Lebanon dan Nasib Saad Hariri
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46749-lebanon_dan_nasib_saad_hariri
Presiden Lebanon, Michel Aoun meminta Arab Saudi memberi penjelasan terkait pencekalan Saad Hariri.
(last modified 2026-07-20T11:55:11+00:00 )
Nov 12, 2017 15:50 Asia/Jakarta

Presiden Lebanon, Michel Aoun meminta Arab Saudi memberi penjelasan terkait pencekalan Saad Hariri.

Aoun Sabtu (11/11) mengatakan, Lebanon menolak kondisi perdana menteri bertentangan dengan perjanjian internasional. Setelah satu pekan dari pengunduran diri mendadak dan mencurigakan Saad Hariri dari posisi perdana menteri Lebanon, nasibnya saat ini masih belum jelas dan hal ini memicu kekhawatiran petinggi Beirut.

Saad Hariri 4 November 2017 di statemennya yang dibacakan di Riyadh menyatakan mundur dari posisi perdana menteri Lebanon. Mayoritas petinggi Lebanon dan media massa meyakini pengunduran Hariri atas represi Arab Saudi dan dalam kondisi khusus yang diciptakan rezim Al Saud.

Skenario terhadap Lebanon yang dirancang Arab Saudi mengindikasikan bahwa petinggi Riyadh sampai pada kesimpulan bahwa Hariri harus hengkang, karena ia tidak menunjukkan minat melawan Hizbullah Lebanon. Sepertinya sikap beberapa waktu lalu Hariri terkait bahwa melawan Hizbullah akan memicu instabilitas di negara ini tidak sesuai dengan selera petinggi Riyadh, oleh karena itu, Arab Saudi mulai berencana menghapus Hariri dari pentas politik Lebanon.

Statemen terbaru Hariri selama kunjungan sebelumnya ke Riyadh terkait bahwa ia meminta petinggi Saudi untuk tidak menghukum dirinya karena sesuatu yang di luar kekuatannya, menunjukkan bahwa ia berada di bawah tekanan keras rezim Al Saud.

Arab Saudi senantiasa berupaya mengintervensi urusan internal Lebanon dengan menebar tudingan palsu terhadap Hizbullah dan menciptakan perpecahan di antara elit politik negara ini. Transformasi Lebanon mengindikasikan bahwa Arab Saudi menginginkan Lebanon menghadapi kevakuman politik dan tenggelam dalam krisis politik dengan menghapus Hariri dari pentas politik.

Di kondisi seperti ini, Saudi memberlakukan tahanan rumah kepada Hariri dan berencana mengangkat saudara tertua Hariri mengantikan dirinya sebagai ketua Gerakan al-Mustaqbal. Hal ini dilakukan Saudi demi menjadikan gerakan ini sebagai motor penggerak bagi kemajuan ketamakannya di Lebanon.

Sementara itu, transformasi Lebanon menunjukkan bahwa berbeda dengan anggapan rezim Al Saud bahwa melalui menculik perdana menteri Lebanon, Riyadh mampu mengobarkan perpecahan dan peperangan di antara warga Lebanon baik Syiah maupun Sunni, serta meledakkan perang saudara di negara ini, tapi ternyata hal ini tidak terjadi.

Saat ini mengingat disiplin politik di masyarakat Lebanon dan keterlibatan cerdas presiden serta partai politik di isu yang ada serta kesiapan militer Lebanon membuat kondisi masih dapat dikontrol. Dengan kebijaksanaan bangsa Lebanon sepertinya kecil kemungkinan akan terjadi peristiwa pahit di negara ini.

Di kondisi seperti ini, Presiden Michel Aoun menyatakan bahwa jika selama beberapa hari mendatang Saad Hariri tidak kembali ke Lebanon, maka ia akan membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB. Jika hal ini terjadi maka Arab Saudi akan menjadi pecundang utama di peramaian berbahaya yang mereka mainkan. Saudi juga akan mengalami kerusakan identitas, politik, dan diplomasi di tingkat internasional dan regional. Hal ini karena berkas intervensi Arab Saudi di kawasan semakin tebal.

Secara global penahanan Saad Hariri merupakan pelecehan terhadap hukum internasional, undang-undang dasar dan rakyat Lebanon, karena elit politik Lebanon mewakili rakyat dalam memilih sosok ini sebagai perdana menteri. Langkah Arab Saudi menekan Hariri untuk mengundurkan diri jelas melanggar pasal 2 piagam PBB.

Oleh karena itu, langkah Arab Saudi menangkap dan menekan Saad Hariri untuk mengundurkan diri seperti yang diisyaratkan Michel Aoun, dapat ditindaklanjuti di tingkat internasional. (MF)