Transformasi Asia Barat, 30 Januari 2021
-
Pembukaan kedutaan rezim Zionis di Abu Dhabi
Dinamika Asia Barat sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai keterlibatan tiga pihak luar negeri dalam aksi teroris di Irak.
Selain itu tentang dukungan AS dalam serangan Daesh terhadap Al Hashd Al-Shaabi, Israel meresmikan pembukaan kedutaannya di Abu Dhabi, UEA menyetujui pembukaan kedutaannya di Tel Aviv, Dewan Gereja Timteng menyerukan pencabutan sanksi AS terhadap Suriah, suara ledakan keras terdengar di Riyadh dan Ansarullah menyambut langkah Italia menghentikan penjualan Senjata ke koalisi Saudi.
Kataib Hizbullah Sebut Tiga Aktor Negara di Balik Aksi Teroris Terbaru di Irak
Pejabat keamanan Kataib Hizbullah menyebut Amerika Serikat, rezim Zionis dan Arab Saudi sebagai aktor utama di balik serangan teroris baru-baru ini di Irak.
Saberin News melaporkan, Abu Ali Al-Askari di akun Twitternya pada Minggu malam menulis, "Kami tegaskan bahwa aktor di balik pembunuhan dan pembantaian massal adalah Zionis-Amerika-Saudi. Oleh karena itu, kami harus menyerang sumbernya bukan melakukan aksi balas dendam terhadap pelaku di lapangan saja,".
Al-Askari mengimbau kelompok perlawanan di kawasan untuk membalas darah para syuhada perlawanan dan tidak mundur dari jalur perjuangan ini.
Pada Sabtu malam, milisi kelompok teroris Daesh menyerang pasukan Brigade 22 Al-Hashd Al-Shaabi di provinsi Salah al-Din, yang menyebabkan 11 orang anggota gerakan perlawanan rakyat Irak gugur dan 12 orang lainnya terluka.
Ini Buktinya AS Dukung Serangan Daesh terhadap Al Hashd Al-Shaabi
Media Irak melaporkan bahwa serangan yang dilancarkan elemen kelompok teroris Daesh terhadap pasukan Al-Hashd al-Shaabi di provinsi Salah al-Din dilakukan dengan dukungan AS.
Milisi teroris Daesh yang masih tersisa di Irak menyerang posisi Brigade 22 Hashd al-Shaabi di daerah Himreen, Provinsi Salahuddin yang menyebabkan sembilan anggota pasukan mobilisasi rakyat Irak ini gugur dalam serangan tersebut.
Kantor Berita Al-Ahed News hari Minggu mengutip sumber keamanan yang tidak ingin disebutkan namanya melaporkan bahwa kamera termal Al-Hashd al-Shabi memantau pendaratan helikopter militer AS di daerah pegunungan Himreen di provinsi Salah al-Din beberapa hari lalu.
Helikopter tersebut membawa bantuan senjata, dan peralatan untuk mendukung kelompok teroris Daesh.
Sumber keamanan mengatakan bahwa teroris Daesh menggunakan senjata berat dan berbagai senjata dalam serangan terhadap pasukan al-Hashd al-Shabi di Himreen.
Pasukan AS terus mendukung kelompok teroris untuk mengganggu keamanan dan mendapatkan kembali kendali atas daerah-daerah di provinsi Salah al-Din.
Sisa-sisa teroris Daesh masih tersebar di berbagai wilayah Irak dan melakukan serangan teror secara sporadis.
Daesh menyerang Irak pada tahun 2014 dengan dukungan dana dan logistik militer dari Amerika Serikat dan sekutunya termasuk Arab Saudi.
Israel Resmikan Pembukaan Kedutaannya di Abu Dhabi
Kementerian Luar Negeri rezim Zionis menyatakan kedutaan Israel secara resmi dibuka di Abu Dhabi pada hari Minggu dengan kehadiran delegasi diplomatiknya.
The Jerusalem Post hari Minggu (24/1/2021) melaporkan, Eitan Na'eh menjabat sebagai kuasa usaha sampai duta besar tetap ditunjuk kementerian luar negeri Israel, menghadiri peresmian kedutaan Israel di Abu Dhabi.
Selama gedung permanen baru belum berdiri, kedutaan Israel akan dipimpin Eitan Na'eh dan berkantor di gedung sementara yang telah diresmikan kemarin.
Pembukaan kedutaan rezim Zionis di Abu Dhabi datang hanya beberapa hari setelah kedutaannya di Manama mulai beroperasi beberapa pekan lalu.
Pada saat yang bersamaan Dewan Kabinet Uni Emirat Arab (UEA) menyetujui pembukaan kedutaan negaranya di Tel Aviv.
Langkah UEA dan beberapa negara Arab lainnya yang menjalin normalisasi hubungan dengan rezim Zionis dipandang berbagai kalangan dunia Islam sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
UEA Setujui Pembukaan Kedutaannya di Tel Aviv
Dewan Kabinet Uni Emirat Arab (UEA) menyetujui pembukaan kedutaan negaranya di Tel Aviv.
Reuters Minggu (24/1/2021) melaporkan, pemerintah UEA setuju untuk membuka kedutaan besarnya di Tel Aviv pada hari Minggu dalam pertemuan yang dipimpin oleh Emir Dubai, Mohammed bin Rashid Al Maktoum di Abu Dhabi.
Keputusan UEA dibuat untuk menarik dukungan dari pemerintahan baru Presiden AS Joe Biden.
Sejauh ini, di bawah tekanan Amerika Serikat, empat negara Arab UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko telah mencapai kesepakatan dengan Israel tentang normalisasi penuh hubungan diplomatik.
Kesepakatan tersebut memicu penentangan luas di dunia Islam.
Dewan Gereja Timteng Serukan Pencabutan Sanksi AS terhadap Suriah
Para pemimpin Gereja, pemimpin agama, dan Dewan Gereja Timur Tengah telah meminta presiden AS yang baru, Joe Biden untuk mencabut sanksi sepihak Gedung Putih terhadap rakyat Suriah.
Kantor Berita Suriah, SANA hari Minggu (24/1/2021) melaporkan, kepala gereja, otoritas agama dan Dewan Gereja Timur Tengah mengirim surat kepada Presiden AS, Joe Biden tentang sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Suriah.
"Rakyat Suriah memiliki hak untuk hidup bermartabat setiap hari. Sanksi merupakan pelanggaran dan memicu bencana kemanusiaan di negara ini," tulis bunyi surat yang dikirim Dewan Gereja Timur Tengah.
Surat dari Dewan Gereja Timur Tengah berpijak pada laporan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Alina Dohan tentang dampak negatif sanksi AS terhadap kehidupan warga Suriah.
Surat tersebut disiapkan oleh Michal Abbas, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Timur Tengah, dan sejumlah pemimpin gereja Timur Tengah yang ditandatangani pemimpin gereja Yunani Ignatius Ignace III dan sejumlah otoritas agama, politik dan sosial di Suriah.
Pada Desember 2019, anggota Senat AS mengesahkan Caesar Act tentang sanksi terhadap Suriah, dan Presiden AS Donald Trump menandatangani serta menerapkannya pada 20 Desember 2019.
Departemen Keuangan AS juga menargetkan sanksi baru terhadap Suriah, dengan memasukkan beberapa individu dan entitas dalam daftar hitam.
Suara Ledakan Keras Terdengar di Riyadh
Berbagai sumber media mengonfirmasi suara ledakan keras terdengar di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Amadpress melaporkan suara ledakan mengerikan terdengar Sabtu (23/1/2021) pagi di Riyadh. Suara ledakan tersebut akibat benturan roket sistem pertahanan Arab Saudi dengan rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman.
Warga Arab Saudi merilis gambar asap akibat ledakan ini di jejaring sosial.
Televisi Aljazeera melaporkan, sistem anti udara Arab Saudi melacak dan menghancurkan sebuah rudal balistik di zona udara Riyadh.
Sumber resmi Arab Saudi sampai saat ini belum merilis laporan mengenai ledakan tersebut.
Militer bersama komite rakyat Yaman hampir setiap hari menembakkan rudal balistik ke wilayah Arab Saudi. Langkah ini sebagai respon atas pelanggaran Koalisi Saudi ke Yaman dan penargetan terhadap warga sipil.
Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA) dan sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara Arab miskin ini dari darat, udara dan laut.
Perang yang dikobarkan Arab Saudi beserta sekutunya di Yaman sampai saat ini telah menewaskan lebih dari 16 ribu warga Yaman, melukai puluhan ribu lainnya dan memaksa jutaan orang lainnya mengungsi.
Ansarullah Sambut Langkah Italia Hentikan Penjualan Senjata ke Koalisi Saudi
Gerakan Ansarullah Yaman, menyambut keputusan pemerintah Italia yang menghentikan penjualan senjata kepada negara-negara koalisi agresor pimpinan Arab Saudi.
Televisi Aljazeera melaporkan bahwa pemerintah Italia telah membatalkan izin penjualan bom dan rudal ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi serta menolak mengeluarkan izin untuk penjualan senjata baru kepada koalisi Saudi.
“Hari ini saya mengumumkan bahwa pemerintah telah mencabut otorisasi yang sedang berjalan untuk ekspor rudal dan bom pesawat ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab,” kata Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio pada hari Jumat.
Koalisi pimpinan Saudi dengan dukungan AS dan beberapa negara lain, telah melancarkan invasi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memberlakukan blokade dari darat, laut, dan udara.
Agresi Saudi dan sekutunya telah menewaskan dan melukai puluhan ribu orang serta menyebabkan jutaan orang Yaman mengungsi. (PH)