KTT Kuala Lumpur dan Keterkucilan Saudi
KTT Kuala Lumpur menggambarkan posisi Arab Saudi yang terisolasi dan terkucil di dunia Islam.
Pertemuan yang diadakan di ibu kota Malaysia baru-baru ini dihadiri para pejabat tinggi dari 52 negara Muslim. Pertemuan tingkat puncak para pemimpin negara Muslim yang diprakarsai oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad bertujuan untuk mengkaji masalah-masalah dunia Islam dan memberikan solusinya.
KTT negara-negara Muslim ini memberikan pesan penting bagi Arab Saudi. Pertama, Arab Saudi tidak diundang di KTT Kuala Lumpur, padahal pertemuan ini dihadiri para pejabat tinggi dan tokoh penting dari 52 negara Muslim.
Hal ini menunjukkan bahwa para pejabat negara-negara Muslim cenderung menyalahkan Arab Saudi atas perpecahan dan friksi di dunia Islam dan sikapnya yang mengekor dikte kebijakan Barat dalam urusan negara-negara Muslim, terutama di kawasan Asia Barat.
Perang lima tahun yang disulut koalisi Arab pimpinan Arab Saudi di Yaman dan konsekuensinya yang berat bagi negara ini dan kawasan, pemutusan hubungan diplomatik dengan Republik Islam Iran dan Qatar, kedekatan terbuka dengan rezim Zionis dan langkah memarginalkan masalah Palestina, termasuk deretan kebijakan dan perilaku Arab Saudi yang telah banyak merugikan dunia Islam.
Kedua, KTT Kuala Lumpur dihadiri oleh para kepala negara dari sejumlah negara penting di dunia Islam seperti Republik Islam Iran, Turki dan Qatar. Posisi ketiga negara ini dipandang sebagai rival utama Arab Saudi dalam kebijakan regionalnya.
Ketika Riyadh tidak memiliki kekuatan untuk menantang Iran dan Turki secara serius, kehadiran Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, bersama dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, telah memicu kemarahan dari rezim Al Saud.
Harian Arab News dalam sebuah analisisnya menulis,"Tujuan pertemuan Kuala Lumpur, khususnya pertemuan antara Emir Qatar dan Presiden Republik Islam Iran untuk memprovokasi Arab Saudi,". Surat kabar Arab Saudi ini mengklaim, "Meskipun Qatar mencari saluran komunikasi dengan Arab Saudi, tapi dalam berbagi kasus seringkali tidak peduli dengan 'ikatan teluknya' dan berupaya memperluas hubungan dengan Iran dan Turki. "
Menghadapi posisinya yang terisolisasi tersebut, Arab Saudi telah mengambil sejumlah langkah. Pertama, menekan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan supaya tidak menghadiri KTT Kuala Lumpur. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menjelaskan bahwa perdana menteri Pakistan tidak menghadiri KTT Kuala Lumpur karena tekanan Saudi. Bagaimanapun, reaksi Saudi menunjukkan kemarahan besarnya terhadap penyelenggaraan KTT Kuala Lumpur.
Kedua, surat Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi. Surat itu sangat jelas menunjukkan kekhawatiran Raja Salman terhadap posisi Arab Saudi yang terisolasi di dunia Islam.
Ketiga, pendekatan media Al Saud. Media Saudi telah berusaha keras untuk menanamkan diktenya bahwa KTT Kuala Lumpur adalah inisiatif baru yang bertujuan untuk mengganti Organisasi Kerjasama Islam (OKI), karena organisasi inilah yang menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi para pemimpin negara-negara Muslim.
Padahal, tidak ada pejabat dari negara-negara yang menghadiri KTT Kuala Lumpur berbicara tentang upaya menggantikan peran OKI, tetapi menyampaikan pesan bahwa organisasi tersebut perlu memainkan peran lebih baik dan konstruktif, serta identitasnya lebih independen dari kepentingan negara tertentu.
Sejatinya, KTT Kuala Lumpur mengirimkan pesan jelas kepada rezim Al Saud supaya "mendefinisikan ulang" kebijakan regionalnya, khususnya tentang negara-negara Muslim.(PH)