Guardian: Iran Kini Punya Senjata Lebih Efektif dari Nuklir!
-
Selat Hormuz
Surat kabar Inggris The Guardian dalam sebuah laporan menulis bahwa para negosiator mantan perjanjian nuklir (JCPOA) meyakini penutupan Selat Hormuz, yang sebelumnya tidak dikehendaki Iran, telah mengubah kalkulasi kekuatan. Menurut salah satu dari mereka, tindakan ini memberi Iran instrumen yang bahkan lebih efektif dari senjata nuklir.
Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, 30 April 2026, perang AS dan Israel terhadap Iran kini memasuki minggu kedelapan, dua kali lipat dari yang diprediksi Presiden Trump. Prediksi tentang konsekuensi politik serangan awal terbukti meleset.
Iran selamat dari gempuran awal dan masih bertahan dengan keras. Dengan menutup Selat Hormuz, Iran memblokir sekitar seperlima perdagangan minyak global. AS sebagai respons memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran. Negosiasi saat ini macet. Tidak jelas apakah Gedung Putih bersedia menanggung biaya perang ekonomi jangka panjang atau risiko operasi militer untuk membuka kembali selat Hormuz.
Aaron David Miller, analis Carnegie Endowment dan mantan diplomat AS, mengatakan, "Perang ini telah berubah dari perang pilihan menjadi perang yang tak terhindarkan."
Konflik ini telah berubah menjadi krisis ekonomi global yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pekan ini saja, harga bensin di AS mendekati level tertinggi dalam empat tahun, dan diperkirakan akan terus naik menjelang pemilu paruh waktu yang krusial, yang bisa mengembalikan kendali Kongres ke Demokrat.
Miller menambahkan, "Situasi saat ini tidak bisa dipertahankan. Harus ada solusi. Pemerintah AS berada dalam posisi yang sangat sulit."
Pilihan Solusi yang Sulit
Salah satu opsi adalah negosiasi untuk pembukaan sementara Selat Hormuz, sementara perundingan nuklir mengenai nasib lebih dari 400 kg uranium yang diperkaya dan hak Iran atas pengayaan di masa depan ditunda. Namun menurut New York Times, Trump "tidak puas" dengan tawaran Iran untuk membuka kembali selat tersebut. Tehran menyatakan tidak bersedia berunding soal program nuklirnya, dan hanya akan membuka jalur laut jika mendapat biaya lintas.
Faktanya, pemerintahan Trump tidak ingin menandatangani kesepakatan yang menunjukkan kegagalan mencapai tujuannya di Iran, terutama jika kesepakatan itu dibandingkan dengan JCPOA, yang membatasi pengayaan Iran tapi tidak menghilangkannya sepenuhnya (Trump menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018).
Para negosiator mantan JCPOA menilai penutupan Hormuz telah mengubah segalanya. Iran kini memegang senjata yang bahkan lebih ampuh daripada bom nuklir: kemampuan menerapkan sanksi terhadap ekonomi global lewat jalur minyak. AS terjebak dalam perang yang tak terduga dan tak mudah diakhiri, sementara harga BBM di dalam negeri terus membakar kantong rakyatnya sendiri.(sl)