Lampu Hijau Senat AS untuk Teroris
https://parstoday.ir/id/news/world-i12586-lampu_hijau_senat_as_untuk_teroris
Senat Amerika Serikat pada Senin (20/6/2016) menolak empat langkah untuk menjauhkan senjata api dari orang-orang yang masuk dalam daftar terorisme.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 22, 2016 10:52 Asia/Jakarta
  • Lampu Hijau Senat AS untuk Teroris

Senat Amerika Serikat pada Senin (20/6/2016) menolak empat langkah untuk menjauhkan senjata api dari orang-orang yang masuk dalam daftar terorisme.

Penolakan ini terjadi hanya beberapa hari pasca penembakan brutal di kelab malam di Orlando, Florida. Serangan teror yang menewaskan 50 orang di Orlando telah mengintensifkan upaya di Senat AS untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Namun, kubu Republik yang menguasai Senat dan sekutunya, Asosiasi Senjata Api Amerika (NRA), menolak semua proposal untuk memperketat kontrol senjata di AS. Salah satu dari proposal itu adalah menuntut pemeriksaan latar belakang pembeli dan mencegah tersangka teroris memperoleh senjata.

Proposal lain meminta penambahan anggaran untuk pemeriksaan latar belakang pembeli, menunda penjualan senjata kepada orang-orang yang masuk dalam daftar pengawasan polisi, dan mencegah penjualan kepada tersangka teroris.

Kubu Republik mengklaim bahwa draft undang-undang yang diajukan Partai Demokrat terlalu ketat dan bertentangan dengan hak konstitusional warga negara untuk memiliki senjata.

Omar Mateen, pelaku penembakan di Orlando adalah individu yang berada dalam pengawasan otoritas keamanan AS dan pernah diinterogasi oleh FBI pada 2013 dan 2014. Meski demikian, ia – dengan latar belakang seperti ini – dapat membeli senjata hanya beberapa hari sebelum peristiwa penembakan dan menciptakan teror terburuk dalam sejarah AS sejak peristiwa 11 September 2001.

Para analis mengatakan bahwa jika latar belakang Mateen diperiksa dengan ketat pada saat membeli senjata atau mengabarkan FBI atas pembelian seperti itu, maka penembakan massal di Orlando tidak akan terjadi.

Kematian 50 orang di Orlando adalah sebuah insiden yang sudah terjadi dan tidak ada yang bisa diubah. Meski demikian, sikap pasif Kongres AS dalam menyikapi ancaman-ancaman di dalam negeri tentu berpotensi kejadian serupa terulang.

Para teroris lokal atau asing di AS tidak kesulitan untuk memperoleh senjata dan mereka akan mampu melakukan serangan yang lebih besar dari penembakan Orlando. Para teroris dapat leluasa mendatangi toko-toko penjualan senjata tanpa perlu mengkhawatirkan latar belakang dan kemudian melakukan pembunuhan di setiap sudut AS.

Setelah terjadinya setiap peristiwa mematikan, para politisi tentu akan menyampaikan simpati dan rasa duka kepada keluarga korban dan kemudian memberikan pernyataan yang penuh emosional.

Lalu, bagaimana bisa negara yang mengaku memimpin perang global anti-terorisme bahkan tidak ingin atau tidak mampu membatasi atau mencegah akses para terduga teroris ke mesin-mesin pembunuh di wilayahnya sendiri? Mungkin ini jawaban yang tepat bahwa berlanjutnya perputaran uang di industri senjata api AS jauh lebih penting daripada menyelamatkan nyawa manusia, meskipun senjata itu dipakai oleh teroris dan korbannya warga Amerika. (RM)