Krisis Kemenhan Inggris: Dari Korupsi Miliaran hingga Sarang Pelecehan Seksual
https://parstoday.ir/id/news/world-i190662-krisis_kemenhan_inggris_dari_korupsi_miliaran_hingga_sarang_pelecehan_seksual
Pars Today – Seiring dengan klaim pemerintah Inggris mengenai perlunya peningkatan belanja pertahanan di tengah perpecahan trans-Atlantik dan berlanjutnya perang di Ukraina, laporan-laporan resmi dan parlemen mengungkap adanya korupsi finansial, pelanggaran seksual, pencurian peralatan, serta kelemahan pengawasan yang mendalam di Kementerian Pertahanan negara tersebut.
(last modified 2026-05-30T12:50:23+00:00 )
May 30, 2026 19:47 Asia/Jakarta
  • Militer Inggris
    Militer Inggris

Pars Today – Seiring dengan klaim pemerintah Inggris mengenai perlunya peningkatan belanja pertahanan di tengah perpecahan trans-Atlantik dan berlanjutnya perang di Ukraina, laporan-laporan resmi dan parlemen mengungkap adanya korupsi finansial, pelanggaran seksual, pencurian peralatan, serta kelemahan pengawasan yang mendalam di Kementerian Pertahanan negara tersebut.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRNA, Komite Akun Publik Parlemen Inggris dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa Kementerian Pertahanan Inggris menghadapi risiko korupsi dan kejahatan ekonomi sekitar 1,5 miliar pound per tahun, namun tidak menunjukkan fokus dan kepemimpinan yang memadai untuk mengatasinya.

 

Berdasarkan laporan tersebut, Kementerian Pertahanan Inggris dalam empat tahun terakhir rata-rata menghabiskan 5,7 juta pound per tahun untuk mendeteksi dan memerangi penipuan serta kejahatan ekonomi, namun hasil dari upaya ini dinilai sangat rendah.

 

Salah satu titik kelemahan utama di Kementerian Pertahanan Inggris adalah pada sektor kontrak dan pengadaan pertahanan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa kementerian ini menghabiskan puluhan miliar pound setiap tahun untuk kontrak militer, dan sebagian besar kasus korupsi juga ditemukan di sektor ini.

 

Geoffrey Clifton-Brown mengkritik keras kinerja Kementerian Pertahanan dan menyatakan bahwa kementerian tersebut gagal melindungi dana publik. Ia menambahkan bahwa selain potensi kerugian korupsi sebesar 1,5 miliar pound, terdapat juga 1,6 miliar pound lainnya yang hilang akibat proyek-proyek yang dibatalkan.

 

Selain korupsi finansial dan pelanggaran seksual, masalah pencurian dan hilangnya peralatan juga menjadi bagian dari lemahnya manajemen di Kementerian Pertahanan.

 

London dalam beberapa tahun terakhir berusaha menampilkan diri sebagai aktor utama dalam rekonstruksi keamanan Eropa, dukungan terhadap Ukraina, dan peningkatan kesiapan militer NATO. Namun data resmi dan parlemen menunjukkan bahwa di dalam struktur pertahanan Inggris terdapat berbagai masalah yang tidak sejalan dengan klaim besar mengenai kekuatan, daya tangkal, dan kesiapan militernya. (MF)