Klaim Baru Erdogan Soal Perang Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i511-klaim_baru_erdogan_soal_perang_suriah
Presiden Turki Recep Tayip Erdogan dalam sebuah pernyataan terbaru menyebut perundingan perdamaian Suriah di Jenewa sebagai langkah sia-sia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 05, 2016 12:34 Asia/Jakarta
  • Presiden Turki Recep Tayip Erdogan
    Presiden Turki Recep Tayip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan dalam sebuah pernyataan terbaru menyebut perundingan perdamaian Suriah di Jenewa sebagai langkah sia-sia.

Dia menyampaikan hal itu di Ibukota Lima, Peru, mengawali tur regionalnya ke negara-negara Amerika Selatan, Kamis (4/2/2016).

Erdogan mengklaim bahwa selama anak-anak masih menjadi korban, upaya tersebut tidak memiliki fungsi apapun. Ia menganggap krisis Suriah sebagai tragedi kemanusiaan terbesar setelah Perang Dunia II dan menyuarakan kebutuhan untuk mengakhiri kekuasaan pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan memulai sebuah proses transisi sebagai tuntutan sah rakyat Suriah.

Statemen itu tampaknya tidak muncul dari pemikiran rasional para pejabat Ankara terkait perkembangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah, tapi lebih tepatnya sebagai luapan emosi mereka mengingat perundingan Jenewa tidak berjalan sesuai dengan harapan pemerintah Turki.

Jelas bahwa salah satu penyebab kegagalan putaran terbaru perundingan Suriah di Jenewa adalah karena banyaknya jumlah kelompok oposisi dan tidak adanya konsensus di tengah mereka. Negara-negara pendukung oposisi Suriah di Arab dan Barat juga memilih mendukung kubu tertentu selama pembicaraan damai di Jenewa.

Pemerintah Damaskus percaya bahwa sebagian oposisi yang terlibat dalam perundingan Jenewa bukan wakil rakyat Suriah, tapi mereka mewakili kepentingan Ankara dan mengajukan tuntutan-tuntutan Turki dalam perundingan.

Fakta itu merupakan salah satu alasan utama kegagalan putaran terbaru perundingan damai Suriah di Jenewa. Para analis menilai kegagalan itu sebagai kekalahan diplomasi Turki dalam menyelesaikan krisis dan kegagalan delegasi yang mewakili kepentingan Ankara dalam pertemuan itu. Jadi, pantas saja para petinggi Turki terbakar emosinya dan menyebut perundingan damai Suriah tidak berguna.

Sebagian oposisi pemerintah Turki juga percaya bahwa Presiden Erdogan sedang berusaha menipu opini publik dan menutupi kegagalan kebijakannya di dalam negeri dan kawasan. Erdogan mungkin lupa bahwa dukungan Turki atas serangan brutal teroris ISIS terhadap warga Kobani dan daerah-daerah lain di Suriah telah menewaskan rakyat tak berdosa dalam jumlah besar.

Namun setelah dunia mencapai “konsensus internasional” untuk memerangi kelompok ISIS, para pejabat Turki mulai menyuarakan perang anti-terorisme dengan tujuan mengurangi tekanan dunia. Perang anti-ISIS juga telah menjadi alasan bagi pemerintah Turki untuk melanjutkan serangan terhadap etnis Kurdi di negara itu.

Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan bahwa militer Turki telah memulai perang di tiga front setelah ledakan bom di kota Suruc pada Juli 2015. Ia juga menandaskan bahwa ISIS bertanggung jawab atas serangan Suruc. Tapi anehnya, mengapa militer Turki mengarahkan senjatanya kepada Partai Pekerja Kurdi (PKK) dan bukannya terhadap kelompok ISIS?. (IRIB Indonesia/RM)