Liga Arab dan Friksi Saudi-Qatar
Sikap Liga Arab terhadap friksi antara Arab Saudi dan Qatar tidak hanya menunjukkan terjadinya perpecahan di dalamnya, tapi lebih dari itu rezim Al Saud tampak menekan sejumlah negara Arab yang lemah dan kecil untuk mengamini ambisinya.
Pemutusan maupun penurunan hubungan diplomatik antara negara-negara Arab dan Afrika terhadap Qatar sebagai bentuk dukungan terhadap Saudi hingga kini terus berlanjut. Dilaporkan, sebanyak enam negara Afrika barat yaitu: Comoros, Djibouti, Senegal, Sudan, Gabon, dan Somalia mengamini dikte Riyadh untuk menjauhi Qatar. Dari deretan negara tersebut, Senegal dan Gabon bukan anggota Liga Arab, sedangkan empat lainnya adalah anggota Liga Arab.
Secara umum tampak jelas Liga Arab terbelah dalam dua kubu besar. Di satu pihak, sejumlah anggota Liga Arab yang independen dan penting yang bersikap tidak mengikuti Arab Saudi untuk memusuhi Qatar. Sedangkan di pihak lain, negara-negara Arab dan Afrika yang kecil dan lemah mengikuti ambisi politik Riyadh.
Dari 22 negara anggota Liga Arab hanya tujuh negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, yaitu Arab Saudi sendiri yang diikuti Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Libya, Mauritania dan Comoros. Dua negara Arab, Uni Emirat Arab dan Bahrain termasuk sekutu utama rezim Al Saud yang akan mengamini apa saja yang dilakukan Riyadh. Sedangkan Mesir mendukung langkah Saudi untuk memutuskan hubungan dengan Qatar, karena masalah Ikhwanul Muslimin. Dengan demikian, sikap Kairo tersebut tidak serta-merta menunjukkan dukungannya terhadap manuver berbahaya Riyadh. Pasalnya, selama dua tahun lalu, kedua negara terlibat friksi dengan tensi yang tinggi melampaui negara Arab lainnya hingga hubungan Kairo dan Riyadh hampir menyerupai kondisi perang dingin.
Sementara itu, negara kecil semacam Comoros dan Mauritania bukan hitungan bagi Qatar. Selain itu, Libya juga tidak masuk kalkulasi karena negaranya sedang menghadapi konflik, bahkan tidak bisa menyatukan kekuatan dalam negerinya sendiri pasca tumbangnya Ghaddafi. Satu pihak di Libya didukung Saudi dan di pihak lain didukung Qatar dan Turki.
Anggota Liga Arab lain yang mendukung langkah Saudi semacam Djibouti, Maroko dan Yordania tidak memutus hubungan dengan Qatar, tapi hanya menurunkan level hubungan diplomatiknya dengan Doha. Itu pun karena mereka memiliki ketergantungan ekonomi terhadap Riyadh.
Di luar itu, Sudan dan Somalia yang juga menghadapi masalah dalam negerinya sendiri hanya menyerukan penyelesaian damai dari konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Qatar. Sebelumnya, Qatar pernah menjadi mediator krisis Sudan, dan negara ini juga menanam investasi besar di Sudan.
Di sisi lain, sejumlah negara independen dan berpengaruh di Liga Arab seperti Aljazair, Tunisia, Oman, Kuwait, Irak, Suriah dan Lebanon memilih jalan rasional dan realistis. Mereka bukan hanya tidak memutuskan hubungan dengan Qatar, bahkan menurunkan level hubungan pun tidak dilakukan. Palestina hingga kini tidak mengeluarkan sikap pemihakan terhadap salah satu kubu yang bertikai, baik Saudi maupun Qatar.
Negara-negara independen di Liga Arab tahu benar dampak dari sepak terjang Arab Saudi. Yaman adalah contoh paling jelas dari petualangan berbahaya rezim Al Saud. Negara Arab tetangga Saudi ini porak-poranda akibat perang yang disulut Riyadh. Pada saat yang sama, Riyadh hingga kini gagal meraih tujuannya, meski telah mengelontorkan dana besar-besaran, yang sebagian dipergunakan untuk belanja alutsista dan persenjataan untuk membantai warga sipil Yaman yang tak bersalah.
Rangkaian masalah ini memberikan pesan penting kepada rezim Al Saud. Mayoritas negara-negara anggota Liga Arab tidak mendukung petualangan berbahaya Riyadh. Kalaupun ada dukungan dari beberapa negara anggota Liga Arab bukan solidaritas regional, tapi sekedar kepentingan ekonomi dan ketergantungan negara mereka terhadap rezim Al Saud.