Kepada Trump, Macron Berpesan "Melakukan Kerja Besar di Iran", Apa Maksudnya?
-
Emmanuel Macron dan Donald Trump
Pars Today - Presiden Prancis mengirim pesan teks pribadi kepada Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang publikasinya telah menimbulkan banyak pertanyaan.
Publikasi pesan teks Presiden Prancis Emmanuel Macron oleh Presiden AS Donald Trump di jejaring sosial Truth Social, yang menyebabkan ketidakpuasan di Paris karena pengungkapan Trump, telah menimbulkan pertanyaan penting.
Dalam bagian pesan teks yang ditujukan kepada rekan Amerikanya ini, setelah merujuk pada keselarasan perkembangan di Suriah dan sebelum mengusulkan dialog tentang Greenland dan Ukraina, Presiden Prancis menulis, "Kita dapat melakukan hal-hal besar di Iran."
Mengingat Macron telah secara terbuka berbicara tentang kerja sama sebelumnya antara Prancis dan Amerika Serikat di Suriah, dapat dikatakan bahwa Macron berupaya menerapkan model Suriah atau Libya terkait Iran.
Baik model Libya maupun Suriah menyebabkan intervensi asing, ketidakstabilan yang meluas, dan perubahan drastis dalam struktur politik. Dalam model Libya, tekanan internasional dan operasi militer NATO menyebabkan runtuhnya pemerintahan yang telah mapan, yang mengakibatkan kehancuran, pembunuhan, dan pembagian Libya menjadi dua bagian terpisah.
Dalam model Suriah, dukungan poros Barat-Arab terhadap kelompok teroris menyebabkan perang saudara yang pada akhirnya berujung pada intervensi kekuatan asing dan munculnya persaingan regional di negara ini. Dalam prosesnya, Suriah memasuki siklus krisis panjang yang menimbulkan kerugian dan korban jiwa yang mengerikan bagi negara ini.
Macron tampaknya memiliki model-model itu dalam pikirannya, yang berarti keinginan untuk menciptakan tekanan berlapis-lapis, melemahkan struktur pemerintahan, dan mengubah perilaku atau struktur politik Iran melalui cara-cara keras dan semi-keras, termasuk kekuatan militer.
Adapun Amerika Serikat, kebijakan Washington dalam beberapa tahun terakhir terutama berfokus pada tekanan maksimum, sanksi yang meluas, dan upaya untuk membatasi pengaruh regional Iran. Jika kita menganggap skenario ini sebagai kelanjutan dari pendekatan yang sama, tujuan AS pada masa jabatan kedua Donald Trump bisa jadi untuk menciptakan perubahan mendasar dalam perilaku atau struktur politik Iran melalui tekanan ekonomi, isolasi diplomatik, dukungan untuk koalisi regional, dan pada akhirnya serangan militer.
Dalam kerangka kerja seperti itu, menerapkan model Libya atau Suriah ke Iran berarti upaya untuk melemahkan kapasitas pemerintah pusat, membatasi kekuatan regional Iran, meningkatkan biaya domestik bagi Tehran, dan juga upaya untuk meruntuhkan rezim melalui serangan militer.
Singkatnya, keinginan AS atau Prancis untuk menerapkan model Libya atau Suriah di Iran, mengingat pengalaman intervensi AS dan Eropa di masa lalu dalam krisis di Libya dan Suriah, yang pada akhirnya memiliki konsekuensi bencana bagi kedua negara ini dengan menciptakan landasan bagi perang saudara, kehancuran, pembunuhan, ketidakstabilan politik, kekacauan ekonomi, dan gelombang migrasi besar-besaran, dapat mencerminkan sifat tidak manusiawi para penguasa Barat yang hanya berupaya untuk memicu perang dan menggoyahkan negara-negara sasaran sesuai dengan tujuan besar Barat, terutama AS.
Pada akhirnya, jelas bagi semua orang bahwa hegemoni negara-negara Barat ini disebabkan oleh keinginan Iran untuk mandiri dan upayanya untuk memberikan kemandirian kepada masyarakat lain guna mempercepat proses dekolonisasi dan de-hegemoni di dunia. Sesuatu yang, menurut banyak pengamat, Iran telah mencapai banyak keberhasilan sejak Revolusi Islam tahun 1979 dan telah menunjukkan bahwa mereka akan tetap teguh dan setia pada jalan ini.(sl)