Dampak Perang Iran terhadap Ekonomi Asia; Pariwisata Jepang Terpukul
https://parstoday.ir/id/news/world-i188700-dampak_perang_iran_terhadap_ekonomi_asia_pariwisata_jepang_terpukul
Pars Today - Meskipun mencatat rekor kedatangan wisatawan asing ke Jepang, laporan menunjukkan bahwa perang agresif AS dan rezim Zionis terhadap Iran serta perkembangan terkait Selat Hormuz telah menyebabkan pembatalan reservasi, terutama oleh wisatawan Eropa, yang menjadi tantangan serius bagi industri pariwisata negeri Sakura tersebut.
(last modified 2026-04-19T08:49:21+00:00 )
Apr 19, 2026 15:47 Asia/Jakarta
  • Industri pariwisata Jepang
    Industri pariwisata Jepang

Pars Today - Meskipun mencatat rekor kedatangan wisatawan asing ke Jepang, laporan menunjukkan bahwa perang agresif AS dan rezim Zionis terhadap Iran serta perkembangan terkait Selat Hormuz telah menyebabkan pembatalan reservasi, terutama oleh wisatawan Eropa, yang menjadi tantangan serius bagi industri pariwisata negeri Sakura tersebut.

Melaporkan dari harian Japan Times, IRNA pada Minggu, 19 April 2026, meskipun Jepang bulan lalu mencatat rekor kedatangan wisatawan asing, dampak ekonomi dari perang AS-Israel terhadap Iran mulai terlihat secara bertahap pada industri pariwisata negara ini.

Meningkatnya biaya perjalanan antara Eropa dan Jepang akibat kelanjutan krisis Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan pembatalan perjalanan oleh wisatawan Eropa.

4.000 Reservasi Dibatalkan di Wilayah Hida-Takayama

Laporan menunjukkan bahwa pembatalan sejumlah penerbangan antara kota-kota Eropa dan Jepang yang melalui rute Timur Tengah telah meningkatkan permintaan untuk penerbangan langsung. Bersamaan dengan kenaikan harga bahan bakar, biaya tiket pesawat pun ikut melambung.

Akibatnya, daerah-daerah wisata populer di kalangan wisatawan Eropa mengalami penurunan reservasi. Di wilayah Hida-Takayama, Prefektur Gifu, dekat Desa Bersejarah Shirakawa-go yang masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, sekitar 4.000 reservasi di hotel dan penginapan telah dibatalkan sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Sebagian besar pembatalan berasal dari wisatawan Eropa.

Kerugian Sulit Diganti

Minoru Nakahata, seorang pejabat dari Asosiasi Penginapan dan Hotel wilayah tersebut, mengatakan bahwa kehilangan pengunjung dari Eropa secara tiba-tiba sangat menyakitkan karena pendapatan yang hilang tidak akan mudah digantikan oleh wisatawan dari negara lain.

Ia menambahkan bahwa memprediksi situasi jangka pendek sangat sulit. Berbeda dengan wisatawan domestik, wisatawan asing tidak dapat memutuskan untuk bepergian secara spontan.

Kota Takayama pada tahun 2025 menjadi tuan rumah bagi lebih dari 978.000 wisatawan asing, meningkat 27,1 persen dari tahun sebelumnya. Lebih dari 220.000 di antaranya berasal dari Eropa.

Penurunan Wisatawan Eropa dan Timur Tengah Diprediksi

Saki Iwata, peneliti di Sumitomo Mitsui Trust Institute, memprediksi bahwa dalam beberapa bulan mendatang, jumlah wisatawan dengan penerbangan jarak jauh, terutama dari Eropa dan Timur Tengah, akan menurun.

Ia menekankan bahwa sebagian besar wisatawan yang datang ke Jepang berasal dari Asia. Potensi penurunan di kelompok ini dapat berdampak lebih besar pada industri pariwisata Jepang secara keseluruhan.

Jepang menjadi tuan rumah banyak wisatawan ulangan dari Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, dan Hong Kong. Namun, wisatawan baru dari kawasan lain mungkin menunda atau membatalkan perjalanan mereka karena kondisi geopolitik saat ini.

"Orang yang belum pernah mengunjungi suatu negara cenderung memiliki ikatan emosional yang kecil dan mungkin tidak memiliki alasan kuat untuk berkunjung, terutama mengingat kondisi geopolitik saat ini," kata Iwata.

Wisatawan Tiongkok Turun 56 Persen

Penerbangan jarak pendek dari Asia Timur umumnya jauh lebih murah daripada penerbangan jarak jauh dari Eropa. Meskipun jumlah wisatawan asing pada bulan Maret mencatat rekor baru 3,6 juta orang, jumlah wisatawan Tiongkok mengalami penurunan 56 persen, disebabkan oleh ketegangan bilateral dan rekomendasi Beijing kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.

Beberapa wisatawan dari negara lain, termasuk AS, mungkin memilih Jepang sebagai tujuan alternatif. Namun, pejabat lokal menyatakan bahwa mereka berupaya menarik lebih banyak wisatawan asing selama musim panas dengan mengambil berbagai langkah.

Perang di Timur Tengah, yang jauh dari pantai Jepang, ternyata mampu mengganggu industri pariwisata negeri Sakura. 4.000 reservasi batal, wisatawan Eropa mengurungkan niat, dan biaya perjalanan melambung.

Jepang memang tidak ikut perang, tetapi ia tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Rantai pasok global terganggu, harga energi naik, dan turis berpikir ulang untuk bepergian jauh.

Ironisnya, wisatawan Tiongkok, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pariwisata Jepang, justru menurun drastis karena faktor bilateral, bukan karena perang. Sementara wisatawan Eropa, yang datang dari jauh, mulai menghitung ulang biaya perjalanan mereka.

Perang tidak hanya menghancurkan kota, tetapi juga meruntuhkan rencana liburan keluarga di belahan dunia lain. Itulah "keajaiban" globalisasi yang tidak pernah diundang.(sl)