Isu Rudal dan Upaya Baru Anti-Iran di Dewan Keamanan
Inggris, Amerika Serikat dan Perancis sedang berusaha mengalihkan perhatian opini publik dunia terhadap keterlibatan ketiga negara tersebut dalam kejahatan rezim Saudi di Yaman dengan menggelar pertunjukan politik dan tuduhan anti-Iran di Dewan Keamanan PBB terkait transfer senjata ke Yaman.
Sebuah draf usulan sedang dibahas dan melalui proses tawar-menawar, dijadwalkan akan divoting di Dewan Keamanan pada tanggal 26 Februari, sebuah langkah yang pada dasarnya tidak benar dan hanya akan semakin menguak peran positif dan konstruktif Iran di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa telah dua kali mencoba mengesankan bahwa faktor di balik berlanjutnya krisis di Yaman dan ketidakstabilan di wilayah Asia Barat, adalah Iran, yang mengirim senjata ke gerakan Ansarullah Yaman. Ketika Donald Trump melenggang ke Gedung Putih, dia berusaha keras mengecam Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun upayanya setiap kali digagalkan dengan diplomasi konstruktif dan mencerahkan Republik Islam terkait transformasi di wilayah sangat strategis Asia Barat.
Jelas bagi semua orang bahwa perang di Arab Saudi di Yaman dimulai dengan lampu hijau Amerika, dan para pilot serta jet tempur Amerika berperan sebagai pasukan support dalam perang ini. Penggunaan senjata terlarang dari AS dan persenjataan Inggris oleh koalisi besutan Saudi telah menghasilkan sebuah pertunjukan "kebidaban terhadap kemanusiaan" dan "kejahatan perang" di Yaman.
Dalam kondisi tersebut, menuduh Iran mengirim senjata kepada Houthi hanyalah sebuah skenario untuk memutarbalikkan fakta di Yaman. Dalam konteks yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi pada Selasa (20/2/2018) mengatakan bahwa "Menyusul blokade total terhadap Yaman yang menyebabkan kelaparan, kemiskinan dan perluasan wabah penyakit, klaim pengiriman rudal ke Yaman adalah skenario kekanak-kanakan, konyol dan bohong, yang tidak akan mampu membersihkan [catata] kejahatan para agresor."
Kondisi di zona udara, darat dan laut Yaman yang diblokade koalisi agresor Saudi tidak diragukan lagi akan menggagalkan upaya bersama Inggris, Amerika Serikat dan Perancis anti-Iran, dan ketiga negara tersebut tidak akan mampu meyakinkan anggota Dewan agar mengiringi dan bekerjasama dengan mereka.
Duta Besa Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menunjukkan bahwa Inggris, Amerika Serikat dan Perancis tidak akan menempuh jalan mulus di Dewan Keamanan untuk skenario anti-Iran mereka. Dikatakannya pada Rabu (21/2/2018), "Upaya untuk menjatuhkan sanksi anti-Iran di Dewan Keamanan tidak dapat diterima, dan masalah sanksi Yaman tidak ada kaitannya dengan Iran."
Abdel Aziz bin Habtour, Perdana Menteri Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman, baru-baru ini menolak klaim Saudi dan Amerika bahwa Iran mengirim ke Yaman dan mengatakan: "Yaman tidak pernah menerima rudal dari Iran."
Iran memiliki sikap yang jelas soal isu-isu regional dan secara tegas mengumumkan perannya di mana pun di manapun kehadirannya. Soal krisis Yaman, Iran telah mengusulkan sebuah rencana segiempat untuk solusi politik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang merupakan klarifikasi terkait kebijakan luar negeri Republik Islam Iran, dan politiknya dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan regional. Ini tidak akan terpengaruh proyeksi dan skenario negatif sejumlah negara Barat. Republik Islam Iran, sebagai negara yang bertanggung jawab, meyakini bahwa stabilitas dan perdamaian dan keamanan kawasan juga termasuk bagian darinya dan jujur melangkah mengupayakannya.(MZ)