Peran AS dan Israel dalam Kekacauan di Suriah
-
Pasukan Amerika Serikat di Suriah.
Para pejabat Amerika Serikat mengklaim kehadiran Republik Islam Iran di Suriah sebagai sumber instabilitas di wilayah Timur Tengah, satu pekan setelah jet tempur F-16 rezim Zionis Israel ditembak jatuh oleh Angkatan Udara Suriah.
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dalam konferensi pers bersama Ayman al-Safadi, mitranya dari Yordania di Amman, Rabu (14/2/2018) mengeluarkan komentar anti-Iran dan mengklaim bahwa Iran adalah pemicu instabilitas di Suriah dan mereka harus menarik pasukannya dari negara tersebut.
Perimbangan di Suriah berubah setelah jet tempur Israel ditembak jatuh di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan pada 10 Februari 2018. Insiden ini mengirim pesan kepada Israel dan para pendukungnya bahwa era serangan sepihak dan tanpa balasan terhadap Suriah telah berakhir dan setiap tindakan agresif akan dibalas oleh Angkatan Bersenjata Suriah.

Sebenarnya, sumber instabilitas di Suriah dan Timur Tengah adalah serangan konstan Israel terhadap negara Arab tersebut dan peran ambigu AS dengan mendukung milisi Kurdi Suriah dengan alasan memerangi Daesh. Kehadiran ilegal AS di Suriah dan dukungan mereka terhadap manuver Israel telah membuat teroris bernafas lega di negara itu.
Namun, kehadiran Iran di Suriah terjadi atas permintaan pemerintahan konstitusional Presiden Bashar al-Assad untuk menumpas para teroris, yang didukung oleh Amerika dan sekutunya.
Pada Selasa lalu, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dalam pertemuan menlu negara-negara anggota koalisi anti-Daesh pimpinan AS di Kuwait, mengatakan koalisi internasional anti-Daesh tidak berusaha menghilangkan sumber finansial teroris, dan patut disesalkan bahwa beberapa posisi koalisi ini tidak didasarkan pada pemahaman yang akurat dan realistis mengenai akar fenomena terorisme dan perkembangan aktual masalah ini.
Jika koalisi pimpinan Amerika benar-benar memerangi terorisme di kawasan, tentu hari ini Suriah dan Timur Tengah tidak akan menghadapi instabilitas yang parah, dan tidak terwujudnya misi penting ini setelah Suriah didera krisis panjang, menunjukkan bahwa Washington dan sekutunya memainkan peran instabilisator di Suriah dan kawasan.
Setiap kali militer Suriah dan sekutunya berhasil memukul teroris, AS akan tampil sebagai juru selamat kelompok-kelompok teroris. Sebagai contoh, di tengah upaya maksimal untuk menghancurkan Daesh di utara dan timur Suriah, militer AS secara praktis bekerjasama dan membantu teroris Daesh.

Dalam hal ini, Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal al-Mekdad pada hari Rabu mengatakan AS telah memindahkan 1.000 teroris Daesh dengan pesawat dari Raqqa ke Deir Ezzor. Dia meminta PBB dan masyarakat internasional untuk meluncurkan investigasi tentang tindakan AS, yang mengancam stabilitas Suriah dan merongrong kedaulatan negara tersebut.
Jadi, sumber instabilitas di Suriah dan Timur Tengah bukan karena peran konstruktif dan kehadiran sah Iran di negara itu atau Irak, tapi karena pendekatan AS dan sekutunya. Tindakan ilegal AS telah mengancam stabilitas dan keamanan Suriah.
Di antara kebijakan AS di Suriah adalah mencoba untuk membangun pangkalan militer, membentuk pasukan milisi lokal di Suriah Utara, dan mengangkat isu penggunaan senjata kimia oleh Damaskus.
Tindakan ini bertolak belakang dengan upaya para aktor lain, termasuk Iran dan Rusia, di mana mereka memainkan peran konstruktif untuk menstabilkan Suriah dengan melibatkan pemerintah Damaskus. (RM)