Apakah Sejarah Intervensi Amerika di Amerika Latin Akan Terulang?
https://parstoday.ir/id/news/world-i183774-apakah_sejarah_intervensi_amerika_di_amerika_latin_akan_terulang
Jutaan warga Amerika Serikat pada Sabtu pertama tahun baru Masehi terbangun dengan satu pertanyaan besar: apakah kita sedang berperang dengan Venezuela?
(last modified 2026-01-07T07:03:53+00:00 )
Jan 07, 2026 14:01 Asia/Jakarta
  • Apakah Sejarah Intervensi Amerika di Amerika Latin Akan Terulang?

Jutaan warga Amerika Serikat pada Sabtu pertama tahun baru Masehi terbangun dengan satu pertanyaan besar: apakah kita sedang berperang dengan Venezuela?

Situs Middle East Eye dalam sebuah laporan menulis bahwa tindakan Amerika Serikat menculik Nicolás Maduro, Presiden Venezuela, membawa dampak luas, tidak hanya bagi Venezuela sendiri, tetapi juga bagi posisi global Amerika Serikat serta bagi aturan hukum domestik dan internasional yang mengatur institusi kepresidenan.

Menurut laporan Pars Today, penculikan seorang presiden asing merupakan tindakan yang sangat mengejutkan karena dalam praktik dan norma internasional, tindakan semacam itu dipandang sebagai bentuk perang.

Untuk membenarkan langkah tersebut, Donald Trump menuduh Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba dan menganggapnya sebagai ancaman terhadap keamanan rakyat Amerika. Namun, pernyataan-pernyataan Trump selanjutnya menunjukkan bahwa ia membesar-besarkan peran Venezuela di luar realitas yang ada, dengan tujuan memperluas pengaruh melalui penggunaan kekuatan keras di kawasan yang ia anggap sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat.

Peristiwa ini mengingatkan pada era intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin, ketika para pemimpin yang tidak sejalan dengan kepentingan Washington digulingkan dan digantikan oleh pemerintahan boneka. Konferensi pers Trump di Mar-a-Lago, yang digelar bersamaan dengan pemindahan Maduro ke New York, sarat dengan nuansa kemenangan dan mengingatkan pada momen deklarasi kemenangan George W. Bush dalam perang Irak tahun 2003. Menteri Pertahanan Amerika Serikat bahkan menyebut tindakan tersebut melampaui momen-momen historis era Abraham Lincoln dan Franklin D. Roosevelt.

Namun di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, Partai Demokrat menunjukkan kemarahan karena serangan Amerika di Venezuela secara de facto merupakan tindakan perang yang memerlukan persetujuan Kongres. Sejumlah senator menegaskan bahwa Trump telah memasuki perang tanpa izin Kongres dan harus dimintai pertanggungjawaban. Meski demikian, para pemimpin Partai Republik tetap memberikan dukungan kepada Trump.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika Serikat menentang intervensi militer di Venezuela. Bahkan sebagian pendukung Trump merasa dikhianati, karena mereka meyakini bahwa Trump akan mengakhiri perang-perang tanpa akhir, bukan justru memulainya kembali.

Pengalaman di Irak, Afghanistan, dan Libya menunjukkan bahwa jatuhnya seorang pemimpin secara cepat tanpa perencanaan matang dapat menyeret sebuah negara ke dalam kekacauan berkepanjangan. Venezuela kini menghadapi risiko serupa. Trump berbicara secara naif mengenai masa depan Venezuela, bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola negara tersebut hingga terjadi “transisi yang aman”. Ia juga secara terbuka menyebut bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika akan masuk dan mengambil kembali minyak Venezuela.

Di tingkat global, tindakan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat berupaya menegaskan dan mengukuhkan dominasinya secara penuh di belahan bumi barat.