Trik AS Menjual Senjata di Timteng
https://parstoday.ir/id/news/world-i17260-trik_as_menjual_senjata_di_timteng
Amerika Serikat belum berhenti mengganggu Republik Islam Iran setelah lebih dari enam bulan dari pelaksanaan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 10, 2016 12:23 Asia/Jakarta
  • Trik AS Menjual Senjata di Timteng

Amerika Serikat belum berhenti mengganggu Republik Islam Iran setelah lebih dari enam bulan dari pelaksanaan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Para pejabat AS masih terus mengesankan Iran sebagai ancaman. Dalam konteks ini, Departemen Pertahanan AS dalam laporan dengan pendekatan Iranphobia mengklaim bahwa Iran sejak mencapai perjanjian nuklir telah memproduksi rudal-rudal balistik yang lebih canggih.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Iran sekarang menyimpan rudal dalam jumlah signifikan yang bisa menargetkan titik-titik di seluruh Timur Tengah.

AS sebelumnya juga menerbitkan laporan yang mengkhawatirkan latihan militer Iran di perairan Teluk Persia.

Manuver ini pada dasarnya merupakan bagian dari proyek strategis jangka panjang, yang diumumkan dalam pertemuan puncak Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) yang dihadiri oleh Presiden Barack Obama.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry dalam sebuah kunjungan ke Timur Tengah mengatakan, AS dan sekutunya siap untuk mengambil langkah-langkah damai untuk menyelesaikan friksi yang muncul akibat uji coba rudal Iran.

Klaim-klaim para pejabat AS tentang kemampuan pertahanan rudal Iran sebenarnya merupakan kelanjutan proyek Iranphobia, yang menjadi agenda bersama AS dan rezim Zionis Israel.

Sejalan dengan itu, para pejabat Washington menakut-nakuti negara-negara Arab di Teluk Persia bahwa mereka harus menyertai AS jika ingin eksis di panggung politik.

Bersamaan dengan klaim palsu ini, AS secara rutin menjual berbagai jenis senjata canggihnya ke negara-negara Arab di kawasan. Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan lebih dari 130 tank tempur Abrams, 20 kendaraan lapis baja dan peralatan militer lainnya, senilai sekitar 1,15 miliar dolar ke Arab Saudi.

Pentagon pada hari Selasa (9/8/2016) mengatakan Badan Kerjasama Keamanan dan Pertahanan AS yang mengawasi penjualan luar negeri, menyatakan bahwa pemulihan keamanan sebuah sekutu regional akan mendorong peningkatan keamanan nasional AS.

Laporan Middle East Institute terkait belanja peralatan militer oleh negara-negara Arab di Teluk Persia, menunjukkan bahwa jenis senjata yang biasanya dibeli oleh mereka bukan untuk kepentingan perang kontra-terorisme, tetapi alasan pembelian itu adalah kekhawatiran negara-negara Arab terhadap apa yang disebut ancaman Iran.

Kebijakan ini membuktikan bahwa AS masih gencar melakukan propaganda anti-Iran demi membatasi Tehran untuk memanfaatkan peluang yang muncul pasca perjanjian nuklir. Sejalan dengan AS, negara-negara Arab anggota P-GCC juga sedang memperluas krisis dan perang di kawasan.

Namun, tindakan itu sama sekali tidak akan membantu menyelesaikan masalah mereka. Mereka hanya memperumit situasi regional dan membuat AS dan Israel semakin dekat dengan tujuan-tujuannya di Timur Tengah. (RM)