Kesalahan Strategis London Gandeng Riyadh
Perdagangan senjata di kawasan barat Asia menyebabkan sejumlah negara Eropa bersama AS meraih keuntungan sangat besar dalam transaksi dengan negara-negara petro dolar, terutama Arab Saudi. Masalah tersebut membuka mereka menutup mata atas berbagai fenomena yang terjadi di kawasan tersebut.
SIPRI melaporkan, tingkat perdagangan senjata tahun 2012 hingga 2106 setiap lima tahun sekali setelah tahun 1990 menunjukkan angka terjadinya peningkatan dua kali lipat untuk kawasan Timur Tengah.
Saat ini, Arab Saudi merupakan konsumen senjata terbesar di dunia setelah India, dan terbesar di Timur Tengah. Kebanyakan senjata yang diimpor Arab Saudi berasal dari AS dan Inggris dengan tingkat kenaikan sebesar 212 persen.
Tidak diragukan lagi agresi militer Arab Saudi ke Yaman dan dukungan Riyadh terhadap kelompok teroris Takfiri yang beroperasi di Suriah dan Irak serta friksi yang disulut rezim Al Saud di Lebanon dan Bahrain menjadi faktor terpenting terjadinya lonjakan pembelian senjata dan alutsista dari negara-negara Barat oleh Arab Saudi.
Wajar kiranya, negara yang menimbun senjata dan alutsista di gudangnya membutuhkan perang demi meraih tujuannya di kawasan.
Statemen Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al Jubair yang menuding Tehran mengintervensi urusan internal negara lain tidak lain upaya Riyadh untuk menutupi sepak terjang destruktif di kawasan dengan menyalahkan Iran.
Ironisnya sebagian negara Barat yang selama ini mengklaim sebagai pengusung perdamaian dan HAM di dunia justru mendukung statemen infaktual pejabat tinggi Riyadh demi kepentingan industri persenjataannya.
Statemen anti Iran yang disampaikan para pejabat Eropa mengemuka tepat ketika parlemen Eropa melarang penjualan senjata kepada Arab Saudi. Perdana Menteri Inggris, Theresa May saat berada di Riyadh menyampaikan tudingan terbaru terhadap Iran dengan menyerukan sikap lebih keras dunia Barat terhadap Iran.
Alih-alih mendengarkan seruan parlemen Eropa untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi, Theresa May justru menjustifikasi kejahatan yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman demi mempertahankan pabrik senjata Inggris supaya tetap beroperasi.
Senada dengan itu, kementerian luar negeri Perancis mengulang tudingan terhadap program pertahanan Iran demi mengisi posisi Washington. Akhirnya, Timur Tengah menjadi lahan kompetisi negara-negara Barat untuk menjual senjata dan alutsistanya.
Jelas kiranya semua klaim tersebut dan sepak terjang sebagian negara Barat terhadap Iran bertentangan dengan spirit JCPOA, dan berlanjutnya tekanan terhadap Tehran akan merusak hubungan yang sudah terbangun antara Eropa dan Tehran.
Pemahaman terhadap masalah tersebut tidak sulit ketika Presiden AS, Donald Trump menjadi faktor utama tekanan terhadap Eropa untuk mengiringi sepak terjang destruktif Riyadh kepada Tehran. Meski demikian, jika Eropa tidak bisa bersikap independen dalam menyikapi transformasi regional, maka akan menjadi pecundang utama konstelasi kawasan.
Sejatinya, kepentingan jangka pendek keuntungan penjualan senjata kepada Riyadh tidak bisa menggantikan keuntungan jangka panjang dalam kerja sama strategis dengan Iran sebagai pemenang konstelasi regional. Tapi apakah politisi Eropa dengan baik memahami masalah tersebut dari pada bermain di atas papan catur konflik Timur Tengah. (PH)