Ulah Baru Trump: Kesalahan Pribadi atau Rasisme Sistematis?
https://parstoday.ir/id/news/world-i185132-ulah_baru_trump_kesalahan_pribadi_atau_rasisme_sistematis
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, pada 5 Februari 2026, menerbitkan sebuah video di halaman pribadinya di platform Truth Social yang berisi sebuah klip yang menggambarkan Barack Obama, mantan presiden, dan Michelle Obama, mantan ibu negara, dalam bentuk monyet.
(last modified 2026-02-07T08:14:30+00:00 )
Feb 07, 2026 14:50 Asia/Jakarta
  • Ulah Baru Trump: Kesalahan Pribadi atau Rasisme Sistematis?

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, pada 5 Februari 2026, menerbitkan sebuah video di halaman pribadinya di platform Truth Social yang berisi sebuah klip yang menggambarkan Barack Obama, mantan presiden, dan Michelle Obama, mantan ibu negara, dalam bentuk monyet.

Gedung Putih pada awalnya membela unggahan yang bersifat menghina terhadap Obama dan istrinya di halaman pribadi Trump di media sosial, namun setelah muncul kritik luas dari para pengkritik, hal tersebut kemudian dinisbatkan sebagai kesalahan seorang staf. Video tersebut, yang tampaknya dibuat untuk mempromosikan klaim-klaim tidak berdasar tentang kecurangan pemilu, menempatkan wajah keluarga Obama pada tubuh hewan; sebuah gambaran yang secara langsung merujuk pada karikatur-karikatur rasis historis yang membandingkan orang kulit hitam dengan monyet.

Unggahan ini segera mendapat reaksi keras dari kalangan Demokrat dan bahkan sebagian Partai Republik, dan setelah sekitar 12 jam, dihapus dari halaman Trump. Gedung Putih pada awalnya membelanya, namun kemudian menyatakan bahwa hal itu adalah kesalahan seorang staf.

Namun demikian, Trump menolak untuk meminta maaf atas peristiwa ini. Kejadian ini, bagi mereka yang mengikuti rekam jejak Trump, bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sejak awal terjun ke dunia politik, Trump dikenal dengan pernyataan dan tindakan yang bersifat rasis. Unggahan terbaru ini hanyalah mata rantai terakhir dari sebuah rangkaian panjang yang berakar pada kecenderungan rasisnya. Untuk memahami kedalaman persoalan ini, perlu menengok kembali berbagai contoh serangan verbal dan perilakunya.

Salah satu contoh paling menonjol adalah kampanye pemilihan Trump pada tahun 2015. Dalam pidato pembukaan kampanyenya, ia menargetkan para imigran Meksiko dan berkata:“Ketika Meksiko mengirim orang-orangnya, mereka tidak mengirim yang terbaik. Mereka mengirim para penjahat dan pemerkosa.”Pernyataan ini tidak hanya menggambarkan imigran Meksiko sebagai kriminal dan berbahaya, tetapi juga memperkuat stereotip rasis terhadap masyarakat Latin.

Trump kemudian mengusulkan pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko dan bahkan mengatakan bahwa Meksiko harus membiayainya; sebuah kebijakan yang berakar pada penebaran ketakutan berbasis ras. Namun serangan Trump tidak terbatas pada orang Meksiko saja. Pada tahun 2018, dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, ia menyebut negara-negara Afrika dan Haiti sebagai “negara-negara kotoran” (shithole countries) dan mempertanyakan mengapa Amerika Serikat harus menerima imigran dari tempat-tempat seperti itu. Trump juga mengklaim bahwa orang Haiti “semuanya mengidap AIDS” dan orang Nigeria “tidak akan pernah kembali ke gubuk mereka.” Pernyataan-pernyataan ini tidak hanya rasis, tetapi juga didasarkan pada kebohongan dan stereotip kolonial.

Riwayat rasisme Trump bahkan telah ada sebelum masa kepresidenannya. Pada dekade 1970-an, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menggugat perusahaan Trump karena diskriminasi rasial dalam penyewaan perumahan. Trump dituduh memerintahkan para pengelola gedungnya untuk menolak permohonan sewa dari warga kulit hitam. Selain itu, pada tahun 1989, Trump menuntut hukuman mati bagi lima remaja kulit hitam dan Latin yang kemudian terbukti tidak bersalah. Ia bahkan tidak menarik kembali posisinya setelah mereka dibebaskan.

Terkait Barack Obama, Trump bertahun-tahun sebelumnya melancarkan sebuah kampanye dengan mengklaim bahwa presiden Amerika Serikat saat itu tidak lahir di wilayah negara tersebut dan karena itu bukan presiden yang sah; klaim yang berakar pada rasisme dan menampilkan Obama sebagai orang asing. Kampanye ini tidak hanya menargetkan Obama, tetapi juga meminggirkan warga kulit hitam Amerika. Selain itu, Trump juga menjadikan umat Muslim sebagai sasaran serangan rasis.

Ia mengusulkan larangan masuknya umat Muslim ke Amerika Serikat dan menggambarkan negara-negara Muslim sebagai “penuh dengan teroris”. Pada tahun 2017, kebijakan “larangan Muslim” diberlakukan untuk masuk ke Amerika Serikat yang terutama menargetkan negara-negara dengan mayoritas Muslim. Tindakan-tindakan ini tidak hanya bersifat rasis, tetapi juga menyebabkan meningkatnya kejahatan berbasis kebencian terhadap umat Muslim.

Kecenderungan rasis Trump melampaui kata-kata dan berakar dalam kebijakan-kebijakannya. Kebijakan imigrasinya, seperti pemisahan keluarga di perbatasan, terutama berdampak pada komunitas non-kulit putih. Ia juga mendukung kelompok-kelompok supremasi kulit putih seperti kelompok “Proud Boys”.

Unggahan terbaru Trump di Truth Social yang menyerupakan keluarga Obama dengan monyet juga merupakan kelanjutan dari pola yang sama. Di masa ketika Amerika Serikat bergulat dengan berbagai persoalan rasial, tindakan semacam ini dapat meningkatkan ketegangan. Para pengkritik mengatakan bahwa Trump dengan tindakan-tindakan ini memperkuat basis pemilih rasisnya. Namun bagi banyak orang, ini hanyalah pengingat akan masa kelam kepemimpinan Trump yang, di Amerika yang sangat terpecah, justru mempromosikan perpecahan alih-alih persatuan.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat Amerika yang menunjukkan bahwa rasisme bukan hanya persoalan individu, melainkan masih merupakan persoalan nasional di negara tersebut; sebuah persoalan yang jika tidak ditemukan solusi untuk mengatasinya atau menguranginya, akan kembali mengobarkan ketegangan dalam masyarakat Amerika.(PH)