Jejak AS Cs dalam Kerusuhan di Irak dan Lebanon
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i75090-jejak_as_cs_dalam_kerusuhan_di_irak_dan_lebanon
Pemerintah Irak dan Lebanon telah menawarkan paket ekonomi untuk mengatasi kesulitan rakyatnya dan berjanji akan menindaklanjuti tuntutan demonstran. Tetapi, aksi protes dan kerusuhan di kedua negara tersebut tetap belum reda terutama di Irak.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 28, 2019 08:46 Asia/Jakarta
  • Aksi protes di Irak (kiri) dan Lebanon (kanan).
    Aksi protes di Irak (kiri) dan Lebanon (kanan).

Pemerintah Irak dan Lebanon telah menawarkan paket ekonomi untuk mengatasi kesulitan rakyatnya dan berjanji akan menindaklanjuti tuntutan demonstran. Tetapi, aksi protes dan kerusuhan di kedua negara tersebut tetap belum reda terutama di Irak.

Jelas bahwa masyarakat Irak dan Lebanon sedang menghadapi masalah ekonomi dan sosial. Problema utama mereka adalah masalah pengangguran, inflasi, kemiskinan, dan kualitas hidup yang buruk, ditambah lagi dengan masalah korupsi.

Kondisi seperti ini tentu akan memicu demonstrasi anti-pemerintah di negara mana pun, seperti yang dilakukan kelompok rompi kuning di Prancis pada Oktober 2018. Aksi protes mereka bahkan berlanjut sampai satu tahun dan menjalar ke beberapa negara Eropa lainnya.

Namun ada fenomena yang tidak biasa dalam demonstrasi di Lebanon dan secara khusus di Irak yaitu tidak memberikan kesempatan kepada pemerintah dan meningkatnya kekerasan. Dalam aksi protes pada Jumat lalu saja, lebih dari 30 demonstran Irak tewas dan lebih dari 2300 lainnya terluka.

Kepentingan asing tampaknya menjadi salah satu pemicu berlanjutnya demonstrasi di Lebanon dan kekerasan di Irak.

Perkembangan regional Timur Tengah sedang berjalan tidak searah dengan kepentingan Arab Saudi, Amerika Serikat, dan rezim Zionis Israel. Saudi menghadapi kekalahan di Yaman dan terperosok dalam krisis di negara itu. Kebijakan AS terhadap Iran tidak membawa hasil seperti yang diharapkan oleh Washington, dan Republik Islam menolak perundingan di bawah tekanan.

Ilustrasi aksi protes di Irak.

Rezim Zionis bergulat dengan krisis politik internal dan Benjamin Netanyahu kembali gagal membentuk kabinet, dan tidak jelas apakah Benny Gantz mampu membentuk kabinet baru Israel.

Poros Saudi-Amerika-Zionis sedang berusaha menciptakan kerusuhan di negara-negara pro-perlawanan di Timur Tengah dan menciptakan peluang bagi Riyadh dan Tel Aviv untuk mengurangi masalah yang dihadapinya.

Beberapa media baru-baru ini mempublikasikan dokumen tentang keterlibatan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan AS dalam kerusuhan di Lebanon dan Irak.

Surat kabar al-Ahed Lebanon menyebut kedutaan Saudi dan UEA di Beirut menyediakan dukungan untuk demonstran di Lebanon. Kedua kedutaan tersebut membayar setiap demonstran 100 dolar per hari dan menyediakan makanan, tenda, dan fasilitas lain.

Saudi dan UEA juga memberikan dukungan finansial kepada penentang Hizbullah pada pemilu parlemen 2018. Mereka mengeluarkan banyak biaya untuk merusak koalisi Hizbullah, tetapi Riyadh dan Abu Dhabi lagi-lagi harus menelan pil pahit.

Kedutaan AS di Baghdad juga memainkan peran terbuka dalam kerusuhan di Irak. Koran al-Akhbar dalam sebuah laporannya membongkar keterlibatan kedutaan AS dalam membentuk kelompok-kelompok perusuh di Irak. AS sudah bercokol di Irak selama 16 tahun dan menjarah puluhan miliar dolar dari pendapatan minyak negara itu, serta memainkan peran penting dalam memicu ketidakpuasan rakyat.

Untuk itu, pemerintah Irak dan Lebanon harus membulatkan tekadnya untuk meringankan beban warganya, namun masyarakat juga perlu waspada dan tidak terjebak dalam fitnah Arab, Zionis, dan Amerika. (RM)