Amerika Tinjauan dari Dalam, 13 November 2022
https://parstoday.ir/id/news/world-i133386-amerika_tinjauan_dari_dalam_13_november_2022
Perkembangan di Amerika selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting, di antaranya, Komandan AS: Ukraina Hanya Pemanasan, Perang Besar akan Tiba.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 13, 2022 13:55 Asia/Jakarta
  • Charles A. Richard
    Charles A. Richard

Perkembangan di Amerika selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting, di antaranya, Komandan AS: Ukraina Hanya Pemanasan, Perang Besar akan Tiba.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti; Pentagon: Kami Tak Bisa Konfirmasi Klaim Ukraina soal Rudal Iran, AS Masih Tekankan Dukung Kerusuhan di Iran, Biden: Amerika Tidak Berikan 'Cek Kosong' ke Ukraina, Biden: Selama Pasukan Rusia di Ukraina, Perang tidak akan Berakhir, Anggota Kongres AS Serukan Pengakuan terhadap Pemerintahan Taliban, AS Mengaku Cemas dengan Uji Coba Roket Pembawa Satelit Iran, AS Diam-Diam Minta Ukraina Kembali Berunding dengan Rusia, Trump Pertanyakan Integritas Pemilu Sela Kongres 2022.

Komandan AS: Ukraina Hanya Pemanasan, Perang Besar akan Tiba

Laksamana Charles A. Richard, Sabtu (5/11/2022) dalam salah satu statemennya mengklaim bahwa Cina adalah masalah terdekat, dan jika level pencegahan terhadap Cina dievaluasi, maka kapal AS sedang tenggelam.

Perang di Ukraina

Ia menambahkan, "Kapal AS ini perlahan sedang tenggelam, dan pasti akan tenggelam, pasalnya orang-orang Cina secara asasi maju lebih pesat dari kita."

Menurut Laksamana Charles, pasukan AS tangan dan kakinya terikat, lambat dalam merespon, dan terancam kekurangan anggaran secara akut, sementara musuh mendahuluinya. Militer AS harus dinamis dan kembali ke kekuatan dekade tahun 1950 dan 1960-an.

"Krisis Ukraina yang saat ini tengah terjadi hanya sebuah pemanasan. Perang besar segera tiba, dan tidak akan lama lagi kita akan diuji dalam sejumlah arena yang tidak pernah ada sejak lama," imbuhnya.

Charles menegaskan, garis pemikiran militer AS sudah kedaluwarsa, dan ancaman-ancaman nuklir memaksa untuk dilakukan evaluasi cepat dalam strategi negara ini.

Pentagon: Kami Tak Bisa Konfirmasi Klaim Ukraina soal Rudal Iran

Juru bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon mengumumkan, Washington tidak punya informasi apa pun yang menunjukan bahwa Iran mengirim rudal balistik ke Rusia.

Brigjen Patrick Ryder, Selasa (8/11/2022) malam seperti dikutip Russia Today mengatakan, "Dephan AS tidak punya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tehran telah mengirim rudal balistik ke Moskow."

Patrick Ryder

Ia menambahkan, "Kami tidak punya informasi apa pun saat ini yang menunjukkan bahwa Iran mengirim rudal balistik ke Rusia, untuk digunakan dalam perang di Ukraina."

Meskipun demikian, menurut Ryder, Pentagon akan terus mengamati masalah ini dari dekat, karena Dephan AS khawatir Rusia akan memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini.

Statemen Jubir Pentagon disampaikan untuk menanggapi pernyataan Penasihat Presiden Ukraina Mykhailo Podolyak yang baru-baru ini mendesak dilancarkannya serangan ke fasilitas industri pertahanan Iran, karena telah memberikan bantuan senjata ke Rusia.

"Saya yakin bukan hanya sanksi atau sanksi penuh terhadap Iran. Saya percaya serangan-serangan terarah bisa dilancarkan terhadap produksi drone, rudal balistik dan yang lainnya," ujar Podolyak.

AS Masih Tekankan Dukung Kerusuhan di Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika kembali menekankan dukungan terhadap para perusuh di Iran.

Meletusnya kerusuhan terbaru di Iran dengan dalih kematian Mahsa Amini, kembali mendorong Washington menilainya sebagai peluang untuk mengintervensi urusan internal Iran dan juga memprovokasi lebih besar kerusuhan.

Amerika dengan menjanjikan pencabutan sanksi dunia maya dan internet serta sikap intervensifnya beranggapan mampu mengobarkan dan memanfaatkan kerusuhan ini.

Ned Price

Seperti dilaporkan FNA, Ned Price Kamis (10/11/2022) menyatakan, "Kami akan berbuat semampu kami untuk mendukung perusuh di Iran."

Lebih lanjut Price mengkonfirmasikan pemberian bantuan teknologi kepada perusuh untuk saling berhubungan di dalam negeri Iran dan pada akhirnya dengan seluruh dunia.

Presiden AS Joe Biden baru-baru ini saat kampanye untuk Mike Levin, wakil Demokrat di kota Oceanside, California kepada pendukunganya mengatakan, "Kita akan membebaskan Iran".

John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional Amerika di masa pemerintahan Donald Trump dan sosok yang memiliki pendekatan permusuhan dan haus perang terkait Iran, seraya mengaku optimis perubahan sistem di Iran mengatakan bahwa oposisi Iran mulai mempersenjatai diri.

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian di akun Twitternya menjawab statemen terbaru Biden terkait Iran dan menulis, "Tuan Biden, hentikan perilaku munafik dan dukungan terhadap Daesh (ISIS)."

Dalam hal ini, Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi seraya menggulirkan pertanyaan kepada pejabat Amerika yang beberapa kali ingin menguji Iran dan rakyat Iran, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari pengalaman gagal mereka, mengatakan, Amerika berpikir bahwa versi seperti yang mereka terapkan di negara-negara seperti Suriah, Libya dan beberapa negara dan wilayah lain juga dapat diterapkan di Iran; Ini adalah ilusi.

Biden: Amerika Tidak Berikan 'Cek Kosong' ke Ukraina

Presiden AS menyatakan bahwa Washington tidak akan mengirim senjata jarak jauh ke Kyiv untuk mencegah serangan Ukraina di wilayah Rusia, dan menegaskan, "Amerika tidak akan memberikan cek kosong ke Ukraina".

Presiden AS Joe Biden dalam konferensi pers pada Rabu (9/11/2022) malam waktu setempat, mengulangi posisi Washington yang tidak akan mengirim senjata jarak jauh ke Ukraina, dengan mengatakan, "Ketika Kyiv meminta kami mengirim jet tempur, kami menolaknya."

Joe Biden

"Kami tidak ingin memasuki perang dunia ketiga, Amerika mengirim peralatan militer ke Ukraina untuk tujuan pertahanan," ujar Biden.

Menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan perubahan demarkasi antara Ukraina dan Rusia, Presiden Amerika Serikat menyatakan, "Masalah ini sepenuhnya terserah Ukraina, dan kami tidak memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, dan Washington tidak tahu tentang rencana masa depan Kyiv,".

Menyinggung penarikan pasukan Rusia dari Kherson, Biden mengungkapkan, "Saya pikir masalahnya adalah apakah Rusia akan meninggalkan "Fallujah", Artinya "Kherson" atau tidak,".

Kota Fallujah terletak di provinsi Anbar Irak, yang berada 60 kilometer sebelah barat Baghdad.

Presiden Amerika Serikat menganggap perkembangan terakhir di wilayah Kherson sebagai peluang bagi pihak-pihak yang berkonflik, guna memberi mereka waktu untuk mengevaluasi kembali posisinya.

Biden juga mengumumkan dalam sambutannya bahwa ia berencana untuk mencalonkan diri kembali sebagai presiden AS pada tahun 2024, tetapi tidak akan membuat keputusan akhir sampai awal tahun depan.

Biden: Selama Pasukan Rusia di Ukraina, Perang tidak akan Berakhir

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengklaim, perang di Ukraina tidak akan berakhir selama pasukan Rusia tidak meninggalkan wilayah negara ini.

Pemerintah Rusia selama beberapa bulan lalu seraya memperingatkan ekspansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di timur Eropa, menggulirkan prakarsa jaminan keamanan kepada AS dan NATO, tapi ditolak.

Bersamaan dengan permintaan berulang Ukraina untuk bergabung dengan ANTO dan menerima bantuan beberapa juta dolar dari Barat, serangan Rusia ke Ukraina dilancarkan sejak 24 Februari 2022 atas instruksi Presiden Vladimir Putin dan sampai saat ini masih berlanjut.

Menurut laporan Sputnik, Joe Biden saat diwawancarai wartawan di Gedung Putih menyatakan, "Saya tidak berpikir perang di Ukraina akan berakhir selama "Vladimir Putin" tidak keluar dari Ukraina."

Statemen presiden Amerika dirilis ketika pemerintah Ukraina seraya menolak berunding dengan Rusia selama Putin menjabat presiden, menempuh pendekatan anti-damai di solusi perang Ukraina.

Disebutkan bahwa Putin beberapa kali menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki masalah berunding dengan Ukraina, dan Amerika dapat mendorong Ukraina untuk berunding.

Anggota Kongres AS Serukan Pengakuan terhadap Pemerintahan Taliban

Seorang anggota Kongres AS mengungkapkan bahwa Washington harus mengakui eksistensi Taliban, jika kelompok yang berkuasa di Afghanistan ini memperhatikan masalah hak asasi manusia dan membuka kembali sekolah perempuan di atas kelas enam.

Taliban

Setelah perjanjian Februari 2020 dan penandatanganan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Taliban, proses penarikan pasukan Amerika dan sekutunya dari Afghanistan dimulai.

Keputusan ini menyebabkan kelompok Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus 2021, dan pemerintahan Ashraf Ghani jatuh.

Peter Maijer, anggota Kongres AS mempersoalkan sikap pemerintah AS yang tidak berinteraksi dengan pemerintah sementara Taliban di Afghanistan.

Anggota Kongres AS ini meyakini negaranya harus menerima bahwa tidak ada pemerintahan lain di Afghanistan kecuali Taliban.

Peter Maijer juga memperingatkan tentang konsekuensi ketidakcocokan Amerika dengan pemerintah sementara Taliban.

Statemen anggota Kongres AS ini mengemuka di saat lebih dari setahun berlalu sejak Taliban berkuasa di Afghanistan, belum ada negara yang mengakui pemerintahannya saat ini.

AS Mengaku Cemas dengan Uji Coba Roket Pembawa Satelit Iran

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merespon peluncuran roket pembawa satelit oleh para ahli bidang antariksa Iran, dan mengatakan langkah semacam ini memicu instabilitas.

Jubir Deplu AS, Minggu (6/11/2022) seperti dikutip Sky News menyebut peluncuran roket pembawa satelit Qaem 100, sebagai langkah yang tidak membantu dan memicu instabilitas.

Ia menambahkan, "AS terus mencemaskan berlanjutnya pengembangan peralatan peluncuran ruang angkasa Iran, yang menciptakan kekhawatiran serius AS terkait meluasnya senjata atom."

Menurut pejabat AS itu, peluncuran rudal ruang angkasa melanggar Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB yang menuntut Iran, untuk tidak melakukan segala bentuk aktivitas terkait rudal-rudal balistik yang dirancang untuk membawa senjata atom.

Padahal Republik Islam Iran beberapa kali mengumumkan bahwa Tehran tidak pernah dan tidak akan pernah berusaha mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, media-media Rezim Zionis mengabarkan kekhawatiran Tel Aviv atas keberhasilan Iran, meluncurkan roket pembawa satelit Qaem 100.

Media Zionis mengakui bahwa peluncuran sebuah rudal balistik pembawa satelit ke ruang angkasa adalah sebuah evolusi dan unjuk kekuatan Iran, dan itu sangat membuat Israel cemas.

AS Diam-Diam Minta Ukraina Kembali Berunding dengan Rusia

Surat kabar Amerika Serikat mengabarkan tekanan-tekanan di balik layar pemerintah Washington terhadap para pajabat Ukraina, agar menunjukkan kesiapannya kembali ke meja perundingan dengan Rusia.

Washington Post, Sabtu (6/11/2022) malam melaporkan, pemerintah AS secara rahasia sedang memberikan tekanan kepada para pejabat tinggi Ukraina, untuk berhenti menentang perundingan, dan menunjukkan kesiapan memulai kembali perundingan damai dengan Rusia.

Mengutip sumber terpercaya, koran AS ini menambahkan, "Permintaan pemerintah AS kepada Ukraina, bukan tekanan agar Kiev duduk di meja perundingan, tapi sebuah langkah terukur untuk memperoleh keyakinan bahwa dukungan negara lain tetap terjaga."

Permintaan AS atas Ukraina ini menunjukkan kerumitan sikap Washington terkait krisis Ukraina, di satu sisi Gedung Putih terus mengirim persenjataan ke Kiev, namun pada saat yang sama berharap krisis ini berakhir melalui mekanisme politik.

Menurut Washington Post, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak terlalu serius untuk berunding dengan Ukraina, tapi para pejabat AS mengatakan pelarangan berunding yang dilakukan Presiden Ukraina, telah menyebabkan sekutu-sekutu Kiev khawatir.

Trump Pertanyakan Integritas Pemilu Sela Kongres 2022

Mantan Presiden AS Donald Trump mempertanyakan validitas pemilu sela Kongres Amerika Serikat tahun ini.

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Selasa (8/11/2022) malam mempertanyakan integritas pemilu selam Kongres AS di Arizona, Detroit, Pennsylvania, New Jersey, dan wilayah lain, dengan mengatakan, "Media palsu tidak meliput masalah ini,".

Donald Trump

Menyusul kegagalan mesin pengambil dan penghitung suara pada pemilu sela Kongres AS tahun 2022, spekulasi tentang kecurangan dalam pemilu ini terus bergulir kencang, meski dibantah oleh pihak berwenang negara ini.

Menurut laporan, petugas pemilu di Maricopa County di negara bagian Arizona mengumumkan bahwa sekitar seperlima dari mesin hitung di tempat pemungutan suara 223 tidak mendaftarkan suara yang dihitung.

Pernyataan ini menimbulkan spekulasi di media sosial Amerika tentang kecurangan pemilu.

Pejabat Amerika mengumumkan bahwa tidak ada tanda-tanda kecurangan dalam pemilu.

Sejumlah warga Amerika juga mengulangi klaim Trump mengenai kecurangan dalam pemilu di negaranya.