Intervensi Turki terhadap Negara Tetangga
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu hari Rabu (8/6/2016) bertemu dengan Riyad Hijab, kepala delegasi tinggi dialog Suriah dari kubu oposisi. Pertemuan tersebut berlangsung pasca kegagalan perundingan babak ketiga Suriah di Jenewa. Kegagalan perundingan dipicu sikap kubu oposisi yang berafiliasi dengan Riyadh.
Pertemuan antara Mevlut Cavusoglu dan Riyad Hijab berlangsung secara tertutup. Meskipun demikian, media regional berhasil merekam berlanjutnya dukungan Ankara terhadap kubu oposisi Suriah untuk meneruskan konflik di negara tetangganya sendiri.
Kebijakan ini tidak bisa dilepaskan dari strategi pribadi Erdogan sendiri untuk menghidupkan imperium Ottoman. Koran Al-Ahram Mesir mengingatkan presiden Turki untuk menyelesaiakan masalah dalam negerinya sendiri dari pada melanjutkan intervensi terhadap Irak dan Suriah. Koran Al-Ahram dalam statemennya menyinggung instabilitas yang terjadi di Turki saat ini, terutama di wilayah Kurdi yang merembet ke Ankara hingga Istanbul sebagai pusat aktivitas politik dan ekonomi Turki.
Peringatan tentang intervensi Turki di Suriah dan Irak tidak hanya berhenti di sana. Perwakilan Rusia yang mengawasi gencatan senjata Suriah hari Selasa (7/6) melaporkan masuknya sebuah konvoi pasukan bersenjata dari arah Turki menuju wilayah Suriah yang dikuasai kelompok teroris Daesh. Pada hari Rabu, 160 teroris melintasi perbatasan Turki memasuki Allepo untuk bergabung dengan kelompok teroris Front Al-Nusra.
Berbagai pihak, termasuk pemerintah Suriah dan Rusia berulangkali mengungkapkan fakta mengenai penjualan minyak jarahan Suriah oleh kelompok teroris Daesh ke Turki. Selain itu, pemerintah Turki juga terbukti memasok senjata untuk kelompok teroris yang beroperasi di Suriah. Tapi segera dibantah oleh Pemerintah Turki tanpa memberikan bukti faktual.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sejak awal meletusnya konflik di Suriah merupakan pendukung utama pihak yang menghendaki pemerintahan Assad tumbang.
Kali ini, pertemuan Mevlut Cavusoglu dengan Riyad Hijab semakin memperjelas posisi Ankara sebagai pendukung kelompok oposisi Suriah. Oleh karena itu, kekalahan kubu oposisi Suriah dalam pertempuran di lapangan dipandang Turki sebagai kekalahan Ankara. Kekalahan tersebut menjadi mimpi buruk bagi pemerintah Erdogan yang ingin mengibarkan kembali bendera imperium Ottoman.
Sementara itu, tersebar berita mengenai ambisi Daesh menambahkan dua provinsi Turki ke dalam wilayahnya. Jika berita ini benar, Turki sedang menghadapi bumerang dari kaderannya sendiri. Di sisi lain, target media Turki menggulirkan isu mundurnya Daesh ke wilayah Turki dan penambahan dua provinsi Turki dalam wilayah Daesh demi memudahkan bantuan terhadap oposisi Suriah, mengontrol Daesh dan kelompok teroris lainnya, serta upaya menjustifikasi aksi militer di perbatasan Turki dan Suriah, bahkan di dalam Suriah sendiri. Sebelumnya, pemerintah Turki telah menjalankan metode ini untuk menekan Kurdi dan melancarkan intervensi militer di wilayah Irak. (PH)