Upaya Menghidupkan Proyek Turkish Stream
Rusia dan Turki mencapai kesepakatan awal untuk mentransfer gas ke negara-negara Uni Eropa.
Wakil Menteri Energi Rusia, Yury Sentyurin pada Selasa (26/6/2016) mengatakan bahwa kesepakatan awal telah dicapai untuk memulai kembali pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Eropa melalui Turki, yang dikenal dengan proyek Turkish Stream. Proyek ini mampu mengirim 63 miliar meter kubik gas Rusia ke Eropa per tahun.
Menurut keterangan Yury Sentyurin, kajian utama dan teknis pelaksanaan proyek itu akan dipelajari dalam pembicaraan terpisah, di mana bagian utama panjang jalur pipa mencapai 1100 kilometer dan kemudian terbagi ke rute yang berbeda.
Nilai awal proyek yang akan dibangun dalam dua tahun ini mencapai 1,8 miliar euro. Jalur pipa gas Turkish Stream akan melewati Laut Hitam dan diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada 1 Desember 2014 selama kunjungan kenegaraan ke Turki.
Pelaksanaan kembali proyek ini merupakan hasil dari rekonsiliasi kedua negara setelah melewati periode ketegangan dalam hubungan bilateral. Proyek pipa gas ini sama seperti proyek-proyek lain sempat terbengkalai menyusul penembakan jet tempur Rusia oleh Turki.
Setelah insiden itu, Rusia meloloskan serangkaian sanksi terhadap Turki. Meskipun para pejabat Ankara termasuk Presiden Recep Tayyip Erdogan awalnya mengambil sikap keras dan menolak meminta maaf kepada Moskow, namun perkembangan terbaru terutama sanksi luas Rusia terhadap Turki dan juga transformasi regional, mendorong Erdogan untuk melayangkan surat permintaan maaf kepada Presiden Vladimir Putin bulan lalu.
Erdogan meminta maaf atas insiden penembakan jet tempur Rusia, Su-24 pada November 2015 dan menyerukan normalisasi hubungan dengan Moskow.
Rusia menetapkan tiga syarat untuk normalisasi hubungan dengan Turki yaitu, meminta maaf secara resmi, membayar kompensasi, dan menghukum pilot pesawat tempur Turki.
Turki tampaknya menghadapi kendala serius setelah Rusia memberlakukan sanksi luas di bidang ekonomi dan perdagangan. Negara tersebut tercatat sebagai pemasok utama produk olahan susu dan pertanian ke Rusia dan menjadi negara tujuan utama wisatawan Rusia sebelum insiden penembakan jet tempur.
Naiknya tensi ketegangan dalam hubungan kedua pihak membuat Turki kehilangan banyak pemasukan dan menelan kerugian besar. Sebagai contoh, Turki menghadapi kerugian 8 miliar dolar di sektor pariwisata dan beberapa analis Turki bahkan berbicara tentang kerugian 18 miliar dolar akibat berlanjutnya sanksi Rusia.
Jadi, dapat dikatakan bahwa tekanan kondisi dan kerugian besar di sektor ekonomi Turki pada akhirnya memaksa para pejabat Ankara untuk mengubah sikapnya dan menyerukan pemulihan hubungan dengan Moskow.
Pemerintah Ankara berharap perubahan sikap ini akan mendorong Moskow untuk membatalkan sanksi, mengizinkan kembali kegiatan para pebisnis Turki di Rusia, mencabut larangan kunjungan turis Rusia ke Turki, dan yang paling penting menghidupkan kembali proyek pipa gas Turkish Stream.
Turkish Stream merupakan sebuah proyek yang sangat penting bagi pemerintah Turki. Perusahaan Gazprom dengan meluncurkan Turkish Stream ingin menjadikan Turki sebagai mitra utama transfer gas Rusia ke Eropa menggantikan Ukraina. Perlu diingat bahwa Rusia merupakan pemasok utama gas Turki dan memasok sekitar 57 persen dari kebutuhan gas Turki. (RM)