OKI Sambut Kesepakatan Iran dan Arab Saudi
-
OKI
Peserta sidang Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-49 di Mauritania menyambut kesepakatan antara Republik Islam Iran dan Arab Saudi untuk memulai hubungan bilateral.
Menteri Luar Negeri Mauritania, Salem Ould Merzoug menerima kepemimpinan sidang OKI ke-49 dari Bilawal Bhutto Zardari, sejawatnya dari Pakistan.
Para menlu OKI Kamis (16/3/2023) memulai pertemuan mereka di Istana al-Murabitun, Nouakchott.
Menurut laporan IQNA, Presiden Mauritania, Mohamed Ould Ghazouani di acara pembukaan sidang tersebut menekankan bahwa upaya negara ini dalam kerangka strategi nasional terpadu untuk memerangi terorisme.
Ia menambahkan, tujuan dari perundingan dan dialog di pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan perbedaan dan mendekatkan negara-negara serta bangsa-bangsa Islam, serta kami menyambut perundingan terbaru antara Arab Saudi dan Iran, dan kami berharap perundingan tersebut sukses.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, dan ketua KTT OKI juga mengecam terorisme dalam segala bentuknya, dan menekankan dukungan Arab Saudi kepada seluruh negara Islam, khususnya isu Palestina.
Bin Farhan terkait kesepakatan Iran dan Arab Saudi mengatakan bahwa Riyadh dan Tehran mencapai kesepakatan terkait isu-isu seperti kedaulatan negara dan bertetangga yang baik.
Menlu Arab Saudi menekankan, "Kami menanti implementasi kesepakatan dengan Iran untuk memulihkan dan meningkatkan stabilitas di Teluk Persia."
Sementara itu, menlu Pakistan meminta PBB memerangi Islamphobia dan menekankan bahwa fenomena ini berubah menjadi sebuah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan telah menyebabkan banyak kerusakan pada umat Islam.
Selama perundingan Iran dan Arab Saudi di kota Beijing, kedua negara pada hari Jumat (10/3/2023) sepakat setelah tujuh tahun akan memulai kembali hubungan diplomatiknya.
Arab Saudi pada 3 Januari 2016 memutus hubungan dengan Iran, dengan alasan serangan sejumlah oknum ke Kedubes dan konsulatnya di Tehran dan Mashhad. (MF)