Peresmian Kedutaan Besar Palestina di London
https://parstoday.ir/id/news/world-i183704-peresmian_kedutaan_besar_palestina_di_london
Pars Today - Empat bulan setelah Inggris mengakui negara Palestina yang merdeka, kedutaan besar negara Palestina di London diresmikan di hadapan sekelompok diplomat dan pendukung Palestina.
(last modified 2026-01-06T07:12:54+00:00 )
Jan 06, 2026 14:11 Asia/Jakarta
  • Peresmian Kedubes Palestina di London
    Peresmian Kedubes Palestina di London

Pars Today - Empat bulan setelah Inggris mengakui negara Palestina yang merdeka, kedutaan besar negara Palestina di London diresmikan di hadapan sekelompok diplomat dan pendukung Palestina.

Pada hari Senin (05/01/2026), selama upacara peresmian kedutaan besar Palestina, Husam Zomiot, Duta Besar Palestina untuk Inggris mengatakan bahwa gedung itu adalah "sepotong Palestina di tanah Inggris" dan merupakan simbol "perdamaian, martabat, dan perjuangan terus-menerus rakyat Palestina untuk keadilan dan kebebasan".

Zomiot mengatakan, "Palestina ada di sini, Palestina berdiri tegak, dan Palestina akan merdeka."

Di bagian lain pidatonya, duta besar Palestina menganggap peresmian kedutaan besar sebagai tanda "keberlanjutan identitas Palestina" dan pesan perlawanan bagi rakyat Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan kamp-kamp pengungsi, dan menekankan bahwa tindakan ini tidak menghilangkan tuntutan lama rakyat Palestina untuk mengakhiri pendudukan dan mewujudkan hak-hak sah mereka dari agenda.

Zomiot kemudian mengumumkan transformasi “Misi Palestina” menjadi “Kedutaan Besar Negara Palestina” dengan meresmikan plakat resmi kedutaan. Perubahan praktik diplomatik ini dipandang sebagai peningkatan status misi Palestina dan penyelesaian pengaturan formal dan administratif antara kedua pihak untuk beroperasi sebagai kedutaan.

Pembukaan Kedutaan Besar Palestina di London terjadi pada saat pemerintah Inggris, sekitar empat bulan lalu, telah mengakui Negara Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat dalam langkah bersejarah.

Langkah ini terjadi setelah London sebelumnya menetapkan bahwa mereka akan mengakui Palestina jika krisis kemanusiaan di Gaza tidak berakhir dan rezim Zionis Israel tidak menerima gencatan senjata.

Namun, para kritikus kebijakan Barat mengatakan bahwa kesenjangan antara klaim tentang membela aturan dan hukum internasional dan perilaku praktis kekuatan Barat dalam masalah Palestina tetap besar, dan kesamaan perkembangan ini dengan dukungan politik yang berkelanjutan untuk rezim Zionis menimbulkan pertanyaan serius tentang ketulusan slogan-slogan hak asasi manusia.

Para pengamat percaya bahwa pembukaan kedutaan besar itu sendiri tidak berarti berakhirnya krisis, dan bahwa isu Palestina masih terjerat dalam realitas lapangan, perbedaan politik, dan kurangnya kemauan efektif untuk menerapkan hukum internasional.(sl)