Mar 27, 2024 21:05 Asia/Jakarta
  • Narasi Hollywood Kobarkan Perang / Jalan bagi Intervensi Global Amerika
    Narasi Hollywood Kobarkan Perang / Jalan bagi Intervensi Global Amerika

Industri perfilman setelah insiden 11 September 2001 menemukan strategi baru, strategi gabungan dengan strategi Hollywood sebelumnya. Strategi baru yang mengobarkan kebencian dan Islamofobia.

Sebelum 11 September 2001, musuh-musuh asing Amerika sebagai “yang lain” mempunyai pengaruh yang jauh terhadap negara ini. Selama perang, “musuh” menghancurkan kota-kota dan selama Perang Dingin, ia mencabik kota-kota. Tapi semua ini terjadi di suatu tempat yang jauh, di mana representasinya di bioskop Hollywood, meski menimbulkan rasa kasihan dan ketakutan, pada akhirnya menjamin keamanan. Namun insiden 11 September menunjukkan kerentanan keamanan Amerika dan memberikan landasan bagi tindakan keamanan dan militer yang lebih besar oleh Amerika Serikat.

 

Pada periode ini, seluruh wacana yang ada sebelum 11 September dipanggil untuk berkumpul di sekitar wacana “memerangi terorisme”. Wacana-wacana sebelumnya adalah "memainkan peran global dalam Perang Dunia Kedua", "wacana permainan mata-mata seputar suasana Perang Dingin" dan terakhir "wacana Armagedon, setelah berakhirnya Perang Dingin dan sebelum 11 September".

 

Sejalan dengan skema ideologi ini, Amerika mempolarisasikan diri mereka sebagai "kelompok dalam" dan orang lain sebagai "kelompok luar" dan menggunakan kata ganti "kami" dan "mereka" ketika berbicara.

 

Jika kita dapat mengatakan bahwa wacana pemberantasan terorisme terdiri dari tiga elemen kunci: korban, teroris, dan pahlawan (kombatan), maka kita dapat menelusuri jejak ketiga wacana masa lalu dalam wacana baru ini.

 

Rekonstruksi dan permainan peran global baru terbentuk dalam menghadapi korban, permainan mata-mata dan perpecahan dalam bentuk teroris dan akhirnya wacana Armageddon dalam peran pahlawan (pejuang) kembali ke film-film Hollywood. Kini, patut dilihat bagaimana sinema Hollywood mampu mempromosikan wacana pemberantasan terorisme dan memberikan kredibilitas dari seluruh wacana berikut:

 

  1. Representasi korban

 

Salah satu representasi terpenting dari peristiwa 11 September adalah untuk menampilkan para korban dan menekankan penderitaan dan rasa sakit mereka. Korban-korban dalam peristiwa tersebut sama-sama memperlihatkan penderitaan almarhum sebelum dan pada saat kejadian serta juga memperlihatkan penderitaan para penyintas dan keluarga atas kehilangan almarhum. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengubah penderitaan pribadi para korban menjadi penderitaan publik dan melaksanakan ritual berkabung di ruang publik.

 

Kesaksian media adalah cara untuk mengubah penderitaan pribadi menjadi penderitaan publik, sehingga siapapun bisa menjadi korban. Simpati semua orang yang bertemu dengan anak laki-laki dalam film "Extremely Loud and Incredibly Close" (2011) juga mengingatkan kita pada rekonstruksi dan sosialisme masa perang, dan seperti masa perang, sosialisme juga ditekankan.

film "Extremely Loud and Incredibly Close" (2011)

 

  1. Representasi Musuh (Other)

 

Salah satu masukan terpenting dari “yang lain” dalam sinema pasca 11 September datang dalam bentuk penggambaran Arab/Muslim. Banyak film seperti Body of Lies (2008), Charlie Wilson's War (2007), Rendition (2007), Hidalgo (2004), Syriaa (2005) dan Man Iron (2008) semuanya berpusat pada karakter Arab atau Muslim yang teroris menyerang Amerika atau kepribadian Amerika. Hal ini terjadi karena gerakan teroris yang dikaitkan dengan umat Islam hanyalah minoritas kecil dibandingkan dengan sebagian besar gerakan Islam tanpa kekerasan dan non-teroris.

 

  1. Representasi Pahlawan (Hero)

 

Pahlawan (kero) dalam wacana kontra-terorisme pasca 11 September tidak memiliki kualitas superheroik dan tak terkalahkan yang berbeda dari orang lain, namun hanya cukup membawa tanda-tanda untuk menyampaikan ideologi tertentu. Ideologi yang ingin disampaikan oleh seluruh pahlawan pasca 11 September adalah balas dendam dan pengorbanan untuk negara. Dalam film " Zero Dark Thirty (2012)" yang berkisah tentang perburuan dan pembunuhan Osama bin Laden, satu-satunya motivasi sang protagonis, seorang wanita biasa namun gigih, adalah rasa balas dendam dan patriotismenya.

film " Zero Dark Thirty (2012)"

 

Dengan menggabungkan ketiga komponen ini, narasi Amerika yang diinginkan mengenai 11 September dan peristiwa setelahnya selesai. Sebuah narasi yang, dengan gambaran sebagian besar teroris Arab/Muslim, menciptakan lingkaran wacana anti-terorisme dan menyebarkan Islamofobia yang diinginkan Amerika.

 

Dan selama ini, ia menciptakan narasi untuk membenarkan aksi perang, ekspansionisme, dan intervensi berturut-turut yang dilakukan Amerika dan Barat di dunia Islam.

 

Artikel ini diambil dari artikel (Representasi "Lainnya (other)" di bioskop Hollywood setelah malam 11 September 2001) yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Middle East Studies. (MF)

 

 

Tags