Araghchi: Angkatan Bersenjata Iran Siaga dengan Jari di Pelatuk!
Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan: senjata nuklir tidak memiliki tempat apa pun dalam perhitungan keamanan Teheran, dan kami tidak pernah berupaya untuk memilikinya.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, pada Rabu malam melalui jaringan X, sebagai tanggapan atas ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menulis: “Angkatan bersenjata kami yang pemberani, dengan jari di pelatuk, siap untuk merespons secara cepat dan tegas terhadap segala bentuk agresi terhadap wilayah darat, ruang udara, dan perairan teritorial negara.”
Menurut laporan Pars Today, Araghchi menambahkan: “Pelajaran berharga yang diperoleh dari perang 12 hari telah memberi kami kemampuan untuk kini bereaksi dengan kekuatan, kecepatan, dan intensitas yang lebih besar.”Ia melanjutkan: “Pada saat yang sama, Iran selalu menyambut baik suatu perjanjian nuklir yang adil, setara, dan berdasarkan kepentingan bersama; sebuah perjanjian yang dicapai dari posisi setara dan bebas dari segala bentuk paksaan, ancaman, dan intimidasi. Perjanjian yang menjamin pemenuhan hak Iran untuk memanfaatkan teknologi nuklir damai serta menjamin tidak adanya upaya untuk memperoleh senjata nuklir.”

Peningkatan 39 persen migrasi Zionis dari wilayah pendudukan pada tahun 2024
Pusat Statistik rezim Zionis dalam sebuah laporan menyatakan bahwa jumlah Zionis yang meninggalkan wilayah pendudukan pada tahun 2024 mencapai 82.774 orang. Angka ini, dibandingkan dengan 59.366 orang pada tahun 2023, menunjukkan peningkatan sebesar 39,4 persen.Sebaliknya, jumlah Zionis yang kembali ke wilayah pendudukan pada tahun 2024 menurun menjadi 24.150 orang, yang berarti 18,4 persen lebih rendah dibandingkan angka 29.607 orang pada tahun sebelumnya.

Kallas: Eropa bukan lagi pusat fokus utama Amerika
Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, ketika para pemimpin Eropa berupaya menyesuaikan diri dengan pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap hubungan transatlantik, menyatakan: “Eropa tidak lagi berada di pusat perhatian Washington, dan ini merupakan perubahan struktural, bukan sementara.”Kallas juga menegaskan: “Risiko kembalinya sepenuhnya politik kekuatan koersif, wilayah pengaruh, dan dunia di mana kekuatan menjadi faktor utama, sangat nyata.”Sebelumnya, ia telah memperingatkan Washington tentang bahaya terjadinya perpecahan dalam aliansi transatlantik antara Eropa dan Amerika Serikat.

Zakharova: Peningkatan tekanan Amerika terhadap Kuba merupakan pelanggaran nyata hukum internasional
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, menyatakan: “Laporan-laporan media mengenai rencana Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan terhadap Kuba sangat mengkhawatirkan.”Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan segala cara yang diperlukan untuk memperketat blokade terhadap Kuba, termasuk menambahkan nama negara tersebut ke dalam daftar “negara sponsor terorisme.”Zakharova menambahkan: “Peningkatan tekanan Amerika terhadap Kuba merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.”

Hamas: Kami tidak pernah menyetujui pelucutan senjata perlawanan
Musa Abu Marzouk, salah satu pemimpin senior Hamas, dalam wawancara dengan jaringan Al Jazeera Qatar, menolak adanya kesepakatan apa pun mengenai pelucutan senjata perlawanan dan menegaskan bahwa gerakan ini tidak pernah, pada tahap mana pun, menyetujui penyerahan diri atau pelucutan senjata perlawanan dalam bentuk apa pun.Ia juga menyatakan bahwa penyerahan tawanan Zionis, baik yang hidup maupun yang meninggal, di Gaza dilakukan berdasarkan kesepakatan, serta menambahkan bahwa Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, tidak berhak menyalahgunakan isu ini dan membanggakannya.Abu Marzouk menegaskan bahwa seluruh tawanan Israel, baik hidup maupun meninggal, di Gaza diserahkan berdasarkan suatu kesepakatan dan dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pihak perlawanan.(PH)