Motif dan Dampak Sanksi AS terhadap Al-Hashd Al-Shaabi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i89421-motif_dan_dampak_sanksi_as_terhadap_al_hashd_al_shaabi
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Abu Fadak al-Mohammadawi, Wakil Komandan Al Hashd Al-Shaabi sebagai bagian dari tindakan permusuhannya terhadap gerakan perlawanan rakyat Irak ini.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 16, 2021 08:28 Asia/Jakarta

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Abu Fadak al-Mohammadawi, Wakil Komandan Al Hashd Al-Shaabi sebagai bagian dari tindakan permusuhannya terhadap gerakan perlawanan rakyat Irak ini.

Setelah Abu Mahdi al-Mohandes syahid, Abu Fadak al-Mohammadawi terpilih sebagai wakil komandan Al Hashd Al-Shaabi. Amerika Serikat sebelumnya telah menempatkan sejumlah komandan gerakan perlawanan Irak lainnya dalam daftar sanksi, termasuk Qais al-Khazali.

Tindakan AS tidak berakhir hanya dengan sanksi terhadap komandan perlawanan Irak, tetapi juga membunuh Abu Mahdi al-Mohandes, membunuh sejumlah pasukan perlawanan Irak dalam serangan militer, dan menambahkan beberapa kelompok perlawanan, termasuk Asaib Ahl al-Haq ke dalam daftar kelompok teroris

Tindakan ini menunjukkan permusuhan tanpa batas dari pemerintah AS terhadap kelompok perlawanan Irak dan seluruh kelompok perlawanan di kawasan Asia Barat.

Pertanyaan pentingnya, mengapa Amerika Serikat begitu memusuhi para komandan dan kelompok perlawanan Irak?

 

 

Dukungan rakyat Irak terhadap Al Hashd Al Shaabi

 

Alasan paling penting karena gerakan perlawanan rakyat Irak telah tumbuh di usia 6 tahun yang berhasil menggagalkan ambisi Amerika.

Amerika Serikat berusaha untuk memperkuat kehadiran dan pengaruhnya di Irak dengan dalih memerangi terorisme, tapi menggunakan kelompok  teroris semacam Daesh sebagai alat untuk mewujudkan ambisinya. Berdirinya gerakan perlawanan rakyat yang berperan penting dalam menumpas terorisme membuat Washington tidak hanya gagal meraih tujuannya, bahkan lebih dari itu menghadapi tuntutan luas untuk meninggalkan Irak. Amerika Serikat bereaksi terhadap keberhasilan organisasi perlawanan rakyat di Irak dengan mengambil tindakan keras terhadap komandan dan kelompok perlawanan rakyat.

"Abu Fadak dan para komandan gerakan perlawanan rakyat Irak lainnya telah mengganggu dan mempermalukan pemerintah AS serta mengabaikan semua tentara bayarannya," cuit Mahmoud al-Rabaie, juru bicara biro politik gerakan al-Sadiqun di akun Twitternya.

Kataib Hizbullah Irak juga mengeluarkan pernyataan yang menilai sanksi AS terhadap pejabat Al-Hashd Al-Shaabi sebagai tanda kepanikan AS terhadap kekalahannya menghadapi gerakan perlawanan rakyat Irak.

Faktor lain dalam permusuhan tak berujung Amerika Serikat terhadap gerakan perlawanan rakyat Irak karena Washington menginginkan militer Irak dalam kondisi pasif dan lemah, sehingga bergantung terhadap pasukan AS.

Amerika Serikat pada dasarnya tidak ingin negara-negara di kawasan, terutama negara-negara anggota Poros Perlawanan, memiliki tentara yang kuat dan solid. Pencantuman Al-Hashd Al-Shaabi dalam struktur resmi Irak menunjukkan bahwa organisasi ini dan komandannya sebagai bagian dari angkatan bersenjata demi mendukung kemandirian militer Irak.

 

Unjuk rasa rakyat Irak terhadap kehadiran AS di negaranya

 

Faktor penting lainnya dalam permusuhan AS terhadap gerakan perlawanan rakyat Irak dalam pandangan Washington sebagai ancaman bagi Gedung Putih dan saat ini memiliki pengaruh terus yang meningkat di Irak, terutama perannya dalam struktur kekuasaan dan dukungan rakyatnya yang meluas.

Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki kesalahpahaman terhadap Al-Hashd Al-Shaabi karena memandang hanya kalangan Syiah Irak saja yang menjadi anggota gerakan perlawanan rakyat ini. Padahal faktanya, banyak anggota dan pemimpinnya dari kalangan Sunni. Al Hashd Al-Shaabi sebagai gerakan rakyat tidak memiliki pandangan sektarian tentang kekuasaan di Irak.

Selain itu, Amerika Serikat juga keliru dalam meyakini bahwa dengan membatasi komandan dan kelompok perlawanan rakyat Irak bisa menimbulkan hambatan dalam jalannya kegiatan organisasi tersebut. Sementara itu, komandan Al-Hashd Al-Shaabi menganggap sanksi AS sebagai kehormatan dan tekad mereka untuk melanjutkan pendekatan anti-Amerika yang semakin tinggi.

Di sisi lain, Al-Hashd Al-Shaabi mendapat dukungan dari rakyat Irak, bahkan Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi, hadir di markas besar gerakan perlawanan rakyat Irak ini sebagai tanggapan atas aksi AS.

Tindakan AS justru menjadikan dukungan publik Irak terhadap Al-Hashd Al Shaabi semakin besar, yang terbukti selama kunjungan Faleh al-Fayadh ke beberapa kota Irak, termasuk Kirkuk, yang disambut luas.(PH)