Tersudutnya Saudi dan Kian Rumitnya Perang Yaman
-
serangan drone
Mundurnya Ansarullah dari tiga pelabuhan Yaman dan diserahkannya kontrol keamanan kepada pasukan pemerintah, berlanjutnya agresi Arab Saudi dan balasan mematikan Ansarullah, adalah tiga tema utama dalam perkembangan terbaru perang Yaman.
PBB hari Sabtu (11/5/2019) mengumumkan Ansarullah Yaman mulai 11-14 Mei 2019 akan menarik pasukannya dari pelabuhan Al Hudaydah, Al Saleef dan Ras Isa. Langkah Ansarullah ini menjadi bukti bahwa pasukan rakyat Yaman itu memegang komitmennya atas kesepakatan Stockholm.
Sehubungan dengan hal ini, Utusan PBB untuk Yaman, Martin Griffiths pada 15 Mei 2019 di sidang Dewan Keamanan PBB mengatakan kelompok Houthi memegang komitmennya terkait kesepakatan menarik diri dari Al Hudaydah.
Pada saat yang sama koalisi pimpinan Saudi terus melanjutkan bombardir ke berbagai wilayah Yaman dan berusaha menunjukkan bahwa Ansarullah mundur dari tiga pelabuhan Yaman karena berada dalam posisi lemah.
Atas dasar itulah Saudi dan sekutunya terus membombardir wilayah-wilayah Yaman termasuk Al Hudaydah sehingga mengakibatkan korban dari warga sipil terus berjatuhan.
Namun brutalitas Saudi ini mendapat balasan mematikan dari Ansarullah dan militer Yaman. Pertama pada hari Selasa (14/5) Ansarullah menyerang dua stasiun pompa minyak milik perusahaan minyak nasional Saudi, Aramco, dengan drone.
Terkait hal ini Juru bicara militer Yaman mengatakan kami menyerang stasiun pompa minyak Saudi di dekat Yanbu dengan tujuh drone, serangan tersebut mengakibatkan terhentinya secara total pasokan minyak.
Kedua, unit rudal militer dan komite rakyat Yaman menyerang pangkalan militer Al Salb, Jizan, Saudi dengan rudal Zelzal. Serangan balasan itu menewaskan dan melukai sejumlah tentara Saudi yang tengah berada di kamp militer tersebut.
Jubir Ansarullah Yaman, Mohammed Abdulsalam menuturkan, kami sedang memasuki sebuah tahap strategis dan fase baru dari meningkatnya serangan terhadap Saudi.
Teladan yang ditunjukkan Ansarullah dalam menghadapi nafsu perang Saudi membawa beberapa pesan penting dan strategis.
Pertama, mundurnya pasukan Ansarullah dari pelabuhan Al Hudaydah, Al Saleef dan Ras Isa tidak menunjukkan kelemahan pasukan relawan rakyat Yaman itu, sebaliknya membuktikan niat baik untuk mewujudkan perdamaian dan mengakhiri perang, karena jika Ansarullah mau, mereka bisa membalas lebih keras serangan Saudi.
Kedua, balasan mematikan Ansarullah dan militer Yaman selain menunjukkan kemampuan pertahanan mereka, juga menepis anggapan bahwa pertahanan Saudi tidak bisa ditembus oleh pasukan Yaman. Saudi sekarang tidak bisa hanya menyerang tanpa menerima balasan setimpal.
Ketiga, langkah-langkah Ansarullah menunjukkan bahwa serangan ke pelabuhan Al Fujairah, Uni Emirat Arab adalah rekayasa semata, pasalnya Ansarullah tidak pernah menunjukkan kemampuan militernya sembunyi-sembunyi dan jika ingin menyerang sebuah lokasi atau instalasi tertentu mereka akan mengumumkannya secara terbuka.
Terakhir, berlanjutnya agresi militer Saudi ke Yaman yang mengabaikan niat baik Ansarullah adalah bukti tak terbantahkan bahwa Riyadh dan sekutunya berusaha memanfaatkan PBB untuk menutupi kekalahannya di Yaman dan faktor inilah yang membuat perang Yaman menjadi semakin rumit. (HS)