Hormozgan, Rumah Pembuat Perahu Kayu Terakhir di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185782-hormozgan_rumah_pembuat_perahu_kayu_terakhir_di_teluk_persia
Pars Today - Di sepanjang pantai indah Teluk Persia di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, para pengrajin masih membuat perahu kayu atau lenj dengan tangan, menjaga tradisi maritim yang telah menghubungkan komunitas pesisir dengan laut selama berabad-abad.
(last modified 2026-02-20T18:06:09+00:00 )
Feb 21, 2026 00:53 Asia/Jakarta
  • Hormozgan dan pembuatan kapal kayu
    Hormozgan dan pembuatan kapal kayu

Pars Today - Di sepanjang pantai indah Teluk Persia di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, para pengrajin masih membuat perahu kayu atau lenj dengan tangan, menjaga tradisi maritim yang telah menghubungkan komunitas pesisir dengan laut selama berabad-abad.

Di tengah angin asin yang bertiup di sepanjang pantai paling selatan Iran, suara kapak yang menghantam kayu masih dapat terdengar di desa-desa pesisir yang tersebar. Di sini, laut telah membentuk kehidupan masyarakat selama beberapa generasi, dan dari pasang surut inilah muncul "perahu kayu", sebuah kapal layar kayu yang dulunya tersebar luas di seluruh Teluk Persia.

Saat ini, perahu-perahu ini langka, tetapi kenangan membangun dan mengarungi perahu-perahu ini masih hidup dalam benak para pengrajin tua yang membangunnya dengan tangan.

Tradisi ini diakui oleh UNESCO pada tahun 2011, ketika keterampilan tradisional membangun dan mengarungi perahu panjang Iran di Teluk Persia dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak.

Pantai Hormozgan, yang membentang dari Bandar Abbas hingga pulau Qeshm dan Hormoz, merupakan perpaduan antara desa-desa yang bermandikan sinar matahari, perkebunan kurma, dan perairan biru kehijauan. Di tempat-tempat seperti Laft dan Kong, berabad-abad kehidupan maritim terukir di rumah-rumah batu tua dan bengkel perahu sederhana tempat perahu panjang dipelihara seperti makhluk hidup.

Pulau Qeshm, pulau terbesar di Teluk Persia, terletak di jalur laut kuno yang menghubungkan Semenanjung Arab ke anak benua India.

Sepanjang sejarah Iran yang tercatat, para pelaut, pedagang, dan nelayan di wilayah ini membangun kehidupan mereka berdasarkan penguasaan angin, air, dan kayu.

Kapal yang Lahir dari Kayu dan Seni

Kapal kayu adalah kapal layar tradisional dengan lambung panjang dan tiang tinggi yang pernah mendominasi perairan Teluk Persia.

Kapal-kapal ini dibangun sepenuhnya dengan tangan, tanpa menggunakan rencana formal atau alat mesin. Setiap kapal kayu adalah hasil dari pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui magang yang erat dan pengajaran lisan.

Para pembuat kapal kayu, yang secara lokal dikenal sebagai "golaf", belajar dengan mengamati para ahli, menghafal proporsi, dan mempelajari seluk-beluk pemilihan kayu, pembengkokan, dan penyambungan.

Tempat pembuatan kapal kayu

Pembangunan kapal lenj dimulai dengan meletakkan lunas (pilar utama bagian bawah kapal), yang dibentuk langsung di atas pasir atau di bengkel sederhana untuk memastikan keseimbangan dan kapasitas daya angkut.

Papan-papan dibengkokkan dengan panas dan uap, dan sambungannya disegel dengan resin alami dan serat kapas untuk menahan air asin dan korosif Teluk Persia.

Secara tradisional, hanya beberapa pekerja terampil yang mengerjakan pembangunan kapal kayu, dan tergantung pada ukuran dan kondisinya, pengerjaannya bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Pembuatan perahu kayu bukan hanya tugas teknis, tetapi juga melibatkan musik, ritme, dan kerja tim. Saat membangun dan meluncurkan perahu lenj, para pekerja menyanyikan lagu-lagu khusus yang menciptakan rasa solidaritas dan mewariskan pengetahuan dari guru kepada murid.

Selama berabad-abad, perahu kayu merupakan bagian integral dari kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat pesisir di Iran selatan. Perahu-perahu ini membawa nelayan ke perairan dalam, tempat tuna dan spesies lainnya berlimpah.

Perahu kayu ini juga mengangkut kurma, tekstil, dan barang-barang lainnya ke pelabuhan di Teluk Persia selatan, Afrika Timur, dan anak benua India.

Beberapa juga digunakan dalam industri mutiara—tugas yang menuntut keterampilan, daya tahan, dan pemahaman yang mendalam tentang laut.

Para pelaut perahu kayu tidak hanya dilengkapi dengan kekuatan fisik tetapi juga dengan pengetahuan mendalam tentang angin dan bintang. Sebelum alat bantu navigasi modern, kapten menggunakan posisi matahari dan bintang untuk menentukan posisi mereka.

Mereka bahkan menggunakan warna air, bentuk awan, dan suara burung untuk memandu pelayaran panjang.

Tradisi yang Terancam Punah

Meskipun perahu kayu memiliki nilai sejarah yang penting, tradisi ini sekarang terancam. Pada paruh kedua abad ke-20, perahu fiberglass muncul sebagai pilihan yang lebih murah dan cepat.

Perahu lenj kayu menjadi mahal untuk dibangun dan dipelihara, terutama karena harga kayu naik dan jumlah pengrajin terampil berkurang.

Bengkel-bengkel yang dulunya ramai kini sunyi atau hanya digunakan untuk memperbaiki perahu kayu tua.

Perubahan sosial juga membuat kerajinan ini kurang menarik bagi generasi muda, yang tertarik dengan pekerjaan perkotaan dan kehidupan modern.

Saat ini, jumlah pembuat perahu kayu sedikit dan sebagian besar sudah lanjut usia, dan sebagian besar pengetahuan ini masih berada di tangan para ahli tua ini.

Pada tahun 2011, Iran memasukkannya ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak untuk melindungi warisan berharga ini.

Upaya untuk Melestarikan Warisan Ini

Pencantuman di UNESCO membawa perhatian nasional dan internasional pada seni ini. Sejak saat itu, para aktivis lokal, organisasi budaya, dan beberapa lembaga telah berupaya memperkenalkan seni ini kepada generasi muda melalui lokakarya, pameran, dan dokumentasi.

Beberapa pihak juga melihat pariwisata budaya sebagai peluang untuk melestarikan tradisi ini dan mengundang pengunjung untuk menyaksikan pembangunan perahu panjang dari dekat.

Pembangunan perahu kayu tidak hanya terbatas pada pembuatan perahu, tetapi juga membentuk budaya maritim, dengan kapal-kapal ini menjadi tulang punggung komunitas pesisir.

Jejak budaya ini masih dapat dilihat dalam musik lokal, lagu-lagu laut, dan sejarah lisan.

Saat ini, dengan menurunnya jumlah perahu lenj yang aktif, unsur-unsur budaya ini menjadi semakin penting, memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk terhubung kembali dengan pengetahuan, nilai-nilai, dan identitas maritim mereka.(sl)