Damaskus terkait serangan kimia mencurigakan di Khan Shaykhun, terutama laporan-laporan yang diberikan kepada orang-orang di Amerika, Jerman dan Eropa.

 

Menyusul serangan kimia yang mencurigakan di wilayah Khan Shaykhun, Selatan Idlib, Suriah pada 4 April 2017 yang merenggut nyawa lebih dari 100 orang dan melukai 400 lainnya, AS menuding pemerintah Damaskus menggunakan senjata kimia untuk menumpas oposisi.

 

Klaim tersebut telah berulang kali dibantah oleh pemerintah Suriah, dan Damaskus juga menuntut penyelidikan internasional dan independen atas insiden ini. namun AS menolaknya. (RA)