Negara-Negara ASEAN Tidak Satu Suara Sikapi AUKUS
https://parstoday.ir/id/news/world-i109522-negara_negara_asean_tidak_satu_suara_sikapi_aukus
Negara-negara anggota ASEAN tidak memiliki satu suara dalam menyikapi kesepakatan AUKUS yang ditandatangani Australia, Inggris dan AS.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Nov 23, 2021 10:44 Asia/Jakarta
  • Negara-Negara ASEAN Tidak Satu Suara Sikapi AUKUS

Negara-negara anggota ASEAN tidak memiliki satu suara dalam menyikapi kesepakatan AUKUS yang ditandatangani Australia, Inggris dan AS.

Indonesia tampil menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang mengkritik kerja sama AUKUS. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia  Retno Marsudi mengkhawatirkan rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir AUKUS dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, terutama soal perlombaan senjata.

"Saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan," kata Retno dilansir CNN.

Tak hanya itu, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Abdul Kadir Jailani, juga menilai kesepakatan AUKUS dapat meningkatkan risiko konflik terbuka di Indo-Pasifik. Selain itu, Kadir memandang AUKUS berpotensi mengabaikan komitmen negara-negara terkait perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT). Menurutnya, kemitraan AUKUS masih memiliki banyak celah yang dapat berisiko mengarah pada pengabaian komitmen NPT.

Selain Indonesia, Malaysia juga turut menyuarakan kekhawatiran mereka terkait AUKUS. Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob menilai AUKUS dapat memprovokasi kekuatan lain untuk bertindak lebih agresif, terutama di Laut China Selatan.

Tak hanya itu, Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah, mengatakan Kuala Lumpur dan Jakarta menyimpan kekhawatiran yang sama mengenai dampak dan konsekuensi dari kemitraan AUKUS di kawasan.

Berbeda dengan pejabat kedua negara ini, Filipina dan Singapura memiliki pandangan yang berbeda. Filipina mendukung kemitraan AUKUS yang dianggap Manila dapat mengimbangi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.

"Faktor jarak kedekatan memunculkan waktu untuk merespons segera; dengan demikian meningkatkan kapasitas militer teman dekat dan sekutu ASEAN untuk merespons secara tepat waktu dan sepadan terhadap ancaman terhadap kawasan atau tantangan terhadap status quo peting adanya," ujar Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin, dalam pernyataan resmi pada September lalu.

"Ini membutuhkan peningkatan kemampuan Australia, ditambah dengan sekutu militer utamanya, untuk mencapai kalibrasi itu," paparnya menambahkan.

Menurut Locsin, tanpa membangun senjata nuklir, upaya pembangunan kapal nuklir bertenaga nuklir tak melanggar pakta anti-proliferasi senjata nuklir.

Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, juga sempat mengutarakan posisi negaranya soal AUKUS.

 

 

Nayar mengatakan Singapura menyambut baik janji Australia bahwa AUKUS dapat mempromosikan dan menjaga stabilitas dan keamanan Asia Pasifik.

Ia mengatakan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sudah melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Perdana Menteri Scott Morrison pada 16 September.

Pada akhir Oktober, PM Le juga menegaskan lagi bahwa AUKUS mendukung sentralitas ASEAN, kerja sama ekonomi, dan perlindungan keamanan Asia Pasifik, termasuk penegakkan hukum internasional seperti Konvensi Hukum Laut UNCLOS 1982.

"Kami menyambut baik jaminan Australia bahwa kemitraan AUKUS dengan AS dan Inggris ini akan konsisten dengan kriteria-kriteria tersebut," kata Lee seperti dikutip Channel NewsAsia.

Sikap berbeda juga ditunjukkan Vietnam dalam menyikapi perjanjian AUKUS. Juru bicara Vietnam Le Thi Thu Hang menegaskan bahwa Vietnam selalu memantau perkembangan geopolitik di kawasan.

"Semua negara berjuang untuk tujuan yang sama yaitu perdamaian, stabilitas, kerja sama dan pembangunan di kawasan dan di seluruh dunia", kata Hang ketika ditanya soal sikap Vietnam akan AUKUS.

"Energi nuklir harus dibangun dan digunakan untuk perdamaian dan mendukung pembangunan sosio-ekonomi, memastikan keselamatan manusia dan lingkungan," tambah Hang ketika ditanya soal pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia.

Wakil Presiden Akademi Diplomat Vietnam, Nguyen Hung Son, menyampaikan seharusnya AS, Inggris, dan Australia turut mendiskusikan kemitraan AUKUS dengan ASEAN. Sebab, kesepakatan ketiga negara besar itu berhubungan dengan wilayah Asia Tenggara.

Ia menilai perjanjian AUKUS memunculkan kesan bahwa AS dan bahkan Inggris memiliki komitmen jangka panjang di kawasan Indo-Pasifik. Nguyen juga menyerukan supaya ASEAN perlu bertanya pada dirinya sendiri mengapa kesepakatan itu terjadi di atas wilayah ASEAN, tapi tanpa sepengetahuannya.(PH)