Apa Motif NATO Menambah Pasukan di Irak ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i91796-apa_motif_nato_menambah_pasukan_di_irak
Kehadiran militer negara Barat di Irak dimulai pasca pendudukan negara ini oleh Amerika Serikat pada tahun 2003, dan terus berlanjut sampai sekarang.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 20, 2021 16:39 Asia/Jakarta
  • Jens Stoltenberg
    Jens Stoltenberg

Kehadiran militer negara Barat di Irak dimulai pasca pendudukan negara ini oleh Amerika Serikat pada tahun 2003, dan terus berlanjut sampai sekarang.

Mantan Presiden Amerika Donald Trump sebelumnya telah mengeluarkan keputusan untuk mengurangi jumlah pasukan negara itu di Irak menjadi 2.500 personel, tapi sekarang Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO berniat menambah jumlah pasukannya di Irak.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg pada Kamis, 18 Februari 2021 di akhir pertemuan Menteri Pertahanan negara-negara NATO mengumumkan, hasil pembicaraan anggota NATO pada Rabu dan Kamis, memutuskan jumlah pasukan organisasi ini di Irak akan ditambah dari 500 menjadi 4.000 personel.

Ia menambahkan, kehadiran pasukan NATO di Irak saat ini terbatas, namun sudah diputuskan agar kehadiran militer kita di negara ini ditingkatkan secara bertahap.

Sekjen NATO mengklaim alasan penambahan jumlah pasukannya di Irak hingga 8 kali lipat diambil untuk mencegah bangkitnya kembali kelompok teroris Daesh.

Keputusan NATO menunjukkan perubahan 180 derajat kebijakan organisasi ini di Irak. Pasca kekalahan Daesh, disusul meningkatnya ketegangan Iran-Amerika Serikat buntut dari teror terhadap Letjend Qassem Soleimani, dan wabah virus Corona, negara-negara NATO menarik sejumlah banyak tentaranya dari Irak, dan menangguhkan pelatihan militer untuk pasukan negara ini.

pasukan NATO di Irak

Akan tetapi sekarang bersamaan dengan berkuasanya pemerintahan baru di Amerika, para Menhan negara NATO pada pertemuan terbarunya memutuskan untuk menambah jumlah pasukan di Irak hingga 8 kali lipat dengan dalih melawan Daesh. Saat ini 500 personel militer NATO yang ditempatkan di Irak bertugas melatih pasukan negara itu.

Di sisi lain, karena penentangan Dewan Keamanan PBB, serangan militer Amerika dan Inggris ke Irak pada 2003 yang berujung pendudukan negara itu dan jatuhnya Saddam Hussein, dianggap melanggar hukum dan ilegal.

Namun sejak tahun 2004 sampai sekarang NATO bertugas melatih dan memberikan konsultasi militer kepada pasukan Irak. Berbeda dengan pasukan Amerika dan koalisi pimpinannya di Irak yang melancarkan operasi militer, tugas NATO hanya memberikan pelatihan dan konsultasi militer kepada tentara dan polisi Irak.

Meskipun demikian, karena jumlah pasukan Amerika di Irak akan dikurangi menjadi 2.500 personel saja, pada saat yang sama serangan terhadap pasukan Amerika di Irak mengalami peningkatan, termasuk serangan roket ke Erbil Wilayah Kurdistan Irak yang sangat mencurigakan, penambahan pasukan NATO di negara ini dianggap punya dalih yang cukup.

Salah seorang analis politik Irak, Abbas Al Ardawi mengatakan, keputusan NATO menambah pasukannya di Irak hingga 8 kali lipat adalah bentuk penjajahan. Kenyataannya, pasukan NATO di Irak akan memainkan peran Amerika. Washington berusaha mengakali keputusan Parlemen Irak untuk mengusir pasukan asing dari negara ini.

Jika sampai terjadi, penambahan pasukan NATO di Irak akan menunjukkan perluasan cakupan wilayah operasi NATO di luar Eropa, dan penambahan ini realitasnya dilakukan untuk menutup kekosongan pasukan Amerika di Irak. (HS)